Rebutan Bertugas di Timor Leste | Fokus | DW | 21.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Rebutan Bertugas di Timor Leste

Empat tahun sejak merdeka, Timor Leste mengalami serangkaian kerusuhan. PBB baru saja memperpanjang masa tugas pasukan internasional yang dipimpin Australia. Perlukah pasukan perdamaian PBB dikirim?

Seorang tentara Australia berusaha menenangkan warga yang bertikai, 30 Mei lalu

Seorang tentara Australia berusaha menenangkan warga yang bertikai, 30 Mei lalu

Hanya beberapa minggu setelah dibentuknya pemerintahan Timor Leste yang kedua oleh Perdana Menteri, Jose Ramos Horta, kerusuhan kembali merebak di Dili. Belum jelas berapa persisnya rumah warga yang terbakar. Angka yang dilaporkan antara enam hingga 50 rumah. Yang pasti setelah kerusuhan di Dili akhir pekan ini, pasukan internasional menahan sekitar 25 orang remaja. Sebagian besar bersenjatakan ketapel, panah, tombak dan parang. Sementara ratusan rumah masih kosong, sejak ditinggalkan penghuninya saat kerusuhan di awal Mei lalu, yang meledak akibat sengketa dalam tubuh militer Timor Leste. Sampai sekarang hanya segelintir pengungsi yang sudah pulang, ratusan ribu orang lainnya masih tinggal di kamp pengungsi. Menurut mantan komandan pasukan perdamaian PBB, Mike Smith, yang sekarang bekerja untuk organisasi bantuan Austcare, banyak pengungsi yang masih ketakutan.

"Yang paling penting itu keamanan. Masyarakat harus yakin, bahwa dirumahnya nanti, mereka akan aman. Artinya, harus ada satuan kepolisian yang bisa menjamin dan menjaga keamanan. Masih banyak senjata yang tersebar dalam masyarakat. Keamanan masih merupakan aspek terpenting.“

Jumat (18/08) lalu, Dewan Keamanan PBB memutuskan untuk memperpanjang masa tugas pasukan internasional pimpinan Australia, yang seharusnya hanya sampai akhir pekan ini. Selain itu juga mempertimbangkan pengiriman misi perdamaian PBB ke Timor Leste. Pembahasan pengiriman pasukan perdamaian PBB diwarnai oleh perselisihan kepentingan antara PBB dan Australia. Negara tetangga ini ingin tetap memegang kendali pasukan international di Timor Leste. Tampaknya Australia khawatir, pasukan perdamaian PBB tidak akan cukup cepat untuk menangani situasi yang berkembang di Timor Leste. Pendapat ini juga dikemukakan Joao Saldana, Direktur Pusat Studi Pembanguan Timor Leste.

Bila berbicara soal fleksibilitas dan mobilitas, maka alasan cukup kuat untuk mempertahankan pasukan Australia di sini. Banyak yang lebih mudah bila komando berada di satu tangan. Kelemahan pasukan komando PBB dapat dilihat dari pengalaman tahun 2004. Ketika terjadi kerusuhan, pasukan itu harus menunggu 24 jam untuk mendapatkan lampu hijau dari New York. Selain itu, Australia jauh lebih mengerti situasi politik, ekonomi dan keamanan yang berkembang di Timor Leste.“

Dalam pasukan internasional yang berada di Timor Leste sekarang terjadi perpecahan. Radio Australia menyebutkan, pasukan dari Malaysia, Portugal dan Selandia Baru yang berada di Timor Leste sejak kerusuhan di bulan Mei, menginginkan agar kepemimpinan pasukan dialihkan ke tangan PBB.