Politik Dalam Negeri Israel dalam Kekalutan | dunia | DW | 17.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Politik Dalam Negeri Israel dalam Kekalutan

Jendral Halutz Mundur, PM Olmert diperiksa.

Kepala Staf Jendral Dan Halutz

Kepala Staf Jendral Dan Halutz

Para jendral petinggi militer Israel menarik napas lega saat mendengar pengunduran diri Kepala Staf Jendral Dan Halutz. Sudah tiba saatnya bagi Halutz untuk menerima konsekuensi atas langkah tentara Israel dalam perang Libanon, demikian antara lain pernyataan anggota Staf Jendral yang dikutip media.

Dalam suratnya kepada PM Ehud Olmert, Halutz menekankan, rasa tanggungjawab mendorongnya untuk mengambil langkah tersebut.

Rabu pagi tadi (17/01), militer Israel menerima hasil awal penyelidikian internal mengenai kapasitas angkatan bersenjatanya dalam perang melawan Hisbullah.

Selama perang berlangsung, Halutz dihujani kritik baik oleh media Israel maupun para mantan jendral. Perang berakhir namun kritik terhadap Halutz tak kunjung reda.

Tak ada satupun target resmi perang yang berhasil dicapai. Tidak melucuti Hisbullah, tidak juga membebaskan kedua tentara yang diculik, Regev dan Goldwasser. Tentara juga tak mampu mencegah ribuan roket Katyusha yang ditembakkan Hisbullah ke kota-kota di Israel Utara.

Sebuah koran Israel edisi Rabu ini (17/01) mengomentari perang Libanon sebagai perang paling buruk dalam sejarah tentara Israel. PM Israel Ehud Olmert menyesalkan pengunduran diri Halutz. Ia diberitakan berupaya keras agar Halutz mengubah keputusannya.

Sejalan dengan perkembangan kasus Halutz, tekanan politis terhadap Olmert juga bertambah. Selasa (16/01) malam, pengadilan Israel memulai proses pengusutan terhadap Olmert atas tuduhan melakukan praktik korupsi.

Pada musim gugur 2005, saat menjabat menteri keuangan, Olmert menggunakan pengaruhnya demi keuntungan sejumlah pengusaha yang bersahabat denganya, berkaitan dengan swatanisasi Bank Leumi, salah satu bank milik negara pemberi kredit terbesar. Penyelidikan itu mendominasi pemberitaan di media-media Israel semalam, Selasa (16/01).

Dalam berita utama televisi pemerintah Israel, si penyiar mengawali acara dengan pertanyaan: apakah pengusutan Bank Leumi akan membuat PM mundur dari jabatannya?

Kepada para pegawainya Olmert mengaku tidak terkejut mendengar berita itu. Ia menyebut tuduhan itu tidak berdasar, dan bangga atas hasil kerjanya dalam swastanisasi bank tersebut.

Namun tuntutan agar ia mundur bukan hanya dilontarkan kubu oposisi. Sejumlah politisi dari Partai Buruh, mitra koalisi terpenting Olmert, mengusulkan agar pemilu dipercepat. Mantan menteri Ophir Pines-Pas dari Partai Buruh mengatakan:

"Israel membutuhkan kepemimpinan yang sepenuhnya baru. Kepemimpinan yang bisa diterima. Sayangnya yang kita saksikan dari figur pemimpin yang satu ke figur pemimpin lainnya adalah penyelidikan yang satu ke penyelidikan berikutnya, dari aib yang satu ke aib lainnya."

Penyelidikan tentang tuduhan praktik korupsi akan memakan waktu berbulan-bulan. Berkas-berkas pemeriksaan harus lebih dulu diserahkan pada Jaksa Agung yang kemudian memutuskan apakah tuduhan terhadap Olmert dicabut atau berlanjut ke pengadilan.

Iklan