Prof. Kizilhan: Islam Harus Beradaptasi Jika Ingin Bertahan Seribu Tahun Lagi | Sosial | DW | 25.04.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Islam dan Modernitas

Prof. Kizilhan: Islam Harus Beradaptasi Jika Ingin Bertahan Seribu Tahun Lagi

Sebagaimana Islam menanggalkan perbudakan, kaum Muslim dinilai harus bisa beradaptasi terhadap nilai-nilai modern seperti kesetaraan gender, kebebasan individu dan kemanusiaan, kata Prof. Jan Ilhan Kizilhan.

Di masa ketika Paus melakukan lawatan ke negara-negara Islam untuk mencari dialog dengan kaum Muslim dan ketika ratapan korban aksi teror masih mengiang di telinga, isu "Trauma dan Perubahan di dalam Islam" menjadi lebih mendesak untuk dibahas. Prof. Dr. Dr. Jan Ilhan Kizilhan yang menggawangi bidang penelitian Psikiatri Transkultural dan Traumatologi di Jerman memprediksi bahwa Islam harus beradaptasi agar tetap relevan di dunia yang semakin dinamis.

Dalam perbicangan dengan DW dia menegaskan tekanan sosial demi kebebasan individu serta kesetaraan gender akan semakin besar dan sulit diredam.

Simak kutipan lengkapnya berikut ini.

DW: Gerakan ekstrimisme Islam menjadi pusat perhatian publik dan media sejak beberapa tahun terakhir. Kebanyakan di antaranya adalah kaum muda. Kenapa justru pemuda lebih mudah menerima ide radikal dan bahkan mengagungkan kekerasan? Apa artinya untuk masa depan kaum muda dan posisi mereka di masyarakat internasional?

Prof. Dr. Dr. Jan Ilhan Kizilhan

Prof. Dr. Dr. Jan Ilhan Kizilhan

Prof. Jan Ilhan Kizilhan: Semakin muda usia bocah dan remaja, semakin mudah mereka dipengaruhi. Mereka masih berada di dalam tahap pertumbuhan dan terkait soal identitas, mereka dihadapkan pada pertanyaan tentang "siapa aku?" atau "di mana posisiku?" dan "apa pesan utama agamaku?".

Ketika faktor-faktor ini bersanding dengan masalah ekonomi, seperti perekonomian yang buruk atau tingkat dan kualitas pendidikan yang tidak memadai dan bahwa di banyak negara penggunaan kekerasan masih tinggi, atau lemahnya demokrasi di negeri sendiri, maraknya kedzhaliman dan korupsi, kaum muda dan remaja akan mencari solusi untuk diri sendiri. Mereka akan menilai negara dan masyarakat lemah. Lalu datanglah organisasi radikal yang menjanjikan kekuatan dan identitas dalam perang melawan kaum imperialis, melawan musuh dari luar.

Secara internasional ini berarti bahwa organisasi radikal menggunakan istilah-istilah dan konten keislaman yang dicatut dari Al-Quran. Di sinilah muncul kean bahwa aksi teror dilancarkan atas nama Islam, sesuatu yang tentunya keliru. Tapi pada saat yang bersamaan, hal tersebut mengarah pada situasi, di mana dunia barat membangun sikap yang negatif terhadap Islam, bahwa Islam berkonotasi negatif dan ikut membudayakan kekerasan. Itu juga berarti, organisasi-organisasi teror dan kaum muda yang ikut bergabung bersama mereka turut menyumbang bahwa reputasi Islam menjadi sangat negatif.

DW: Sejauh apa tindakan prefentif melawan radikalisasi dan budaya kekerasan bisa diwujudkan? Sudah adakah program pencegahan radikalisme dan budaya kekerasan?

Prof. Jan Ilhan Kizilhan: Pencegahan berarti bahwa kita harus mampu mendekati kaum muda, memberikan informasi dan alternatif terhadap kekerasan dan teror. Saya yakin fenomena ini eksis baik di dalam Islam atau di dalam lingkup budaya, entah itu di Afghanistan atau negara-negara Muslim lainnya. Keluarga mereka biasanya berasal dari masyarakat tradisional yang sebenarnya cinta damai, sangat solidaris satu sama lain dan loyal kepada sesama. Artinya kita harus mendatangi kaum muda di lingkungan pribadi mereka, tentunya lewat berbagai proyek. Proyek-proyek ini bisa digerakkan lewat bantuan Amerika Serikat dan dunia barat, tapi pada saat yang bersamaan kita harus aktif di lapangan untuk bisa mendekati kaum muda ini. Termasuk di antara syaratnya adalah bahwa kita memiliki aktor lokal yang berpendidikan baik, memiliki pengetahuan dasar tentang kekerasan dan tindak pencegahan. Karena hal ini bisa membedakan seberapa jauh ideologi relijius kultural bisa berujung pada penggunaan kekerasan. Di sini pun kita membutuhkan aktor dari lingkup budaya, seperti di Afghanistan, yang dididik di sana dan menyekolahkan anaknya melalui para multiplikator. 

