1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Ilustrasi sel tubuh yang terinfeksi HIV
Hingga saat ini dunia medis masih belum menemukan obat yang dapat menyembuhkan seseorang dari HIV. Sejak merebak sebagai pandemi pada medio 1960, penderita HIV mendapatkan label dan stigma buruk di masyarakat.Foto: Science Photo Library/imago
SosialIndonesia

PrEP, Cinta Tanpa Batasan HIV

1 Desember 2022

Pemerintah Indonesia sejak 2021, merilis proyek percobaan untuk mendistribusikan PrEP (pre-exposure prophylaxis) secara gratis. PrEP merupakan obat yang 99% efektif mencegah penularan HIV.

https://p.dw.com/p/4KKA8

"Pas ngomong kalo aku itu ODHIV, Orang Dengan HIV, itu dia langsung, ‘waduh..‘ Langsung mundur gitu, dan itu membuat (aku) cukup putus asa sih. Kayak aku enggak bisa dicintai,” papar Bagas Kusuma Jati kepada DW Indonesia. Sejak Mei 2022, Bagas didiagnosa terpapar virus HIV. Sejak saat itu, bagi Bagas, virus itu telah menjadi ‘pembatas' untuk dirinya menemukan pasangan hidup.

"Awalnya merasa, waduh aku bakal mati. Aku juga merasa susah juga ya karena waktu itu aku masih jomblo juga. Aku enggak tahu ke depannya aku akan dapat jodoh apa enggak?" ungkap Bagas saat menceritakan reaksi awal yang ia alami setelah mengetahui dirinya terdiagnosa HIV.

Stigma pada HIV dan AIDS masih menjadi momok di tengah masyarakat. "ODHIV kan orang yang termarjinalisasi, saat awal terdiagnosa, saya takut terdiskriminasi dan mengadapi tantangan sosial," ungkap Bagas yang juga mengisahkan bagaimana ODHIV kerap mendapatkan label negatif dari masyarakat.

Sejauh mana kemajuan pengobatan HIV saat ini?

Melalui pengobatan yang ada saat ini, penularan HIV dapat diminimalisir. Bagi penderita HIV, terapi ARV (anti-retroviral) dapat menekan jumlah virus di dalam tubuh. Penelitian menunjukan,  pengobatan ARV mampu menekan jumlah virus di dalam darah sampai dengan "tidak terdeteksi” dan berarti resiko menularkan ke orang lain menjadi rendah.

Selain medikasi bagi ODHIV, pengobatan HIV telah berkembang juga pada ranah preventif untuk mencegah penularan. Salah satunya PEP atau post-exposure prophylaxis. PEP umumnya digunakan oleh seseorang yang menyadari telah melakukan aktivitas yang berisiko tinggi terpapar HIV. Pemberian PEP dilakukan dalam kurun waktu kurang dari 72 jam, hal ini karena virus HIV berkembang sangat cepat, biasanya antara 24-36 jam setelah paparan pertama. Di Indonesia saat ini PEP hanya dapat diakses oleh korban kekerasan seksual dan tenaga medis yang berisiko terpapar HIV.

Selain itu, sejak 2012, Amerika Serikat telah memperkenalkan PrEP atau pre-exposure prophylaxis. PrEP merupakan obat yang digunakan untuk mencegah seseorang terpapar HIV sebelum melakukan kegiatan berisiko terpapar. Laman situs Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS atau CDC menyebut PrEP sangat efektif untuk mencegah terjadinya penularan HIV hingga 99 persen. Umumnya PrEP dikonsumsi oleh mereka yang berisiko tinggi tertular HIV melalui hubungan seksual berisiko hingga para pengguna narkotika suntik.

Bagaimana PrEP di Indonesia?

Pemerintah Indonesia telah merilis program percobaan distribusi PrEP secara gratis di Indonesia sejak 2021. Program percobaan ini mendapat dukungan dana bantuan untuk mencegah penularan HIV di Indonesia, yang prevalensinya terus meningkat dalam 10 tahun terakhir.

