Reaktor Air Berat Iran | Fokus | DW | 24.11.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Reaktor Air Berat Iran

Iran ingin memproduksi plutonium yang dapat digunakan sebagai senjata dan Badan Energi Atom, IAEA, juga diberitakan akan memberikan bantuan. Inilah yang secara seklias dapat dibayangkan tentang pertemuan dewan pemimpim IAEA di Wina.

default

Iran secara resmi telah mengajukan permintaan bantuan teknis untuk delapan proyek atom kepada IAEA. Juga untuk sebuah reaktor penelitian di Arak, sebuah reaktor air berat yang ketika berjalan secara otomatis memproduksi plutonium berbahaya. Terutama Amerika Serikat menuntut IAEA untuk menolak permintaan Teheran ini, seperti yang dijelaskan Matt Boland dari tim perunding di Wina.

Iran mempunyai hak untuk mendapatkan bantuan bagi program atom yang digunakan untuk kepentingan sipil, seperti negara-negara lainnya, jika mereka telah menandatangani perjanjian proliferasi. Hanya orang sudah tidak percaya, bahwa Iran dengan reaktor atomnya hanya akan memproduksi listrik dan bukan roket atom, yang sudah sejak lama dimiliki tetangga-tetangganya, seperti Pakistan, India dan Israel. Karena itu, kemungkinan permohonan bantuan bagi reaktor penelitian Arak akan ditolak.

Eropa juga mengkritik tuntutan baru Taheran ini. Kelompok EU3, yang terdiri dari Jerman, Inggris dan Prancis, sudah menghentikan perundingan langsungnya dengan Taheran, karena Iran tidak bergerak sama sekali dan tetap berpegang teguh pada proyek pengayaan uraniumnya, yang juga dapat menjurus ke produksi senjata. Masalah ini sampai sekarang didiskusikan oleh Dewan Keamanan PBB tanpa hasil, juga karena Rusia dan Cina sampai saat ini tetap menolak sanksi keras terhadap Iran.

Juga dalam dewan pemimpin IAEA, mayoritas yang stabil melawan Iran sulit dijaga. Dalam 30 negara perwakilan dewan IAEA, ada banyak negara berkembang yang sangat kritis mengamati apa yang akan dilakukan negara-negara industri dalam kasus Iran. Kuba, contohnya, akan mendukung Iran tanpa syarat, Brazil atau juga Afrika Selatan menuntut hak semua negara untuk dapat menggunakan energi atomnya secara independen.

Amerika Serikat perlahan-lahan menjadi semakin siap untuk berkompromi – tidak hanya sejak pemilihan kongres. Di Wina, utusan Washington dapat merasakan, bahwa sendiri dan tanpa sekutu, mereka tidak akan maju. Karena itu mereka tidak ingin berbicara tentang aksi sendiri atau pun kemungkinan serangan militer. Matt Bolad berkata: “Kami mencari sebuah pemecahan diplomatis. Kami bekerja erat dengan mitra-mitra kami – dengan Rusia, Cina dan negara-negara Eropa. Tentu saja masih banyak jalan diplomatis dah langkah-langkah yang memungkinkan. Dan kami ingin konsentrasi terhadap hal-hal ini.”

Pertemuan dewan pemimpin IAEA di Wina akan berlangsung sampai hari Jum’at (24/11) ini.