Untuk saat ini saya melihat bahwa kita di Jerman harus lebih banyak berinvestasi di Afghanistan, Irak atau Suriah, agar pencegahan tindak kekerasan bisa benar-benar berhasil. Tapi itu juga bergantung pada transformasi dan perubahan sosial masyarakat setempat. Artinya akan lebih mudah mencegah budaya kekerasan di negara demokratis, ketimbang di kawasan konflik atau wilayah krisis.

Tapi kita tidak boleh putus asa dan justru lebih giat berinteraksi dengan kaum muda, melalui aktivitas olahraga, internet atau media-media sosial, pendidikan vokasi atau hal-hal banal dalam kehidupan yang dibutuhkan kaum muda, bahwa akses harus dicari dan isu-isu ini lebih sering didiskusikan dengan mereka. Kita harus bisa memenangkan hati dan pikiran kaum muda dan menunjukkan alternatif kepada mereka, bahwa solusi tanpa kekerasan juga dimungkinkan.

DW: Sayangnya ada banyak tradisi yang dicampurkan dengan hukum Islam. Hal ini mengarah pada situasi, di mana orang tidak bisa lagi membedakan mana yang diturunkan dan mana yang berasal dari struktur patriarkhal. Terutama penerimaan atas tindak kekerasan dan penindasan kaum perempuan dianggap hal biasa. Kenapa situasinya seperti itu dan bagaimana dampaknya pada psikologi korban dan pelaku? Apa yang bisa dilakukan?

Prof. Jan Ilhan Kizilhan: Anda harus mengerti bahwa untuk istilah "kehormatan" dan bahwa demi kehormatan" misalnya perempuan dibunuh, karena orang-orang  itu meyakini bahwa mereka tidak memegang teguh nilai dan aturan, secara ilmiah telah dibuktikan bukan sikap dan pola pikir Islam. Bentuk kekerasan terhadap perempuan semacam ini juga kita alami di Eropa, Italia Selatan, di Yunani, Brazil dan negara-negara lain. Itu adalah pola pikir patriarkis.

Tonton video 00:40

Inilah Barbie Pertama Yang Berhijab

Masalah dengan dunia Islam adalah terciptanya percampuran antara gaya hidup tradisional pro-Islam dengan Islam sendiri. Masyarakat biasa dengan tingkat pendidikan rendah atau bahkan tuna aksara sendirinya belum atau jarang membaca al-Quran. Artinya mereka sepenuhnya bergantung kepada para imam atau guru agama. Dan sayangnya Islam sering digunakan untuk kepentingan politik di dunia saat ini. Artinya masyarakat mendapat informasi yang keliru.

Tapi warga di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim mereka masih memiliki struktur patriarkis yang kuat, di mana perempuan dianggap sebagai benda bertuan, bukan sebagai manusia. Mereka harus dilindungi dan tidak boleh melanggar aturan. Mereka tidak dianggap setara seperti negara-negara lain di dunia. Pandangan semacam ini menciptakan kelas yang berbeda di masyarakat. Perempuan tidak lagi memiliki akses pendidikan atau bisa menikmati kebebasan individu. Ini adalah masalah nyata. Islam pun harus bersikap demi kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, karena kita hidup di dunia yang modern dan saling terkoneksi. Tapi banyak pula yang tidak berani menghadapi perubahan karena meyakini mereka akan melanggar aturan Islam.

Berkaitan dengan pandangan patriarkis tadi kita harus mencerahkan pikiran masyarakat. Dan saya yakin Islam atau pandangan yang keliru tidak bisa melegitimasi pembunuhan terhadap manusia atas nama "agama," "kehormatan," atau "budaya." Artinya jika perilaku ini diwariskan dari satu generasi ke leinnya selama ratusan hingga ribuan tahun, maka generasi baru saat ini harus mempertimbangkan apakah pola perilaku semacam itu harus diubah. Karena kenapa kita harus melakukan apa yang dilakukan kakek buyut hanya karena mereka melakukannya? Termasuk ke dalam pertumbuhan manusia adalah perubahan, dan perubahan juga berarti bahwa budaya terus berubah. Jika kita melihat lima ratus tahun silam, maka situasinya berbeda dengan saat ini. Jadi manusia pun harus beradaptasi terhadap perkembangan baru. Dan di sini yang menjadi kian penting adalah kemanusiaan, rasa cinta pada sesama, tapi juga penerimaan dan toleransi kepada sesama manusia, sama saja entah itu perempuan dan laki-laki.

