Reaksi Internasional | Fokus | DW | 29.05.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Reaksi Internasional

Menyusul gempa bumi hebat di wilayah Yogyakarta yang telah merenggut korban jiwa lebih dari empat ribu dan menyebabkan sedikitnya 20. 000 orang cedera, bantuan internasional mulai bergerak.

default

Menurut perkiraan Palang Merah Indonesia sekitar 200. 000 orang kehilangan tempat tinggal. Melalui suratnya kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Jerman Köhler dan Kanselir Angela Merkel masing-masing menyatakan belasungkawa rakyat Jerman bagi para korban bencana.

Organisasi-organisasi bantuan kemanusiaan di Jerman menyerukan warganya untuk menyumbang. Kementerian Luar Negeri Jerman di Berlin menyediakan bantuan segera sejumlah 500.000 Euro. Dana tersebut akan dipakai untuk berbagai proyek organisasi bantuan Jerman dengan mitra Indonesia di lokasi bencana, misalnya penyediaan fasilitas pengolahan air bersih mobil dari Palang Merah Jerman yang dapat mengakomodasi kebutuhan air minum untuk sekitar 20. 000 orang. Fasilitas itu sudah ada di Sumatra dan akan segera dipindahkan ke lokasi bencana di wilayah Yogyakarta. Proyek lain yang diutamakan menyangkut bantuan medis dan pembangunan tempat tinggal darurat.

Organisasi bantuan Gereja Jerman seperti Diakonie, Caritas maupun organisasi lainnya seperti Misereor dilaporkan telah berada di tempat kejadian. Diakonie menyediakan dana bantuan senilai 50.000 Euro. Caritas Internasional mengerahkan 15 dokter, 125 perawat dan ratusan relawan dan akan mengirimkan tim psikolog dari Jakarta. Bersamaan dengan bantuan medis, tim penyelamat dari berbagai organisasi bantuan ikut aktif mencari korban yang masih tertimbun reruntuhan bangunan. Menurut Caritas di Freiburg, yang sangat diperlukan adalah air minum, makanan, tenda dan pin untuk menyambung tulang yang patah.

Gempa bumi di wilayah Yogyakarta yang dinyatakan sebagai bencana di Indonesia yang terparah setelah tsunami 2004 lalu, telah menimbulkan reaksi cepat di berbagai pelosok dunia.

Dari Prancis dilaporkan, sebuah pesawat C-135 berangkat Minggu malam ke Indonesia membawa 40 personil medis dan pertolongan sipil. Selain itu juga diangkut obat-obatan, tenda, selimut dan peralatan penjernihan air. Pesawat kedua akan menyusul jika dibutuhkan. Demikian dikemukakan juru bicara pemerintah Prancis, Denis Simonneau.

Uni Eropa tidak ketinggalan menyatakan bantuannya sebesar tiga juta Euro. Program Pangan Dunia dari PBB, WFP, telah mengirimkan sebuah pesawat berisikan obat-obatan dan pangan. Juru bicara WFP Greg Barrow mengatakan hari Minggu kemarin:

“Saya kira, pada 48 jam pertama dari setiap gempa bumi, yang sangat diperlukan adalah penyelamatan korban. Operasi pencarian dan penyelamatan sedang di tengah jalan untuk bergabung dengan TNI. Bersamaan dengan itu WFP menyiapkan bantuan pangan bagi korban yang tidak dapat menyediakan makanan sediri karena rumah mereka hancur…..“

Sementara itu dari Jenewa, Swiss dilaporkan bahwa Kantor PBB untuk koordinasi bantuan kemanusiaan OCHA menyumbang 50. 000 dollar AS dan akan mengadakan pertemuan hari Senin ini (29/5) guna membicarakan bantuan kemanusiaan bagi korban gempa di wilayah Yogyakarta. Juru bicara OCHA Elisabeth Byrs mengemukakan bahwa PBB telah mengirimkan pesawat berisikan bantuan-bantuan.

Menteri Bantuan Pembangunan Inggris Hilary Benn mengatakan, bantuan dari negaranya akan diberikan sesegera mungkin. Presiden Rusia, Vladimir Putin juga menyatakan simpati yang mendalam atas penderitaan warga di daerah bencana.

Pernyataan serupa juga diberikan Presiden Cina, Hu Jintao dan Presiden Italia, Giorgio Napolitano. Pemerintah Italia memutuskan pengiriman sebuah pesawat terbang yang mengangkut bantuan darurat. Norwegia mengumumkan, tim bantuan medis bertolak ke Indonesia hari Minggu ini. Spanyol juga menyatakan kesediaan membantu. Sementara tim bantuan medis Turki sudah berada di dekat lokasi, karena telah ditempatkan di Indonesia sejak bencana Tsunami 2004 lalu.

Pemerintah Jepang juga mengirimkan tim penolong. Sementara negara tetangga Malaysia mengirimkan tim pelacak dan penyelamat, serta obat-obatan.

Pimpinan Gereja Katolik, Paus Benediktus ke16, yang sedang berada di Polandia mendoakan semua pihak yang harus mengatasi dampak bencana serta membesarkan semangat tim bantuan dan penolong untuk melanjutkan usaha mengurangi penderitaan korban. Tawaran bantuan pihak swasta juga berdatangan, antara lain dari Inggris, Perancis, Ceko, Yunani dan Swis.

Negara tetangga Australia telah memutuskan pengiriman bantuan senilai tiga juta dollar, jika perlu masih akan ditingkatkan. Demikian menurut Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer.