Reaksi PBB terhadap Laporan Atom Iran | Fokus | DW | 23.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Reaksi PBB terhadap Laporan Atom Iran

AS tak akan mengubah sikap, Sekjen PBB pertahankan dialog.

Markas besar PBB di New York

Markas besar PBB di New York

Laporan 6 halaman dari Wina, yang dengan segera dibagi-bagikan kepada pers oleh Kedutaan Besar AS di New York, bukan hanya berisi paragraf 28 yang menandaskan bahwa Iran tidak menghentikan aktivitas menyangkut pengayaan uranium.

Karena itu, perwakilan Moskow dan Cina di PBB membacanya secara cermat untuk kemudian diam seribu bahasa, karena sebagai penutup dokumen itu melaporkan kesediaan Iran untuk bekerjasama. Cukup bahan untuk debat panjang di DK. Dan posisi pemerintah AS sudah jelas.

Duta besarnya untuk PBB, Jacky Sanders mengatakan, "Saya pikir sudah jelas, mereka mengabaikan resolusi terakhir, maka tindakan yang masuk akal bagi kita setidaknya adalah menambah tekanan. Iran harus melihat sebuah masyarakat internasional yang berkoordinasi menunjukkan satu tujuan, guna menghentikan apa yang mereka kerjakan, yaitu mengembangkan senjata nuklir. "

Para pengamat memperkirakan debat di PBB akan berlangsung alot, lebih panjang dan sulit daripada resolusi nomor 1737 yang disahkan sebelum Natal tahun lalu. Saat itu, Rusia dan Cina dengan sangat terpaksa menyetujui sanksi yang sangat berhati-hati dan terarah.

Namun itu tidak mengubah fakta, bahwa paragraf 24c dalam kasus yang sekarang menuntut adanya resolusi baru tentang tindakan berikutnya, yaitu sanksi baru.

Tetapi, ketua DK PBB saat ini, Peter Burian dari Slowakia, sama sekali tidak sepakat dengan AS. Ia mengatakan, "Kita akan mencari tahu apakah ada kesamaan pendapat untuk memulai konsultasi bulan ini atau mungkin nanti-nanti.

Yang lebih bisa dipastikan adalah dilanjutkannya pertemuan tertutup antara 5 negara pemegang hak veto di PBB, plus Jerman yang saat ini mengetuai UE.

Di satu pihak, DK tak boleh kehilangan muka, tak boleh menunjukkan tanda-tanda kelemahan, begitu kata para diplomat.

Di pihak lain, bukan hanya Sekjen PBB Ban Ki Moon yang percaya, bahwa seperti pada kasus Korea Utara, sekarang adalah saatnya untuk melakukan perundingan langsung dengan Teheran.

Ban mengatakan, "Saya tidak bisa berkomentar apa-apa tentang langkah-langkah yang diambil pemerintah AS, tetapi solusi selalu bisa dilakukan, lewat dialog dan perundingan."

Agar tidak kelihatan seperti ‘bebek lumpuh’, tanpa terjebak dalam otomatisasi yang ditakutkan dan tanpa melanjutkan putaran spiral sanksi yang terus membesar, DK bisa terlebih dulu menuntut penerapan hal yang sudah diputuskan. Yaitu tindakan sanksi terarah dalam soal program rudal dan nuklir, serta membentuk komisi sanksi bagi Iran.