Presiden Jerman Tolak Grasi bagi Mantan Teroris | dunia | DW | 08.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Presiden Jerman Tolak Grasi bagi Mantan Teroris

Sebagai presiden Horst Köhler harus memutuskan pemberian grasi kepada Christian Klar, yang sudah diajukan berbulan-bulan lalu. Christian Klar dulunya pimpinan kelompok teroris Jerman Rote Armee Fraktion atau RAF. Senin (07/05) Köhler menyatakan keputusannya.

Christian Klar tidak mendapat grasi. Presiden Jerman Horst Köhler menolak permohonan pengurangan hukuman mantan teroris RAF tersebut, tanpa memberikan alasan keputusannya. Menurut pernyataan resmi dari kantornya, Köhler telah memperhitungkan masukan dari departemen kehakiman dan penilaian sejumlah pakar dalam bidang kriminal. Selain itu, Presiden Köhler juga telah berbicara dengan anggota keluarga korban RAF, dan Jumat (04/05) lalu ia juga bertemu dengan Christian Klar.

Kesalahan Christian Klar

Pertemuan dengan Klar kemungkinan menjadi dasar keputusannya untuk tidak mengurangi hukuman mantan teroris itu. Demikian dikatakan pakar politik dan penulis biografi Köhler, Gerd Langguth dalam wawancara dengan Deutsche Welle. Ia menambahkan, kemungkinan Klar tidak menunjukkan penyesalan dan tidak mengakui kesalahannya.

Christian Klar telah berada dalam tahanan selama 24 tahun. Ia didakwa karena terlibat dalam pembunuhan pemimpin serikat majikan, Hanns Martin Schleyer dan Jaksa Agung Siegfried Buback tahun 1977 lalu. Setelah permintaannya ditolak Köhler, maka mantan teroris itu secepatnya baru akan dibebaskan 2009 mendatang.

Partai Kristen Demokrat – CDU menyambut baik keputusan Köhler. Sekretaris Jenderalnya, Ronald Pofalla mengatakan, keputusan yang diambil presiden Köhler pekan lalu sangat bijaksana.

Partai Liberal – FDP juga menyatakan puas dengan penolakan Presiden Köhler. Sementara dari Partai Kristen Sosialis – CSU terdengar pujian yang lebih jelas atas keputusan Köhler. Menteri Dalam Negeri Bayern, Günter Beckstein mengatakan, keputusan yang diambil Köhler sesuai dengan perasaan keadilan yang mendominasi sebagian besar rakyat Jerman.

Sengketa antar Partai

Akhir pekan lalu (05-06/07) partai Beckstein, CSU mengancam untuk tidak memilih kembali Köhler menjadi presiden periode berikutnya, jika ia memberikan grasi kepada Christian Klar. Ancaman tersebut kemudian mengakibatkan sengketa antar partai. Tetapi Partai Sosial Demokrat – SPD kini berharap debat soal itu sudah selesai. Sekretaris Jenderal SPD, Hubertus Heil menyatakan, sikap CDU, CSU dan Partai Hijau yang memberikan nasehat kepada presiden tidak pada tempatnya.

Keputusan Köhler

Partai Hijau mengeritik keputusan Köhler. Pemimpinnya Claudia Roth menyatakan hal itu sebagai kesempatan yang disalahgunakan. Ujaran serupa juga diberikan partai kiri.

Presiden Horst Köhler tidak hanya menolak grasi bagi Christian Klar. Mantan teroris RAF lainnya, Birgit Hogefeld juga tidak mendapat pengampunan. Tetapi kasus Hogefeld akan kembali dinilai Presiden Köhler beberapa waktu mendatang. (ml)

Iklan