Protes Pembunuhan Wartawan Afghanistan | dunia | DW | 13.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Protes Pembunuhan Wartawan Afghanistan

Wartawan sekaligus penerjemah Afghanistan Adjmal Nakhshban dipenggal Taliban hari Minggu (08/04) lalu.

Adjmal bersama wartawan Italia Daniele Mastrogiacomo serta supirnya Sajed Agha, diculik 4 Maret yang lalu di Afghanistan selatan.

Sajed Agha dipenggal beberapa hari kemudian dengan tuduhan punya kontak dengan dinas rahasia Afghanistan. Sedangkan wartawan Italia Daniele dibebaskan 19 Maret lalu, setelah ditukar dengan lima tahanan pejuang Taliban. Pembunuhan Adjmal memicu kemarahan besar di kalangan wartawan dan masyarakat Afghanistan. Pemerintah negara itu dituduh ikut bertanggungjawab atas pembunuhan Adjmal. Selain itu dikatakan bahwa kebebasan pers di Afganistan secara serius terancam.

Wartawan di Afghanistan gusar. Mereka merasa dikhianati dan diterlantarkan, terutama oleh pemerintah di Kabul. Presiden Hamid Karsai dituduh tidak cukup bertindak untuk mengupayakan penyelamatan rekan wartawan mereka Adjmal Nakshbandi yang kepalanya dipenggal kelompok Taliban. Sejak hari pembunuhan, Minggu 8 April yang lalu, pertanyaan dilontarkan, mengapa pemerintah berunding dengan Taliban dalam kasus wartawan Italia Daniele Mastrogiacomo, tetapi tidak untuk Adjmal. Dalam pernyataan terbuka yang penuh emosi, Karsai dituding sebagai kakitangan negara barat yang lebih mementingkan kehidupan warga barat ketimbang warganya sendiri.

Shokria Barekzai, wartawati merangkap anggota parlemen, mengemukakan pendapat yang kini ada di benak orang-orang di Afghanistan: „Kami punya pemerintah yang tidak peduli dan tidak pernah memperhatikan kepentingan warga Afganistan secara serius dan tegas.“

Presiden Hamid Karsai yang mendapat kesulitan di dalam negeri, hingga kini nyaris tidak mengambil langkah untuk mengklarifikasi tuduhan itu. Sikap ragu ini oleh banyak pihak dinilai sebagai ciri khas Hamid Karsai yang dianggap tidak tegas. Ketua Ikatan Wartawan Nasional, Fasel Sancharaki mengomentari sikap pemerintah itu: „Menteri Kebudayaan dan Informasi tidak mau berbicara dengan kami. Tetapi pemerintah sekarang harus menerangkan kepada masyarakat mengenai kasus pembunuhan Adjmal Nakhshbandi. Banyak sekali pertanyaan, namun sayangnya tidak ada jawaban.“

Dengan berbagai ikatan pers lainnya, Fasel Sancharaki baru-baru ini mengorganisir aksi anti-Taliban di Kabul. Dia mengimbau media massa untuk selama seminggu tidak memberitakan Taliban. Kelompok radikal ini langsung menyikapi pemboikotan itu dengan mengancam akan menculik dan membunuh wartawan berikutnya. Rahimullah Samandar dari Ikatan Jurnalis: „Taliban menuntut agar tidak lagi disebut sebagai teroris atau penyulut bom melainkan sebagai pejuang Allah dan pejuang kemerdekaan. Jika tidak, tak seorang wartawan pun yang akan selamat.“

Menurut tokoh Ikatan Pers di Afghanistan, Fasel Sancharaki, kasus Adjmal itu membuktikan bahwa pemerintah tidak mampu melindungi wartawannya dari serangan Taliban. Selanjutnya dia mengatakan, pemerintah harus punya prinsip jelas untuk tidak berunding dengan teroris, karena itu hanya membuka peluang bagi penculikan berikutnya. Sancharaki menambahkan, semakin lama perang di Afghanistan, semakin sulit untuk membangun pers independen di negara itu.

Iklan