Polisi Tangkap Beberapa Buronan Poso | Fokus | DW | 11.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Polisi Tangkap Beberapa Buronan Poso

Kepolisian menangkap 5 orang buronan serangkaian kasus kekerasan Poso, dalam sebuah penyergapan disebuah rumah di Kelurahan Gebang Rejo, Poso Kota kemarin.

Dua orang tewas dalam peristiwa yang diwarnai dengan baku tembak itu, yaitu seorang buronan dan seorang warga biasa. Namun buntut dari penangkapan itu seorang polisi tewas dikeroyok warga yang marah. Saat ini kota Poso dikabarkan semakin memanas.

Lima tersangka serangkaian kasus kekerasan Poso ditangkap di rumah M. Basri, seorang tersangka kasus mutilasi siswi Poso, dalam operasi penyergapan selama setengah jam. Satu orang buronan yang masuk Daftar Pencarian Orang DPO tewas bersama seorang warga yang berusaha menghalangi operasi itu.

Juru bicara kepolisian Sulawesi Tengah M. Kilat mengatakan, polisi terpaksa menembak mati tersangka karena melawan polisi dengan tembakan dan melemparkan bom.

M.Kilat:

“Mereka melakukan perlawanan dengan tembakan dan bom dan tentu ada langkah-langkah, prosedur yang ditempuh. Yang meninggal 1 DPO, 1 yang melakukan perlawanan tapi di luar DPO. Semua melakukan perlawanan baik yang DPO maupun yang bukan, karena itu suatu prosedur, karena kalau ada perlawanan ya dilakukan. Polisi akan meneruskan upaya upaya paksa karena upaya persuasif kan sudah sering dilakukan, sehingga tokoh masyarakat mempercayai Mabes Polri, silahkan melakukan tindakan hukum”

Menurut M. Kilat, operasi penangkapan oleh Tim Detasemen Khusus 88 Anti Teror ini dilakukan karena batas waktu yang diberikan polisi kepada para DPO untuk menyerahkan diri telah berakhir. Mereka yang tertangkap merupakan bagian dari 24 buron yang masuk dalam DPO atas sejumlah kasus kekerasan di Poso, seperti peledakan bom di pasar Tentena, penembakan pendeta Susianti dan Jaksa Fery Silalahi serta kasus mutilasi 3 siswi Kristen Poso.

Polisi juga menyatakan, bahwa penangkapan ini, dilakukan dengan persetujuan pemuka agama setempat. Namun Ketua Forum Umat Islam Poso, Ustad Adnan Arsal, mengecam penangkapan itu, dan menganggap polisi melanggar kesepakatan di antara mereka. Pengasuh Pesantren Amanah, yang terletak tidak jauh dari lokasi penyergapan itu, menuding polisi melanggar prosedur setelah dua orang ustadnya, ikut tertembak dalam operasi itu, dimana satu diantaranya yaitu Ryan alias Ayub, tewas.

Adnan Arsal:

“Kedua ustad pondok ini, keluar melihat apa yang terjadi di depan. Begitu diluar di jalan kena tembak, bukan DPO bukan juga melawan, mereka hanya ustad yang pergi mengintai untuk melihat jangan sampai ada anak anak pondok yang ketembak satu namanya Ustad Ryan satu namanya Ustadz Ibnu. Jaraknya sekitar 300 meter dari lokasi penyergapan. Kesepakatan kita jangan sampai ada korban, kalau bisa ditangkap hidup hidup. Ya itu kita protes nanti, tolong diadakan penyidikan kembali karena ada pelanggaran diluar prosedur. Kita tidak melawan tidak menembak”

Namun Kepala Kepolisian Indonesia Sutanto menepis tudingan adanya pelanggaran prosedur dalam penangkapan itu. Kapolri bahkan menegaskan, operasi penangkapan terhadap DPO yang belum menyerahkan diri akan terus dilanjutkan.

Sutanto:

“Ah tidak ada. Kita sudah lakukan sesuai dengan ketentuan, dan ini sudah kita latihkan berkali kali. Tentu kita sudah mewaspadai sensitivitas masalah ini, karena itu kita mulai dengan persuasif. Langkah langkah persuasif tetap, tapi penegakan hukum tetap jalan juga, kalau persuasif mereka tidak ada kepastian hukum”

Kapolri juga menegaskan bahwa polisi akan menjamin keamanan di kota itu. Namun buntut dari operasi penangkapan tersebut seorang anggota polisi, Dedi, tewas dikeroyok warga yang marah, saat mengantar jenazah Ustad Ryan alias Ayub ke Makam Islam Lawanga, Poso Kota. Kondisi Poso saat ini dilaporkan semakin memanas setelah aparat kepolisian dan TNI bersenjata lengkap bersiaga di berbagai sudut kota. Sejak tahun 2000, lebih dari 1.000 orang tewas akibat kerusuhan antara kelompok Islam dan Kristen di wilayah ini.

  • Tanggal 11.01.2007
  • Penulis Zaki Amrullah
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CIw1
  • Tanggal 11.01.2007
  • Penulis Zaki Amrullah
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CIw1