Potensi Indonesia Sebagai Pasar Masa Depan | dunia | DW | 25.05.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Potensi Indonesia Sebagai Pasar Masa Depan

Setelah terpuruk dan mencatat pertumbuhan ekonomi negatif di tahun 1998, Indonesia perlahan mulai pulih dari krisis ekonomi yang melingkupi seluruh kawasan Asia.

Kapankah rupiah mampu bersaing dengan mata uang lain?

Kapankah rupiah mampu bersaing dengan mata uang lain?

Pemerintah Indonesia di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menargetkan pertumbuhan ekonomi antara 6,6 sampai 7,2 persen per tahun sampai 2009. Untuk mencapai hal ini dibutuhkan penambahan volume investasi sampai 30 persen produk domestik brutto. Target yang ambisius, mengingat iklim investasi di Indonesia masih dinilai kurang akomodatif bagi investor domestik dan asing. Apa yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk mengatasinya? Ini dibahas dalam seminar sehari di Stuttgart, Jerman bertema “Potensi Indonesia sebagai Pasar Investasi Masa Depan”. Tujuannya, memperkenalkan Indonesia kepada pengusaha menengah Jerman yang berminat menanamkan modal di Indonesia.

Macan ekonomi Indonesia kembali bersiap-siap untuk menerkam. Pernyataan tersebut digunakan Manfred Schmitz, pejabat L-Bank yang bermarkas di Stuttgart, saat membuka seminar sehari mengenai “Potensi Indonesia sebagai Pasar Investasi“. Acara sehari itu diselenggarakan oleh Kamar Dagang Indonesia-Jerman (EKONID), Lembaga kerja sama Baden-Württemberg International, dan L-Bank, bank utama negara bagian Baden Württemberg.

Apa yang mendasari kerja sama dagang dan ekonomi antar Indonesia dan Jerman umumnya, dan negara bagian Jerman Baden-Württemberg khususnya? Jerman adalah negara industri terkuat ketiga dunia dan menduduki peringkat pertama negara pengekspor dunia. Sementara Baden-Württemberg, yang adalah negara bagian terbesar Jerman, terkenal karena banyaknya perusahaan berskala menengah yang bergerak di bidang inovasi dan teknologi termutahkir. Lalu, apa yang dapat ditawarkan Indonesia bagi kerja sama tersebut? Duta Besar Indonesia untuk Jerman Makmur Widodo mengataka, Indonesia sebagai negara yang berada dalam proses peralihan dapat menawarkan peluang emas bagi Jerman. Tapi, Widodo menambahkan, terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi.

Pengusaha dari Baden-Württemberg menyadari sepenuhnya tantangan yang muncul bila ingin berbisnis di Indonesia, kata Manfred Schmitz dari L-Bank. Apalagi, Indonesia spertinya butuh waktu lama untuk pulih dari krisis ekonomi dan moneter yang melanda Asia tahun 1997 lalu. Ditambah lagi dengan sejumlah aksi teror yang menambah kekuatiran pebisnis yang mencoba untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Menurut Schmitz, Indonesia punya peluang untuk bersaing dengan macan ekonomi dari kawasan Asia, Cina dan India. Di satu pihak, Indonesia adalah negara dengan jumlah berpenduduk terbanyak keempat dunia; Ini adalah pangsa pasar luar biasa besar bagi produk-produk kualitas tinggi dari Jerman. Di lain pihak, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sehat dalam lima tahun terakhir. Moneter Internasional (IMF) memperkitakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2 persen di akhir 2006. Ini adalah berkat stabilitas politik yang perlahan mulai terwujud, kata Manfred Schmitz.

Stabilitas ekonomi dan politik inilah yang memancing investor asing untuk kembali melirik Indonesia sebagai pasar modal yang berpontensi tinggi. Martin Krümek dari Kamar Dagang Indonesia-Jerman (EKONID) menyatakan, ini terbukti dengan peningkatan signifkan dalam volume investasi tahun lalu. Badan Koordinasi Penamanan Modal RI (BKPM), mencatat penamanan modal asing langsung senilai 8,9 Miliar Dollar Amerika Serikat untuk 2005. Tahun sebelumnya, investasi asing masih berjumlah 4,6 miliar, jadi dalam setahun jumlah tersebut berlipat ganda. Sementara Jerman sendiri punya andil sebesar 42 juta Dollar dalam penanaman modal asing tahun lalu, walaupun masih jauh di bawah kapasitas modal yang ada. Demikian dijelaskan Martin Krümek