DW: Dalam sebuah wawancara Anda mengatakan bahwa Islam sedang berada di dalam fase transisi. Bisakah dijelaskan apa yang Anda maksud?

Prof. Jan Ilhan Kizilhan: Kita melihat perkembangan sejak tahun 622 dengan pendirian atau dengan dimulainya Islam, juga dengan Islam di Mekah dan Madinah yang datang kemudian, bahwa jika dibutuhkan perubahan dalam Islam karena harus menyesuaikan diri dengan situasi modern, selalu muncul kelompok radikal. Jika Anda melihat kaum Wahabi di Arab Saudi, pada waktu itu, ketika Nasionalisme Arab merajai Timur Tengah, seratus tahun lalu lahir Ikhwanul Muslimin. Kita pun saat ini menyaksikan perubahan pesat, seperti perubahan demografis di negara-negara Muslim. Jumlah kaum muda yang berusia duapuluh, duapuluhlima atau tigapuluh tahun saat ini lebih besar ketimbang di dunia barat. 

Kaum muda aktif di internet dan media sosial. Dan dengan latarbelakang pendidikan, mereka mengenali paradoks, seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, tentang kesetaraan gender dan kebebasan individu. Hal-hal ini ingin mengubah mereka. Dan perubahan semacam itu ikut membawa krisis kepercayaan. Dan saya juga yakin, bahwa kelompok-kelompok radikal seperti Al-Nusra, Al-Qaida atau Islamic State merupakan indikasi terciptanya krisis di dalam Islam. Karena Islam ingin beradaptasi. Ia sedang berada dalam jalur menuju perubahan. Tapi akan selalu ada kelompok radikal yang menentangnya dan ingin menciptakan situasi stagnan. Juga ada milyaran kaum muslim di berbagai negara dengan latarbelakang budaya berbeda-beda. Mereka ingin model pendekatan dan gaya hidup yang berbeda. Di sini terciptalah konflik antara berbagai kekuatan. Sebab itu saya di sini melihat Islam yang sedang dinaungi krisis dan berada dalam fase transformasi. Artinya dalam satu atau dua generasi ke depan, mungkin juga setelahnya, kita akan melihat Islam jatuh ke dalam jurang krisis yang dalam. Dan jika terjadi krisis, maka akan semakin banyak pula tindak kekerasan dan kelahiran organisasi-organisasi teror yang berusaha membumikan budaya kekerasan di negara-negara Muslim, agar masyarakat tidak mengalami perubahan atau pertumbuhan baru Islam.

DW: Maksud Anda harus ada upaya membangun struktur sekularisme di dalam Islam?

Prof. Jan Ilhan Kizilhan: Kebebasan individu sekarang menjadi isu penting. Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan pun menjadi tema aktual. Di Iran kita mengalami lonjakan angka perempuan yang menyelesaikan pendidikan tinggi tingkat sarjana. Jumlahnya hampir sama dengan laki-laki. Mereka ingin menjadi dokter atau pengacara, tapi juga menuntut kebebasan individu dan tidak ingin didikte oleh kaum pria hanya karena jenis kelaminnya perempuan. Perempuan-perempuan ini sering berpergian ke luar negeri dan tidak mampu menjalani pola perilaku tertentu yang mungkin empat atau limaratus tahun lalu menjadi norma sosial.  Fenomena ini sudah dimulai dan masyarakat ikut melakukannya. Tapi saya yakin para intelektual atau pemimpin umat Islam harus lebih dini dan lebih giat mendiskusikan, sejauh apa kita di dalam Islam bisa menghadirkan perubahan agar agama ini bisa bertahan hingga ribuan tahun lamanya. Jika tidak kita akan memiliki mayoritas diam yang menarik diri dan mendefinisikan diri sebagai muslim kultural, tapi tidak hidup di bawah naungan Islam.

*Prof. Dr. Dr. Jan Ilhan Kizilhan adalah pakar Psikologi dan seorang orientalis yang bekerja sebagai tenaga ahli medis di sebuah klinik di Jerman. Dia bermigrasi dari Turki ke Jerman pada 1973 bersama kedua orangtuanya yang beretnis Kurdi. Pada 2017 dia dianugerahi Ramer Award for Courage in the Defense of Democracy lantaran aktivitasnya mengadvokasi kaum Yazidi korban kekejaman Islamic State.

Wawancara dilakukan oleh Saifullah Ibrahimkhail

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait