Reaktor Nuklir Korut Tetap Beroperasi | Fokus | DW | 14.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Reaktor Nuklir Korut Tetap Beroperasi

Sabtu (14/04) batas waktu 60 hari bagi Korut berakhir. Itulah kesepakatan antara negara itu dan kelima mitra perundingannya. Tetapi reaktor Yongbyon masih tetap beroperasi. Apa masalahnya?

Presiden Korut Kim Jong Il

Presiden Korut Kim Jong Il

Kesabaran adalah salah satu kebajikan yang dianggap penting di Asia. Tetapi kesepakatan dengan Korea Utara, yang semaunya sendiri dan keras kepala, bagi negara-negara Asia pun membuhkan kesabaran yang luar biasa.

Selama empat tahun AS, Cina, Rusia, Korea Selatan dan Jepang berunding dengan Korea Utara. Akhirnya, pertengahan Februari lalu ditaktor di Pyongyang menyatakan setuju untuk menghentikan aktivitas reaktor nuklir Yongbyon. Sebagai imbalannya, negara komunis itu akan mendapat 50.000 ton minyak mentah, yang sejak beberapa pekan sudah siap diserahkan dari sebuah penyulingan di Korea Selatan.

Aktivitas Yongbyon Tidak Dihentikan

Tetapi hingga batas waktu 60 hari berakhir hari ini, Sabtu (14/04), reaktor nuklir tersebut tetap memproduksi plutonium yang dapat digunakan untuk membuat bom. Kembali negara-negara tetangga Korea Utara harus melatih kesabarannya. Korea Utara mengaku tidak bersalah. Departemen luar negeri di Pyongyang menyatakan Jumat kemarin (13/04), reaktor Yongbyon akan dihentikan operasinya, segera setelah Korea Utara dapat mengambil dana sejumlah 25 juta Dollar di sebuah bank.

Rekening Korea Utara tersebut bersama seluruh dananya dibekukan dua tahun lalu atas tekanan AS. Menurut hasil penyelidikan AS, rekening tersebut digunakan antara lain untuk pencucian uang. Akhir Maret lalu AS telah membebaskan dana 25 juta Dolar pada “Banco Delta Asia” di Makau tersebut. Tetapi pengembaliannya kepada Korea Utara ternyata tidak semudah dugaan. Bank-bank lain tidak bersedia menerima, karena takut dicurigai terlibat dalam pencucian uang. Jadi Korea Utara tetap belum mendapatkan dana tersebut.

Tambahan Waktu bagi Korut

Walaupun demikian, baik AS, Korea Selatan, Jepang maupun Cina mengira, Korea Utara tetap akan mematuhi batas waktu yang sudah ditetapkan dalam kesepakatan nuklir. Jururunding AS, Christopher Hill nampaknya sudah habis kesabaran. Ia menyatakan tidak mau menetapkan tanggal atau jam. Tetapi ia tidak akan menerima, jika Korea Utara memerlukan satu bulan lagi setelah batas waktu 60 hari berakhir.

Negara-negara lain nampaknya akan memberikan Korea Utara satu pekan lagi, untuk meneliti, apakah negara itu dapat memperoleh uangnya.

Sikap Tidak Bermusuhan

Tidak ada alasan untuk pesimis, demikian dinyatakan departemen luar negeri Korea Utara. Yang menyebabkan kesepakatan nuklir dapat tercapai adalah cara berbicara kedua belah pihak, yang sifatnya tidak bermusuhan. Padahal Korea Utara biasanya memaki-maki AS dan menyatakan negara itu sebagai penyebab semua masalah. Beberapa pekan belakangan pemerintah di Pyongyang menyatakan berkali-kali kesediaannya untuk mengurangi senjata nuklir. Selain menghentikan aktifitas reaktor Yongbyon, Korea Utara juga akan mengijinkan kedatangan pemeriksa nuklir PBB.

AS juga bersedia melonggarkan sikapnya. Dulunya AS menuntut agar dana 25 juta Dolar tersebut hanya digunakan untuk kepentingan kemanusiaan. Tuntutan itu ibaratnya tusukan jarum bagi diktator Kim Jong Il, karena diduga, rekening dan dana yang dibekukan itu adalah milik keluarga dan pendukung Kim Jong Il. Tuntutan inipun tidak disinggung lagi oleh AS. (ml)

  • Tanggal 14.04.2007
  • Penulis Martin Fritz
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CItO
  • Tanggal 14.04.2007
  • Penulis Martin Fritz
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CItO