Di Indonesia, juara dunia ekspor Jerman terutama bergerak di bidang otomotif, kimia, farmasi, teknik elektro dan teknik komunikasi. Selain itu, mesin-mesin “made in Germany“ terutama digunakan dalam sejumlah proses produksi di Indonesia. Jerman menguasai hampir seperempat pangsa pasar untuk peralatan teknik medis. Sementara, untuk mesin pengemasan produk yang dipakai di Indonesia, 35 persen adalah buatan Jerman.

Lalu, apa kiat sukses perusahaan Jerman yang sudah bertahun-tahun melakukan bisnis di Indonesia? Helmut Mattl, dari bagian koordinasi marketing perusahaan Leitz GmBH menjelaskan, diperlukan penjajakan, apakah di Indonesia tersedia tenaga ahli dengan keterampilan memadai untuk cabang industri yang diinginkan. Selain itu, perlu kesiapan untuk menghadapi masalah logistik dan transportasi, infrastruktur di Indonesia, seperti jalan tak selalu terjamin. Hal sama berlaku bagi pasokan energi dan listrik. Dan yang terakhir, apakah akomodasi tersedia bagi para pegawai asing perusahaan.

Menurut Helmut Mattl, yang mewakili perusahaan suku cadang mesin Jerman, perusahaan yang berniat untuk terjun ke pasaran Indonesia harus siap menghadapi masalah-masalah tersebut. Bila tenaga ahli tidak tersedia di Indonesia, maka perusahaan Jerman dianjurkan melatih sendiri kader yang berpontensi, misalnya melalui kerja sama dengan pusat pelatihan atau sekolah kejuruan di Indonesia.

Dan pemerintah Indonesia sendiri berusaha untuk memudahkan penanaman investasi di Indonesia. Menteri koordintor Perekonomian Indonesia meluncurkan paket kebjiakan untuk reformasi ekonomi, Februari tahun ini. Isinya, antara lain kebijakan untuk mengurangi rintangan birokrasi dalam perizinan penanaman modal, merampingkan sistem bea cukai dan pajak. Paket tersebut ditujukan untuk mengakomodasi perusahaan kecil dan menengah. Demikian dijelaskan Martin Kümers.

Paket kebijakan yang berlaku bagi penanam modal asing maupun lokal tersebut diharap mendukung iklim investasi di Indonesia. Khusus bagi investor asing, yang menarik adalah langkah-langkah yang bertujuan untuk mengurangi birokrasi dalam proses lisensi pendirian perusahaan. Menurut Bank Dunia, sebuah perusahaan asing yang mencoba menjejakkan kaki di Indonesia membutuhkan waktu sekitar 151 hari untuk mengurus surat izin usaha. Pemerintah Indonesia tengah mengupayakan agar proses tersebut bisa rampung dalam 30 hari.

Bagi perusahaan asing yang berniat menjajaki pasar Indonesia muncul juga kendala komunikasi dan sulitnya mendapatkan informasi yang akurat. Karena itu, Jörg Stremme, kepala bagian investasi luar negeri L-Bank mengimbau para pebisnis untuk melakukan persiapan sematang mungkin, manfaatkan tawaran lembaga kerja sama seperti Baden-Württemberg International, EKONID atau L-Bank yang dapat berfungsi sebagai penengah dan penyedia informasi. Selain itu, kepastian mengenai jaminan keuangan dengan bank, sehingga rencana perluasan atau penjajakan pasar baru di Indonesia membuahkan hasil yang seimbang pula.

Jörg Stremme menutup ulasannya mengenai pasar Indonesia dengan mempromosikan kunjungan Forum Kontak dan Kerja sama perusahaan Jerman ke Indonesia yang akan berlangsung dari tanggal 22. sampai 28 Juli mentdang. Forum yang digagas Bank negara L-Bank dan Baden-Württemberg International bekerja sama dengan Kamar Dagang Indonesia-Jerman (EKONID) dan PT German Centre Indonesa itu akan berkunjung ke Jakarta dan Surabaya. Tujuannya untuk mempertemukan pengusaha Jerman yang berminat untuk berinvestasi dengan klien atau mitra kerja sama Indonesia.

Iklan