Kecewa dengan Australia, Prancis Dekati Indonesia untuk Bangun Aliansi Baru | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 25.11.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Hubungan Prancis-Indonesia

Kecewa dengan Australia, Prancis Dekati Indonesia untuk Bangun Aliansi Baru

Kawasan Indo-Pasifik akan menjadi prioritas Prancis saat menjabat sebagai Presiden Uni Eropa tahun depan, kata Menlu Prancis Jean-Yves Le Drian ketika berkunjung ke Jakarta.

Jokowi sambuit Menlu Prancis Jean-Yves Le Drian

Menlu Prancis Jean-Yves Le Drian (kiri) disambut Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, hari Rabu (24/11)

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian mengatakan, Prancis ingin menjadi "jembatan" antara negara-negara Indo-Pasifik dan Uni Eropa, dan bahwa kerja sama strategis adalah salah satu prioritasnya untuk kepresidenan Uni Eropa.

"Inti dari komitmen ini adalah visi kami tentang Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka, berdasarkan supremasi hukum, dan menghormati kedaulatan setiap negara,” kata Jean-Yves Le Drian dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (24/11).

Kunjungan dua hari Menlu Prancis ke Indonesia dilakukan saat negara itu gencar melakukan pendekatan untuk meningkatkan hubungannya di Asia, menyusul sengketa diplomatik Prancis-Australia. Bulan September lalu, Australia secara sepihak mendadak membatalkan pembelian kapal selam dari Prancis yang sudah disepakati sejak lama.

Indonesien | Retno Marsudi trifft Jean-Yves Le Drian

Sebelum bertemu Jokowi, Menlu Prancis Jean-Yves Le Drian melakukan pembicaraan dengan Menlu RI Retno Marsudi.

Mengintensifkan hubungan Prancis-Indonesia

"Perjalanan ini adalah tentang menegaskan kembali komitmen Prancis untuk Indo-Pasifik ... dan untuk mengintensifkan hubungan dengan Indonesia," kata seorang sumber diplomatik Prancis kepada wartawan dalam briefing menjelang kunjungan dua hari Jean-Yves Le Drian.

Kunci untuk mengembangkan hubungan itu antara lain kerja sama militer yang lebih erat. Indonesia ingin meningkatkan kemampuan pertahanannya, termasuk dengan kemungkinan pembelian kapal selam, pesawat tempur, dan kapal perang, di tengah ketegangan yang sedang berlangsung dengan Cina di Laut Cina Selatan yang disengketakan.

Prancis telah bernegosiasi dengan Jakarta selama beberapa bulan untuk penjualan 36 jet tempur Rafale. Sebuah Letter of Intent telah ditandatangani bulan Juni lalu, meskipun para pejabat tidak mengharapkan kesepakatan itu terpenuhi sebelum akhir tahun karena masalah pembiayaan.

Pesawat tempur Rafale buatan Prancis

Pesawat tempur Rafale buatan Prancis yang diincar Menhan Prabowo

Kecewa berat dengan Australia

Menlu Jean-Yves Le Drian juga mengatakan Prancis telah setuju untuk melakukan investasi senilai 500 juta euro dalam proyek-proyek transisi energi di Indonesia. Namun, dia tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Dia berbicara dengan Menlu Retno Marsudi setelah sebelumnya bertemu dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Le Drian juga melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo pada Rabu (24/11) malam.

Prancis menuduh Australia melakukan "pengkhianatan", setelah memilih membeli kapal selam yang dibangun dengan teknologi AS dan Inggris, sekalipun sudah ada kesepakatan sebelumnya dengan Prancis. Australia membatalkan pembelian itu untuk memulai aliansi keamanan trilateral dengan Inggris dan Amerika Serikat, AUKUS. Aliansi keamanan itu dimaksudkan untuk mengantisipasi pengaruh militer Cina di kawasan Pasifik.

hp/ha (rtr)

Laporan Pilihan