Presiden Israel Melakukan Pelecehan Seks? | dunia | DW | 17.10.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Presiden Israel Melakukan Pelecehan Seks?

Presiden Israel Moshe Katzav harus menghadapi dakwaan dalam kasus pemerkosaan.

Presiden Israel Moshe Katzav

Presiden Israel Moshe Katzav

Posisi Presiden Israel Moshe Katzav semakin terjepit. Tim penyelidik kepolisian Israel menyarankan Kejaksaan Agung untuk menggugat Moshe Katzav dengan tuduhan melakukan pemerkosaan, pelecehan seks, penyadapan secara ilegal, penipuan dan penyalahgunaan kepercayaan. Kepolisian Israel telah menemukan bukti yang cukup untuk mendakwa Presiden. Moshe Katzav yang sudah mencapai umur kepala 6 ini, dikenai dakwaan paling berat, yaitu melakukan pemerkosaan terhadap dua perempuan. Media Israel memberitakan tim pengusut yakin, bukti yang diperolehnya cukup untuk membawa kasus ini ke pengadilan. „Seandainya Presiden mengetahui apa yang saya peroleh, ia pasti sudah mengundurkan diri, sehingga ia tidak kehilangan martabatnya di muka umum,“ demikian harian „Haaretz“ mengutip seorang pejabat tinggi di Kementerian Kehakiman.

Moshe Katzav diduga mulai memerkosa sejak ia menjabat sebagai menteri pariwisata, sebelum terpilih sebagai presiden di tahun 2000. Dua pegawainya mengaku diperkosa oleh Moshe Katzav, dan keduanya dapat dipercaya, karena tim penyidik memperoleh bahan bukti yang cukup. Seorang saksi utama yang sebelumnya bekerja di kantor Kepresidenan selama satu tahun merasa lega, karena ia yang dipercaya kepolisian dan bukan presiden. Ia mengatakan, Moshe Katzav memaksanya untuk berhubungan seks sebanyak tiga kali.

Masih terdapat sepuluh perempuan lainnya mengaku dipaksa oleh Presiden Katzav untuk melakukan hubungan seks dengannya. Selain itu, berkat informasi media Israel, kepolisian mendapat bukti, bahwa Moshe Katzav secara ilegal menyadap pembicaraan telefon pegawainya, untuk mencari tahu, bagaimana bukti-bukti yang diperoleh tim penyelidik dapat jatuh ke tangan publik. Selain itu, Moshe Katzav dan sejumlah orang terdekatnya dituduh telah mengintimidasi para saksi. Walaupun proses penyelidikan belum tuntas, polisi menyebutkan perempuan yang hendak bersaksi melawan Moshe Katzav ditekan. Mereka diancam sedemikian, sampai salah seorang saksi melarikan diri ke luar negeri.

Jabatan presiden yang dipegang Moshe Katzav adalah jabatan seremonial. Pengacara Katzav menyebutkan, tuduhan kepolisian tidak dapat diterima. Sementara Moshe Katzav menolak seruan yang medesaknya untuk mundur. Namun, apakah untuk pertama kalinya dalam sejarah Israel akan diadili seorang presiden negara, terletak di tangan Jaksa Agung Masus. Walaupun pembukaan parlemen diselenggarakan dua minggu mendatang, sudah dapat ditebak bagaimana suasannya. Secara tradisional presiden menghadiri pembukaan parlemen, namun beberapa politisi mengancam akan meninggalkan Knesset jika Moshe Katzav datang ke parlemen.

Iklan