Reformasi Dewan Keamanan PBB | Fokus | DW | 23.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Reformasi Dewan Keamanan PBB

Sekretaris Jendral PBB Ban Ki Moon berusaha melanjutkan upaya reformasi dan peluasan keanggotaan Dewan Keamanan.

default

Ada sesuatu yang menarik dalam sidang umum PBB tahun ini. Menurut Duta Besar Jerman di PBB Thomas Matussek, sidang yang dihadiri 192 negara anggota PBB tersebut sedang berupaya menghidupkan kembali rencana perluasan keanggotaan Dewan Keamanan. Ini mungkin kesempatan terakhir bagi Jerman. Matussek berujar:

„Saya telah menjelaskan model yang kami presentasikan merupakan model yang bagus. Kami juga siap untuk melihat model yang lain, syaratnya model itu harus sesuai dengan tujuan kami, yaitu Dewan Keamanan harus sesuai dengan keadaan politis dunia saat ini.“

Reformasi Dewan Keamanan PBB merupakan suatu lompatan besar bagi dewan 15 negara setelah perang dunia kedua: yaitu lebih melibatkan Afrika, Amerika Selatan dan Asia. Sebenarnya ini sudah menjadi tuntutan sejak lama. Hal yang baru adalah wakil Jerman tidak lagi bersikeras, bahwa Jerman otomatis menjadi anggota tetap dalam Dewan Keamanan yang baru di samping Jepang, Brazil, dan India. Tapi gebrakan ini belum diputuskan dalam perdebatan mengenai reformasi.

Thomas Matussek: „Saya mengetahui saat ini terjadi penambahan jumlah Negara anggota. Artinya, harus dipikirkan bagaimana penyusunan komposisi anggota tetap dan tidak tetap Dewan Keamanan PBB sepuluh atau 20 tahun lagi tanpa prasangka.“

Maksud Matussek, penambahan anggota Dewan Keamanan bukan berarti pemberian hak veto kepada anggota baru. Masalah juga berkisar mengenai berapa banyak jumlah anggota Dewan Keamanan yang baru. Ia mengatakan:

„Kami yakin, bahwa harus beranggotakan kira-kira 25 negara. Dengan itu tercapailah jumlah perwakilan yang cukup. Kurang dari itu akan sulit.”

Kekurangan seperti itulah yang sebenarnya coba diwujudkan oleh pemegang hak Veto Amerika Serikat. Washington menolak mentah-mentah perluasan besar-besaran keanggotaan Dewan Keamanan. Pemerintah AS menuntut paling banyak 21 negara yang menjadi anggota Dewan Keamanan. Jadi hanya 21 anggota atau tidak sama sekali.

Menariknya, Sekretaris Jenderal Ban Ki Moon justru bersikap hati-hati. Ban bersedia membantu lebih banyak dalam perundingan mengenai reformasi tapi tetap dalam posisi netral. Ban juga tidak mau memihak Jerman.

Ban Ki Moon: „Saya memahami keinginan dan upaya Jerman untuk menjadi anggota tetap Dewan Keamanan. Dampak perubahan drastis dalam situasi politik 60 tahun belakangan ini menjadi alasan penting perluasan Dewan Keamanan.“

Reformasi tersebut berlangsung cepat. Menurut Thomas Matussek:

„Jika kami ingin membawa isu reformasi ke Sidang Umum, setidaknya kami harus menyiapkan hal dasar akhir Maret ini.“