1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Presiden Korea Selatan Moon Jae-in
Presiden Moon Jae-in menyampaikan pidato perpisahan di Seoul, Korea Selatan, Senin (09/05)Foto: Sur Myung-gon/Yonhap via AP/picture alliance

Presiden Moon Serukan Perdamaian dengan Korea Utara

9 Mei 2022

Sebelum mengakhiri masa jabatan lima tahun, Presiden Korea Selatan Moon Jae In menyampaikan sejumlah pesan melalui video perpisahan yang disiarkan Senin (09/05). Dia berharap negaranya dapat berdamai dengan Korea Utara.

https://www.dw.com/id/presiden-moon-serukan-perdamaian-dengan-korea-utara/a-61728476

Presiden Korea Selatan Moon Jae In dalam pidato perpisahannya pada Senin (09/05), berharap upaya memulihkan perdamaian dan denuklirisasi di semenanjung Korea bisa terus berlanjut.

Presiden Moon akan meninggalkan kantor kepresidenan pada Selasa (10/05), setelah masa jabatan lima tahunnya berakhir, kemudian menyerahkan kekuasaan dan tanggung jawab selanjutnya ke Yoon Suk Yeol.

"Perdamaian adalah syarat untuk kelangsungan hidup dan kemakmuran kita. Saya sangat berharap upaya untuk melanjutkan dialog antara Korea Selatan dan Korea Utara, membangun denuklirisasi, dan perdamaian akan terus berlanjut,” kata Moon pada video yang disiarkan secara langsung.

Pada pidato terakhirnya, Moon mengklaim pemerintahnya membantu meringankan bahaya perang di semenanjung Korea dan memunculkan perdamaian melalui diplomasi.

"Alasan mengapa kami gagal melangkah lebih jauh bukan karena kami tidak memiliki suara dan tekad untuk melakukannya. Ada penghalang yang tidak bisa kami atasi hanya dengan tekad kami. Itu adalah penghalang yang harus kita atasi,” kata Moon, tanpa menjelaskan apa hambatannya.

Tindakan lain Korea Utara

Pada April 2022, Moon dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bertukar surat resmi terakhir mereka yang mengungkapkan harapan untuk meningkatkan hubungan bilateral. Hanya saja, beberapa ahli menyebut cara Korea Utara menggambarkan surat-surat itu, yang menyoroti sumpah Moon untuk terus berkampanye lewat reunifikasi Korea bahkan setelah meninggalkan jabatannya, mencerminkan niatnya untuk memecah opini publik di Korea Selatan.

Selama periode militer besar-besaran di Pyongyang setelah pertukaran surat diumumkan, Kim berjanji mempercepat pengembangan senjata nuklirnya dan mengancam akan menggunakannya secara proaktif jika diprovokasi. Dalam beberapa bulan terakhir, militer Korea Utara melakukan uji coba peluncuran serangkaian rudal yang menargetkan Korea Selatan, Jepang, atau daratan Amerika Serikat.

Beberapa ahli mengatakan Kim berusaha mengguncang pemerintahan Yoon yang akan datang sambil memodernisasi persenjataan dan menekan pemerintahan Joe Biden untuk melonggarkan sanksi terhadapnya. Pejabat Korea Selatan menyebut jika Korea Utara sedang mempersiapkan uji coba nuklir pertamanya sejak 2017. 

rw/ha (AP)