Presiden Afghanistan Kritik Operasi Militer Asing di Negaranya | Fokus | DW | 02.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Presiden Afghanistan Kritik Operasi Militer Asing di Negaranya

Rabu (2/5) di Kabul, Presiden Afghanistan Hamid Karzai bereaksi keras terhadap tewasnya puluhan warga sipilnya akibat operasi militer yang dilancarkan pasukan gabungan ISAF dan koalisi anti teror Amerika Serikat

Presiden Afghanistan Hamid Karzai

Presiden Afghanistan Hamid Karzai

Presiden Afghanistan Hamid Karzai berulang kali mengkritik operasi militer internasional yang menewaskan warga sipil. Tapi sekarang ia bereaksi sangat emosional dan keras. Pemerintah Afghanistan melaporkan, sejak hari Jumat (27/4) sedikitnya 50 warga sipil kehilangan nyawanya dalam operasi militer koalisi anti teror pimpinan Amerika Serikat.

Dalam sebuah konferensi pers di istana kepresidenan Karzai menjelaskan bahwa kesabarannya sudah mencapai batas. Berulang kali, hampir setiap pekannya dan sejak beberapa tahun silam, dirinya berupaya meningkatkan bekerja sama dengan dunia internasional untuk menghindari jatuhnya korban sipil. Demikian dikatakan Karzai dengan geram.

„Sayangnya koordinasi dan kerja sama yang telah kami upayakan tidak membawa hasil seperti yang diharapkan. Kami tidak lagi dapat menerima jatuhnya korban tewas dari kalangan sipil, seperti yang terjadi saat ini. Akan sulit bagi kami. Tidak bisa lagi dimaklumi.“

Karzai ingat, setelah jatuhnya rezim Taliban hampir enam tahun lalu, warga Afghanistan menerima tentara asing dengan tangan terbuka. Afghanistan berterima kasih kepada masyarakat internasional untuk keterlibatannya di bidang militer. Karzai mengatakan sangat menyesal bila ada serdadu NATO atau Amerika Serikat yang terluka atau tewas. Lebih lanjut dikatakan Karzai, hal itu sangat menyakitkan tapi warga Afghanistan juga manusia.

Senin lalu (30/4) menurut pernyataan pemerintah Afghanistan, setidaknya enam warga sipil tewas di provinsi Nangarhar di timur Afghanistan dalam operasi militer Amerika Serikat melawan pemberontak. Militer Amerika Serikat mengatakan korban tewas dua orang. Sementara 40 sampai 50 warga sipil menjadi korban dalam serangan Amerika Serikat terhadap milisi Taliban di provinsi Herat di bagian barat Afghanistan. Namun militer Amerika Serikat menyatakan tidak ada korban sipil yang jatuh dalam insiden itu.

Peristiwa-peristiwa tersebut merupakan kejadian terbaru di dalam daftar panjang insiden serupa sejak tahun lalu. Ribuan warga sipil Afganistan tewas akibat kekerasan yang dilakukan kedua belah pihak. Hamid Karzai:

„Sayangnya penderitaan Afghanistan di beberapa wilayah belum berakhir. Kami masih menderita akibat serangan teroris atau serangan militer NATO.“

Rabu (2/5), Karzai sempat berbicara dengan duta besar Amerika Serikat, perwakilan NATO, Uni Eropa dan PBB di Kabul. Presiden Hamid Karzai mengharapkan masyarakat internasional bersama pemerintah Afghanistan mencari jalan untuk menghindari jatuhnya korban sipil.

„Seharusnya penggeledahan atau operasi serupa dilakukan dengan hati-hati. Dan sangat penting untuk melibatkan militer Afghanistan. Sayangnya walau pun kami berusaha sejak empat tahun lalu, hal tersebut tidak juga terlaksana. Itu harus diubah, diperbaiki. Jika tidak, kami harus menanggung akibatnya.“

Sejak beberapa hari lalu dilaporkan ribuan warga di timur dan barat Afghanistan berdemonstrasi memprotes kehadiran militer asing yang mengakibatkan jatuhnya korban sipil. Rabu kemarin sekitar dua ribu mahasiswa memblokade jalan utama dari Kabul menuju perbatasan Pakistan. Sejak pecahnya pertempuran setahun yang lalu citra pasukan internasional dan Presiden Karzai memburuk. Taliban dan kelompok milisi penentang pemerintah lainnya meningkatkan serangannya di kawasan selatan negara itu. Saat ini koalisi anti teror Amerika Serikat dan pasukan ISAF melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap kelompok perlawanan di Afghanistan.