1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Presiden Volodymyr Zelenskyy
Presiden Volodymyr Zelenskyy ingin Ukraina dibangun kembali sebagai negara paling aman dan paling bebas di EropaFoto: Ukrinform/dpa/picture alliance
KonflikEropa

Rekonstruksi Ukraina sebagai Negara 'Paling Bebas' di Eropa

5 Juli 2022

Presiden Volodymyr Zelenskyy melalui rekaman video pada Senin (04/07) malam memperingatkan dunia agar tidak menunggu sampai akhir invasi militer Rusia untuk mulai membangun kembali infrastruktur Ukraina yang hancur.

https://www.dw.com/id/rekonstruksi-ukraina-sebagai-negara-paling-bebas-di-eropa/a-62360220

Presiden Volodymyr Zelenskyy mengatakan perlu untuk mulai persiapan menghadapi musim dingin dari sekarang, paling tidak dalam hal memastikan pasokan energi yang dapat diandalkan. Hal itu ia katakan mengingat puluhan ribu rumah yang hancur akibat invasi pasukan Rusia, berhasil direbut kembali oleh pasukan Ukraina.

Zelenskyy mengatakan sebagian besar ekonomi Ukraina telah terhenti akibat perang, seraya menambahkan rekonstruksi Ukraina harus lebih dari sekadar membangun kembali tembok.

"Ukraina harus menjadi negara paling bebas, paling modern, dan paling aman di Eropa," upcap Zelenskyy.

Presiden Ukraina itu hanya sedikit membahas serangkaian tindakan militer Rusia baru-baru ini di wilayah Donbass, yang membuat pasukan Ukraina terpaksa meninggalkan kota Lysychansk pada akhir pekan, ketika pasukan Rusia merebut kendali mereka atas wilayah Luhansk.

Pasukan Ukraina menimbulkan kerugian pada militer Rusia setiap hari, Zelenskyy menekankan: "Kita harus menghancurkan mereka." Ini akan memakan waktu dan "usaha manusia super," katanya, seraya menambahkan bahwa tidak ada alternatif lain jika masa depan Ukraina ingin lebih aman.

Ukraina usulkan rekonstruksi pakai aset Rusia yang disita

Perdana Menteri Ukraina Denys Shmyhal pada hari Senin (04/07) menyarankan agar aset Rusia yang disita sebagai akibat dari sanksi Barat untuk digunakan membiayai rekonstruksi pascaperang Ukraina.

"Aset beku Rusia menurut berbagai perkiraan berkisar antara 300 hingga 500 miliar dolar AS," kata Shmyhal kepada delegasi Konferensi Pemulihan Ukraina di kota Lugano, Swiss, Senin (04/07).

"Otoritas Rusia melancarkan perang berdarah ini, mereka menyebabkan kehancuran besar-besaran, dan mereka harus bertanggung jawab atas itu," tambah Shmyhal, seraya mengatakan bahwa Ukraina akan membutuhkan sekitar 750 miliar dolar AS untuk membangun kembali infrastrukturnya setelah perang.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menjanjikan bantuan untuk rekonstruksi UkrainaFoto: Fabrice Coffrini/AFP/Getty Images

Mereka yang hadir dalam Konferensi Internasional Pemulihan Ukraina di Swiss, termasuk Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, berjanji bahwa Uni Eropa siap membantu Ukraina mendanai rekonstruksi.

"Eropa memiliki tanggung jawab khusus dan kepentingan strategis untuk berada di pihak Ukraina di setiap langkah," kata von der Leyen dalam konferensi tersebut.

Menjelang pertemuan, para ahli telah memperingatkan bahwa upaya rekonstruksi sangat dibutuhkan, meskipun yang lain memperingatkan bahwa penyitaan aset Rusia dengan cara seperti itu akan bermasalah secara hukum.

"Ukraina adalah negara besar, banyak yang telah hancur...Anda tidak dapat segera mulai merencanakan dan mengoordinasikan rekonstruksi," ujar Markus Berndt, Kepala Departemen Eksternal Bank Investasi Eropa, kepada dpa.

Ukraina sangat membutuhkan bantuan untuk mengamankan layanan dasar seperti air bersih, pembuangan limbah, energi, dan akses internet untuk memastikan stabilitas makroekonomi, kata Berndt.

"Kami membutuhkan investasi, jika tidak ekonomi akan runtuh sepenuhnya dan kemudian kami akan kehilangan pilar terpenting untuk rekonstruksi," tambahnya.

Fokus Putin setelah merebut Lysychansk

Ketika para pemimpin Barat di Lugano melihat ke masa depan, Presiden Rusia Vladimir Putin tetap sangat fokus pada perang yang terjadi saat ini, seraya mengumumkan bersama Menteri Pertahanan Sergei Shoigu bahwa pasukannya akan melanjutkan "operasi khusus" mereka di Ukraina setelah merebut kota Lysychansk pada Minggu (03/07).

Shoigu mengatakan bahwa lebih dari 2.200 tentara Ukraina telah tewas dan lebih dari 3.200 terluka dalam pertempuran untuk Luhansk, meskipun tidak ada cara untuk memverifikasi angka-angka itu secara independen.

ha/pkp (dpa)