Raja Charles III Bertemu Trump di AS, Apa Saja yang Dibahas?
29 April 2026
Raja Charles III bersama istrinya, Ratu Camilla memulai kunjungan kenegaraan selama empat hari di Amerika Serikat (AS) sejak hari Senin (27/04).
Keduanya bertemu dengan Presiden AS Donald Trump dan Ibu Negara Melania Trump di Gedung Putih. Setelah jamuan teh, pasangan kerajaan itu juga berbincang dengan anggota kabinet AS dan tamu lainnya di Kedutaan Besar Inggris di Washington.
Kunjungan ini dilakukan dalam rangka memperingati 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat dari jajahan Inggris. Momen ini juga menegaskan hubungan erat kedua negara yang belakangan tampak kurang akur.
Trump singgung "hubungan spesial" dengan Inggris
Raja Charles III kembali bertemu Presiden Trump pada Selasa (28/04). Ia dan Ratu Camilla disambut langsung oleh Trump dan Melania.
"Dalam berabad-abad sejak kami merdeka, Amerika tidak memiliki sahabat yang lebih dekat daripada Inggris,” kata Trump dalam pidatonya.
Ia menambahkan kedua negara memiliki "hubungan spesial, dan berharap akan selalu demikian."
Sebelumnya, Trump sempat mengkritik posisi Inggris terkait Selat Hormuz dan menyebut dua kapal induk Inggris sebagai "mainan." Namun, ia akhirnya mentayakan bahwa "tidak ada yang bertempur bersama sebaik Amerika Serikat dan Inggris."
Raja Charles ingin mempererat kedekatan dengan AS
Dalam pidatonya di Kongres, Raja Charles menyerukan agar Inggris dan Amerika Serikat "memperbarui komitmen" terhadap hubungan yang telah terjalin lama.
"Hari ini, ribuan personel militer AS, petugas pertahanan, dan keluarga mereka ditempatkan di Inggris. Sementara personel Inggris bertugas dengan kebanggaan yang sama di 30 negara bagian Amerika," ujar Charles.
"Kami membangun F-35 bersama, dan telah menyepakati program kapal selam paling ambisius dalam sejarah: AUKUS."
Mengacu pada sejarah kedua negara, ia memperingatkan agar hubungan tersebut tidak ditinggalkan.
"Dari perpecahan pahit 250 tahun lalu, kita membangun persahabatan yang berkembang menjadi salah satu aliansi paling berpengaruh dalam sejarah manusia," tambahnya.
"Saya berdoa sepenuh hati agar aliansi kita terus mempertahankan nilai-nilai kemitraan kita. Juga dengan Eropa dan Persemakmuran di seluruh dunia. Mari kita mengabaikan usulan untuk menutup diri."
Charles juga menyinggung Ukraina. Ia meminta "perdamaian yang benar-benar adil dan berkelanjutan."
Raja Charles sepakat Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir
Dalam jamuan kenegaraan, Trump menyatakan bahwa Raja Charles III sepakat Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Trump juga mengatakan kepada Charles dan para tamu di Gedung Putih bahwa Iran telah "dikalahkan secara militer."
Pernyataan ini menjadi komentar publik pertamanya terkait Iran di tengah kunjungan kenegaraan sang raja.
"Kami telah mengalahkan lawan tersebut secara militer," kata Trump. Ia menambahkan, "Charles bahkan lebih sepakat dengan saya. Kami tidak akan pernah membiarkan Iran memiliki senjata nuklir."
Pidato Charles soroti isu lingkungan dan dialog antaragama
Dalam pidatonya, Charles menekankan soal isu lingkungan, yakni topik yang selama ini menjadi perhatiannya. Ia menyebut perlindungan alam sebagai "tanggung jawab bersama" dan "aset paling berharga dan tak tergantikan."
"Di tengah keindahan alam yang bisa dirasakan, generasi kita harus memutuskan bagaimana kita menghadapi kerusakan alam, yang dampaknya jauh lebih besar dari sekadar keseimbangan dan keberagaman hayati," kata Charles.
"Kita kerap mengabaikan alam. Padahal, ekonomi alam merupakan fondasi bagi kemakmuran dan keamanan nasional kita."
Charles juga menyinggung tentang pentingnya iman dan dialog antaragama dalam kehidupannya.
Ia juga menyebut agama Kristen sebagai "jangkar yang kokoh dan inspirasi sehari-hari," yang "membimbing kita bukan hanya secara pribadi, tetapi juga sebagai bagian dari komunitas." Ucapan ini sontak disusul dengan tepuk tangan meriah dari para anggota parlemen.
"Dari pengalaman hubungan antaragama dan pemahaman luas lainnya, saya menemukan bahwa iman akan selalu menang," lanjutnya.
"Saya percaya bahwa esensi dari kedua bangsa kita adalah kemurahan hati dan tanggung jawab untuk menumbuhkan kasih sayang, mempromosikan perdamaian, memperdalam toleransi, serta menghargai semua orang dari berbagai keyakinan," tutupnya.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Felicia Salvina
Editor: Adelia Dinda Sani