Program Bea Siswa Kerja Praktek di Parlemen Jerman | Sosial | DW | 17.03.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Program Bea Siswa Kerja Praktek di Parlemen Jerman

Parlemen Jerman atau Bundestag menawarkan kesempatan pengalaman kerja praktek bagi pemuda dari manca negara.

Suasana di dalam parlemen Jerman

Suasana di dalam parlemen Jerman

Kini semakin banyak jenis pekerjaan yang menuntut pengalaman luar negeri sebagai persyaratan utama. Terutama untuk bidang politik. Apakah itu profesi penasihat politik, wartawan politik atau staf organisasi internasional seperti Uni Eropa atau PBB. Parlemen Jerman Bundestag menawarkan pengalaman itu bagi pemuda dari manca negara dalam program Internationale Parlament-Stipendium, IPS. Hampir seratus penerima bea siswa melakukan kerja praktek selama 4 bulan di kantor para anggota parlemen di Berlin. Selain itu dalam berbagai seminar dan kunjungan mereka dapat mengenal Jerman dan sistim politiknya secara langsung.

Tanggal 8 Maret 2007 adalah hari pertama program Internationale Parlament Stipendium atau bea siswa kerja praktek di parlemen Jerman. Gedung Parlemen Jerman di Berlin masih terasa asing bagi para penerima beasiswa. Oleh sebab itu seorang petugas dari kantor parlemen Jerman membawa mereka ke sebuah ruangan untuk mendapat penjelasan. Beberapa hari mendatang mereka akan lebih mengenal lorong-lorong dan ruangan kantor di gedung tersebut. Lalu mereka akan mulai dengan hari-hari kerja di kantor salah seorang anggota parlemen. Semua penerima bea siswa sudah lulus kuliah dan kebanyakan sudah punya pengalaman luar negeri.

Pilihan kerja praktek di Jerman sudah lama menjadi incaran mereka, misalnya Renata Kossenko dari Moskow yang berusia 22 tahun

“Saya pikir Jerman menawarkan kesempatan terbesar bagi orang-orang dari luar negeri. Saya misalnya sudah ke-4 kalinya ke mari, ini bea siswa saya yang keempat. Sebelumnya saya sudah mendapat beasiswa untuk kursus bahasa Jerman dan praktek kerja jurnalistik. Saya tahu sedikit tentang Jerman dan karenanya saya menaruh minat besar terhadap Jerman.”

Semua penerima bea siswa fasih berbahasa Jerman. Karena hal itu merupakan syarat mengikuti program IPS. Selain itu semua calon harus lulus proses seleksi. Serhiy Serdyuk dari Ukraina mendengar program beasiswa parlemen Jerman saat berkunjung ke Berlin. Dan Serhiy Serdyuk mendaftar untuk program itu dari ibukota Ukraina Kiev

“Waktu itu saya pikir, mengapa tidak. Itu memang yang saya cari. Sungguh banyak yang harus dilakukan dalam proses melamar, banyak dokumen dan surat-surat yang harus dikirim dan persaingannya sangat berat, ya sungguh berat. Tapi saya terpilih dan merasa sangat puas.”

Selain Amerika Serikat dan Perancis, dari 20 negara yang menjadi titik berat program bea siswa ini adalah negara-negara Eropa Timur. Demikian dijelaskan anggota parlemen Jerman Wolfgang Börnsen. Ia sendiri setiap tahun menerima peserta program bea siswa di kantornya dan merupakan salah satu koordinator program IPS

“Mereka yang kami terima di Jerman untuk bekerja praktek pada umumnya wakil tokoh elit politik muda di negaranya. Di sini mereka akan lebih termotivasi untuk bekerja bagi negaranya, bagi kegiatan demokrasi dan bagi parlemen di negara asalnya. Ini adalah titik tolak istimewa bagi awal suatu keberhasilan.”

Program ini saling menguntungkan kedua belah pihak. Baik penerima bea siswa maupun anggota parlemen Jerman

Wolfgang Börnsen: “Jika ada seseorang dari Ukraina, yang untuk lima bulan lamanya bekerja sama dengan saya, ia akan memberi gambaran pribadi lain tentang Ukraina. Dan andil saya bagi negara ini maupun negara lainnya semakin diperkuat dengan perkenalan secara pribadi. Bea siswa seperti itu juga merupakan tambahan pengalaman bagi rekan kerja saya. “

Selama berada di Jerman para peserta program membentuk jaringan kerja internasional. Bahkan di Perancis dan Polandia sudah terbentuk program pertukaran bea siswa kerja praktek di parlemen bagi pemuda-pemuda Jerman. Di hampir 20 negara sudah pula terbentuk perhimpunan mantan penerima bea siswa. Dan bahkan banyak di antara mereka yang sekarang memegang jabatan penting di negaranya. Itu juga tujuan yang ingin dicapai Natasa Martinovic dari Montenegro. Di negaranya banyak struktur politik yang masih harus dibangun. Untuk itu Natasa Martinovic ingin membantu

“Montenegro tiba pada titik yang rawan dalam sejarahnya. Oleh sebab itu negara ini perlu menoleh ke Eropa. Selain itu dibutuhkan juga orang-orang muda berpendidikan dan berwawasan luas, untuk membawa negara ini ke arah yang positf dan dengan demikian menciptakan masa depan yang lebih baik di negaranya. Saya pikir, ini juga berlaku bagi penerima bea siswa lainnya.”

Sekitar 100 penerima bea siswa muda ini mendapat uang saku sebesar 450 Euro setiap bulannya atau sekitar 5 juta rupiah. Selain itu uang penginapan selama masa kerja praktek di Berlin ditanggung, demikian pula dengan biaya asuransi kesehatan dan jaminan sosial lainnya. Dan uang tiket pulang pergi ke Berlin pun diganti. Internationale Parlament-Stipendium atau program bea siswa kerja praktek di parlemen Jerman, sudah berlangsung sejak 20 tahun lalu. Program yang dibiayai parlemen Jerman atau Bundestag ini merupakan kerja sama dengan berbagai universitas di Berlin.