Putin Tuduh Barat Mau Campur Tangan | dunia | DW | 26.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Putin Tuduh Barat Mau Campur Tangan

Pidato kenergaraan Putin terakhir di parlemen diwarnai kecaman terhadap barat dan pembelaan diri terhadap kebijakan kerasnya menumpas oposisi

default

Presiden Rusia Vladimir Putin menuduh negara-negara barat berusaha melakukan campur tangan terhadap urusan dalam negeri Rusia. Dalam pidato kenegaraan di parlemen Rusia hari Kamis tadi, Putin mengatakan:

"Banyak yang tidak suka bahwa negeri kita berada dalam keadaan stabil, dan bergerak maju. Mereka berusaha memanfaatkan ideologi demokrasi untuk melakukan campur tangan secara langsung politik dalam negeri kita".

Putin bahkan secara eksplisit menyebut adanya dana dari luar negeri dalam jumlah raksasa, yang dialirkan untuk membiayai kelompok-kelompok oposisi.

Vladimir Putin jelas mengarahkan ucapannya kepada negara-negara Barat yang mendukung berbagai kelompok oposisi liberal yang beberapa waktu lalu menggelar demonstrasi anti pemerintah. Demonstrasi itu ditumpas secara keras. Para pemimpin oposisi, termasuk bekas juara dunia catur, Garry Kasparov, ditangkap.

Hal mengejutkan lain dari pidato Putin adalah seruannya untuk membekukan pakta pengurangan senjata konvensional tahun 1990. Alasannya, hanya Rusia dan 3 negara lain yang meratifikasi dan mematuhi perjanjian itu. Sedangkan negara-negara Pakta Pertahanan Atlantik Utara tidak.

"Saya mengusulkan agar kita menghentikan sementara pemenuhan kewajiban kita atas perjanjian pengurangan senjata konvensional itu. Karena kita telah menandatangani dan meratifikasi perjanjian itu. Namun bagaimana dengan negara-negara NATO? Tak ada yang meratifikasinya".

Perjanjian di masa Perang Dingin itu, mengharuskan penghancuran sekitar 60 ribu tank, artileri, kendaraan perang, pesawat tempur, helikopter dll, serta pengurangan jumlah tentara dari sekitar 6,5 juta menjadi di bawah 3 juta orang.

Kecaman lain dilontarkan Putin terhadap Amerika yang berencana memasang sistem rudal penangkis di Eropa, yang disebutnya merupakan ancaman bahaya nyata dan bisa memunculkan kejutan tak menyenangkan.

Di luar itu, yang banyak dibahas Putin dalam pidatonya adalah masalah politik dalam negeri dan keberhasilan ekonomi Rusia. Disebutkan Putin, Rusia tidak cuma berhasil menghentikan merosotnya produksi menyusul bubarnya Soviet, namun bahkan tumbuh menjadi negara nomor 10 dunia yang terkuat ekonominya.

Pidato kenegaraan Vladimir Putin ini mestinya berlangsung kemarin, namun ditunda sehubungan meninggalnya bekas presiden Boris Yeltsin. Ini merupakan pidato kenegaraan terakhir Vladimir Putin di parlemen. Karena tahun depan masa jabatannya berakhir, dan konstitusi tidak mengizinkannya untuk mencalonkan diri lagi. Beredar spekulasi ia akan mendesakan perubahan konstitusi, namun Vladimir Putin membantah.

Iklan