Rekaman Baru Pembantaian di Irak | Fokus | DW | 03.06.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Rekaman Baru Pembantaian di Irak

Menurut sebuah laporan pemancar televisi Inggris BBC, tentara Amerika Serikat di Irak diduga bertanggung jawab atas sebuah pembantaian lain di negara itu.

Tentara AS di Irak, makin buruk citranya

Tentara AS di Irak, makin buruk citranya

Belum tuntas penyelidikan skandal pembantaian 24 warga Irak di Haditha, muncul tuduhan baru terhadap tentaran Amerika Serikat. BBC telah menayangkan sebuah rekaman video yang menurut keterangan kepolisian Irak, memperlihatkan pembunuhan di Ishaqi, Maret yang lalu dan telah menewaskan sebelas warga.

Sekitar enam bulan menyusul dugaan pembantaian di Haditha, Irak, penyidik angkatan bersenjata AS menyatakan akan melakukan pemeriksaan menyeluruh. Sementara itu, di Samarra seorang saudara laki-laki dari seorang korban mengatakan akan menuntut angkatan bersenjata Amerika Serikat di pengadilan atas pembunuhan keluarganya.

Kepada kantor berita AFP pria yang bernama Raddam el Aswadi itu menceritakan, seorang penembak jitu dari pasukan elit AS menewaskan ibu dan saudara perempuannya dengan tembakan di kepala, ketika mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit, karena saudaranya akan melahirkan. Saat itu mereka kebetulan berada di sebuah jalan yang ditutup dan kemudian terjadilah penembakan tragis itu.

Sementara pemancar televisi Inggris BBC menayangkan rekaman video yang menunjukkan sebelas mayat warga Irak dengan luka tembak. Di antaranya terdapat lima anak-anak dan empat perempuan. Mereka ditembak di Ishaqi, sebuah desa di dekat Baghdad. BBC mengaku mendapatkan rekaman video Ishaqi dari kelompok Sunni yang bergaris keras. Hingga kini masih belum ditemukan indikasi yang menyatakan video itu asli. Seorang juru bicara angkatan bersenjata AS di Irak mengatakan akan menyelidiki kasus tersebut.

Pemerintah AS hingga kini menyatakan, baku tembak di Ishaqi telah menyebabkan runtuhnya sebuah rumah yang mengakibatkan tewasnya dua perempuan, seorang anak dan seorang tersangka ekstremis. Sedangkan dalam laporan kepolisian Irak tercantum bahwa tentara AS mengumpulkan sejumlah warga, lalu menembak secara sembarang sebelas dari warga tersebut.

Presiden AS George W. Bush Kamis (1/6) lalu menjanjikan pemeriksaan yang menyeluruh dan hasilnya akan dibeberkan untuk umum. Dia mengatakan, tuduhan itu sangat mengkhawatirkan angkatan bersenjata AS dan dirinya sendiri. Seorang juru bicara pasukan koalisi di Irak, Mayor Jenderal Thomas Caldwell mengemukakan, kasus Haditha bukanlah satu-satunya kasus di mana tentara AS diperiksa. Dia melanjutkan bahwa sedikitnya tiga penyidikan sedang berlangsung saat ini.

Sementara itu pihak militer AS mengumumkan akan mengadili tujuh infanteris marinir dan seorang anggota pasukan marinir AS atas tuduhan pembunuhan seorang warga Irak akhir April yang lalu. Di markas besar Cam Pendleton di California, delapan tentara AS ditangkap atas dakwaan pembunuhan, penculikan dan konspirasi.

Juru bicara Partai Hijau Jerman, Volker Beck mengatakan bahwa rangkaian insiden itu sangat mengkhawatirkan dan meminta AS untuk memeriksa tuduhan-tuduhan tersebut selengkapnya.