Polisi Tangkap Puluhan Pengunjuk Rasa Pendukung Alexei Navalny | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 23.01.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Rusia

Polisi Tangkap Puluhan Pengunjuk Rasa Pendukung Alexei Navalny

Kepolisian Rusia menegaskan pihaknya segera menertibkan aksi demonstrasi ilegal yang mendukung pemimpin oposisi Alexei Navalny. Puluhan pengunjuk rasa dilaporkan telah ditangkap dan ditahan di kantor polisi.

Polisi menangkap puluhan pengunjuk rasa

Puluhan pengunjuk rasa yang mendukung Navalny dilaporkan telah ditangkap di sejumlah kota

Aksi protes mendukung kritikus Kremlin yang saat ini tengah dipenjara, Alexei Navalny dimulai di kota Khabarovsk, tenggara Rusia pada hari Sabtu (23/01). Puluhan demonstran ditahan pihak kepolisian tak lama setelah aksi unjuk rasa berlangsung.

Perbedaan waktu tujuh jam lebih cepat dari ibu kota Moskow menjadi alasan aksi protes dimulai di Khabarovsk. Demonstrasi mendukung Navalny rencananya berlangsung di lebih dari 90 kota di seluruh Rusia.

Unjuk rasa terus berlanjut meski polisi menyatakan demonstrasi tersebut ilegal dan menegaskan aksi mereka akan "segera ditumpas."

Di Moskow, para pengunjuk rasa berencana bertemu di pusat Lapangan Pushkin pada Sabtu siang (23/01) waktu setempat dan berjalan menuju Kremlin.

Pengunjuk rasa mengusung jargon 'Kekuatan dalam Kebenaran'

Seorang pengunjuk rasa memegang poster bertuliskan 'Kekuatan dalam Kebenaran' selama aksi demonstrasi di Khabarovsk

Apa yang diinginkan pengunjuk rasa?

Para pendukung menuntut pembebasan Navalny.

Dia ditangkap sekembalinya ke Rusia dari Jerman pada 17 Januari lalu, setelah sempat mengalami keracunan. Pemimpin oposisi itu dijatuhi hukuman penjara 30 hari karena melanggar ketentuan hukuman percobaan yang dijatuhkan pada tahun 2014 atas tuduhan penipuan.

Navalny mengatakan tuduhan itu bermotif politik.

Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, Prancis, dan Kanada telah mendesak pemerintah Rusia untuk segera membebaskan Navalny. Uni Eropa juga telah menjatuhkan sanksi kepada Rusia.

Rusia menindak pendukung di media sosial

Menyusul penangkapan Navalny, banyak orang Rusia meramaikan jagat maya melalui sejumlah media sosial termasuk TikTok dan Tinder.

Bentuk dukungan ini mendorong pengawas media Rusia Roskomnadzor, yang mengancam akan memberlakukan denda pada platform tersebut jika mereka tidak menghapus sejumlah konten anak di bawah umur yang turut berpartisipasi dalam aksi unjuk rasa.

Pada Jumat malam (22/01), pihak berwenang mengatakan TikTok telah menghapus 38% postingan yang dianggap ilegal, sementara YouTube telah menghapus 50% postingan yang sudah ditandai regulator Rusia.

Rekan Navalny mendesak warga Rusia untuk turun ke jalan meskipun mendapat tekanan dan menjanjikan bantuan keuangan kepada mereka yang dikenai denda.

Dalam sebuah postingan di akun Instagram miliki istri Navalny, Yulia, mengatakan dia akan bergabung dalam aksi protes di Moskow: "Untuk saya, untuk dia, untuk anak-anak kami, untuk nilai-nilai dan cita-cita yang kami miliki."

Dalam upaya untuk menggalang dukungan, tim Navalny juga merilis video tentang sebuah istana mewah di Laut Hitam yang mereka duga milik Presiden Rusia Vladimir Putin - isu yang dibantah Kremlin. Klip itu telah dilihat lebih dari 60 juta kali pada Jumat malam (22/01).

Beberapa orang yang dekat dengan Navalny, termasuk aktivis terkemuka Lyubov Sobol dan juru bicaranya Kira Yarmysh, ditahan hari Kamis (21/01).

Pihak berwenang juga mengatakan mereka telah meluncurkan penyelidikan kriminal terhadap pendukung Navalny karena mendesak anak di bawah umur untuk menghadiri demonstrasi ilegal di jejaring sosial.

ha/yp (dpa, Reuters, AFP)

Laporan Pilihan