Saat ini program tersebut telah berjalan di 21 kota dan kabupaten yang tersebar di 10 provinsi. "Jadi PrEP adalah suatu medikasi untuk mencegah tertular HIV, untuk bisa mendapatkan itu, seseorang harus mengisi assessment secara online, setelah mengisi itu mereka akan diarahkan ke fasilitas layanan Kesehatan terdekat untuk mendapatkan itu,” jelas Imran Pambudi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI.

Dari data yang didapatkan DW Indonesia, sejauh ini hanya dua hingga tiga fasilitas layanan kesehatan di setiap kota dan kabupaten terpilih yang menyediakan akses PrEP secara gratis. Sebelum menerima PrEP, calon penerima harus terlebih dahulu menjalani pemeriksaan status HIV dan kondisi kesehatan ginjal.

Obat Pencegah Penularan AIDS Harapan bagi Kaum Perempuan

Namun proyek percontohan ini menghadapi tantangan di lapangan. Salah satunya mengenai keterbukaan calon penerima PrEP dalam mengisi aktivitas seksual mereka. "Tetapi begitu sampai pada pertanyaan-pertanyaan yang sensitif tadi (terkait aktivitas seksual), mereka agak mengisinya tidak jujur. Sehingga analisa (pemberian PrEP-nya) menjadi tidak pas,” ungkap Imran kepada DW Indonesia.

Ketidakterbukaan dalam pengisian formulir assessment ini, menyebabkan beberapa orang kehilangan kesempatan mendapatkan akses PrEP. Hal ini berdampak pada rendahnya angka penerima PrEP, yang secara data statistik menunjukan bahwa program ini kurang direspon masyarakat.

Rendahnya angka penerima PrEP pada program percobaan ini, juga akan menjadi acuan studi apakah program PrEP gratis dapat diterapkan di Indonesia. "Strategi negara kan mungkin beda-beda (terkait HIV), tergantung kultur masyarakat. Mungkin di Barat lebih terbuka dengan hal seperti ini, secara terus terang mereka bisa mengisi pertanyaan-pertanyaan yang diberikan. Tapi di Indonesia dengan budaya seperti saat ini, belum tentu," tungkas Imran. Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi potensi pandangan kelompok konservatif yang menilai program PrEP sama artinya dengan legalisasi seks bebas di Indonesia.

PrEP di mata ODHIV

Munculnya program PrEP yang dibagikan secara cuma-cuma di Indonesia menjadi angin segar di mata ODHIV, termasuk Bagas. Ia menuturkan berdasarkan pengalamannya, "saat ini sudah banyak orang yang lebih bisa menerima ODHIV, namun tantangannya justru ada isu saat mencari pasangan.”

Bagas Kusuma Jati ODHIV sering hadapi stigma buruk
Sebagai ODHIV, Bagas menilai saat ini tantangan utama ODHIV adalah menghadapi stigma yang kerap memupuskan harapan dan hak hidupFoto: Rahka Susanto/DW

Menurut Bagas hadirnya PrEP sekaligus menjadi titik terang untuk melawan stigma bahwa ODHIV tidak pantas untuk dicintai. "Kayak misalnya, oh.. kamu HIV, oh ya sudah, nanti aku PrEP deh. Jadi ada opsinya, supaya kita punya hubungan yang normal,” papar Bagas.

Badan Kesehatan Dunia atau WHO mencatat pada 2021 lalu, sekitar 38,4 juta orang hidup dengan HIV di seluruh dunia. Sementara di Indonesia, Kementerian Kesehatan mengestimasi sekitar 526.841 orang hidup dengan HIV pada 2022.

Hingga saat ini advokasi anti-diskriminasi bagi ODHIV masih menjadi isu penting dalam setiap peringatan Hari HIV/AIDS Sedunia, salah satunya hak-hak hidup ODHIV termasuk rasa aman untuk diterima dan dicintai. (rs/as)