Relawan PBB | Sosial | DW | 09.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Relawan PBB

Permohonan untuk menjadi relawan PBB masih meningkat. Menjadi relawan tidak menghasilkan banyak uang namun membawa pengalaman berharga.

Relawan PBB yang menjadi pengawas dalam Pemilu di Timor Leste

Relawan PBB yang menjadi pengawas dalam Pemilu di Timor Leste

Relawan PBB sebagian besar laki-laki, berusia di bawah 40 tahun, lulusan sekolah tinggi dan memiliki pengalaman kerja lima sampai 10 tahun. Tugas bagi relawan berlangsung antara dua sampai tiga tahun, namun ada juga yang hanya beberapa minggu atau setengah tahun. Relawan PBB atau United Nations Volunteers, disingkat UNV, ditempatkan di seluruh dunia. Joyce Yu, ketua program relawan, menyebut beberapa dari 115 pekerjaan para relawan.

Yu: "Kami punya manajer sumber daya manusia, kami punya banyak sekali pekerja medis, dokter, perawat, petugas kesehatan masyarakat, pakar demografi, guru, petugas pembangunan dan kami mengirim banyak pekerja pengembangan komunitas untuk bekerja dalam proyek-proyek pembangunan pedesaan dan kawasan urban."

Saat ini 6000 kandidat potensial berada di daftar tunggu yang dihimpun PBB dengan seksama. Pelamar harus fleksibel, tidak seorangpun tahu kapan dan dimana ia dibutuhkan. Ada yang dua hari setelah melamar menerima penempatan, ada yang harus menunggu dua tahun. Saat ini ada 8 ribu relawan yang membawa nama PBB di seluruh dunia, lebih dari separuhnya bertugas mengamankan perdamaian dan mendukung penyelenggaraan pemilu di wilayah-wilayah krisis, Afganistan, Chad, Liberia, Haiti, Darfur, Timor Leste, atau yang baru-baru ini, di Kongo.

Satu sampai dua tahun, itu waktu yang lama untuk sebuah tugas sukarela. Namun gaji yang diterima juga tidak banyak. Semua menerima gantirugi yang paling tidak menutup biaya hidup. Satu hal yang membuat relawan lebih kaya adalah pengalaman, yang bisa sangat berguna sepulangnya relawan ke negara asalnya.

Dulu relawan dikirim ke negara-negara yang meminta bantuan pada PBB, untuk kemudian ditarik pulang setelah tugasnya selesai. Pada 2001, tahun relawan sedunia, Organisasi PBB memperluas mandatnya, yaitu juga memobilisasi petugas bantuan nasional, atau relawan dari negara bersangkutan.

Penyusunan organisasi relawan nasional berdasar motto: bantuan untuk membantu diri sendiri. Dan upaya itu tampaknya membuahkan hasil. Jika dulu kebanyakan relawan berasal dari negara-negara industri, maka sementara ini situasinya terbalik, kata Joyce Yu. Sekarang, 70% dari relawan PBB berasal dari negara-negara berkembang. Sepertiganya bekerja di negara mereka sendiri sebagai relawan nasional dan sisanya dikirim ke seluruh dunia.

Kekhawatiran bahwa akan semakin sedikit relawan PBB yang bersedia dikirim ke pelosok dunia, tidak dirasakan oleh Joyce Wu. Ada tradisi lama yang berlaku di seluruh negara di dunia ini, yaitu membantu negara tetangga dan mendampingi orang yang tertimpa kemalangan. Dan Organisasi PBB mengamati, tren tersebut bahkan terus meningkat.