Presiden Suriah Ingin Wilayah Kurdi Kembali Jadi Otoritas Negaranya | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 01.11.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Konflik Suriah

Presiden Suriah Ingin Wilayah Kurdi Kembali Jadi Otoritas Negaranya

Presiden Suriah, Bashar al-Assad, mengatakan bahwa pemerintahnya ingin mengembalikan otoritas negara atas wilayah yang dikuasai pasukan Kurdi di timur laut Suriah. Namun, ia tidak ingin menjadikan Turki sebagai musuh.

Presiden Suriah, Bashar al-Assad mengatakan pada hari Kamis (31/10), bahwa tujuan utama pemerintahnya adalah mengembalikan otoritas negara atas wilayah-wilayah yang dikuasai pasukan Kurdi di timur laut Suriah. Namun, dalam wawancaranya dengan televisi pemerintah, Assad juga menyampaikan bahwa proses itu akan dilakukan secara bertahap dan tetap menyesuaikan kondisi di lapangan.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump memerintahkan pasukan AS menarik diri dari Kawasan Suriah, yang justru berakibat Turki melancarkan invasi militernya di sana.

Turki memang memandang para pasukan Kurdi di Suriah sebagai “teroris”, yang melakukan pemberontakan selama puluhan tahun di wilayah Turki tenggara.

Pekan lalu, Turki telah membuat kesepakatan dengan Rusia untuk menghentikan operasi militernya selama beberapa minggu di Suriah. Perjanjian itu telah menghasilkan kesepakatan bahwa pasukan Kurdi harus menarik diri dari wilayah Suriah, dengan tujuan untuk membangun "zona aman". Di wilayah itu, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, berencana untuk memulangkan sekitar 3,6 juta pengungsi asal Suriah yang saat ini mengungsi di negaranya

Patroli gabungan Turki-Rusia akan dimulai di daerah dekat perbatasan Suriah pada hari Jumat (01/11), setelah Rusia menyatakan bahwa pasukan Kurdi telah mundur dari wilayah Suriah sesuai dengan ketentuan perjanjian.

Tidak ingin Turki sebagai 'musuh'

Pada hari Kamis (31/10), Assad mengatakan bahwa kesepakatan Rusia-Turki itu hanya bersifat sementara.

"Kami harus membedakan antara tujuan utama atau strategis, dan pendekatan taktis," ujarnya, seraya menekankan bahwa pasukan Suriah pada akhirnya akan merebut kembali wilayah yang telah dikuasai oleh Turki.

Lewat kesepakatan itu, Rusia telah berhasil menjalankan keinginan Turki untuk merebut lebih banyak wilayah di Suriah dan mengungguli AS.

Presiden Suriah menekankan dia tidak ingin menganggap Turki sebagai "musuh". Namun dia mengatakan bahwa Erdogan sendiri adalah musuh, karena kebijakannya yang bertentangan dengan Suriah.

Salah satunya adalah mendukung pasukan pemberontak Suriah yang memerangi pemerintah Assad selama delapan tahun, yang telah menewaskan lebih dari 370.000 orang.

Ingin kembalikan otoritas negara

Pasukan pemerintah Suriah telah menarik diri dari timur laut negara itu pada tahun 2012, lalu menyerahkannya kepada kelompok-kelompok Kurdi untuk dikelola.

Pasukan Kurdi kemudian bersekutu dengan pasukan AS untuk memerangi pasukan ISIS, dan membentuk pemerintahan sendiri, yang bisa mengendalikan hampir sepertiga wilayah Suriah, termasuk sumber daya minyak dan gas terbesar di negara itu.

Assad menyampaikan, dalam kesepakatan untuk mengembalikan otoritas wilayah Suriah, pasukan Kurdi tidak akan diminta untuk segera menyerahkan senjata mereka ketika tentara Suriah masuk ke wilayah tersebut.

"Ada kelompok-kelompok bersenjata yang tidak dapat kami perkirakan akan segera menyerahkan senjata, tetapi tujuan akhirnya adalah mengembalikan situasi semestinya, yang dikontrol penuh negara," katanya.

Sehari sebelumnya, pemerintah Suriah meminta kelompok-kelompok Kurdi untuk bergabung dengan militer resmi. Tetapi Pasukan Demokrat Suriah (SDF), pasukan de facto dari kelompok Kurdi di timur laut Suriah, menolak usulan tersebut.

Pasukan Kurdi dalam pernyataannya menyampaikan bahwa harus ada pengakuan terhadap status dan struktur khusus untuk pasukan Kurdi (SDF).

Baca jugaPemimpin ISIS Tewas, Amerika Amankan Ladang Minyak Suriah

pkp/rap (Reuters, AP, AFP)

Laporan Pilihan