Polisi Rusia Bubarkan Demonstrasi dengan Kekerasan | Fokus | DW | 16.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Polisi Rusia Bubarkan Demonstrasi dengan Kekerasan

Hari Sabtu (14/04) dan hari Minggu (15/04) ribuan orang turun ke jalan menentang Presiden Putin. Para demonstran di "Lapangan Perintis" St. Petersburg meneriakkan:"Putin adalah musuh rakyat."

Bentrokan antara polisi dan demonstran di St. Petersburg, Rusia

Bentrokan antara polisi dan demonstran di St. Petersburg, Rusia

Polisi bertindak keras menghadapi orang-orang yang berdemonstrasi damai. Orang-orang lanjut usia, perempuan dan anak-anak juga dipukuli. Di St. Petersburg, kota terbesar kedua Rusia dan kota kelahiran Putin, ribuan orang menuntut agar Putin mengundurkan diri. Pihak oposisi menuduhnya semakin membatasi hak azasi manusia (HAM) menjelang pemilihan parlemen bulan Desember 2007 dan pemilihan presiden bulan Maret 2008.

Sekitar 2.000 demonstran di lapangan itu menuntut Rusia yang beradab, adanya kebebasan pers serta pemilu yang jujur dan bebas. Sekitar 2.000 peserta lainnya atau simpatisan ikut mendengarkan di luar lapangan. Tetapi di St. Petersburg masalah lokal juga memainkan peranan, misalnya rencana pembangunan menara Gazprom.

Mantan anggota parlemen kota St. Petersburg, Sergei Gulyayev, seorang tokoh demokrat, mengritik biaya pembangunan menara itu yang berkisar pada 2,5 milyar Dollar. Separuhnya ditanggung oleh kotapraja. Dikatakannya: "1,35 milyar Dollar dari anggaran kota St. Petersburg digunakan untuk membangun apartemen mewah bagi para manajer perusahaan terkaya di Rusia. Tetapi bagi mereka yang mengalami blokade terhadap Leningrad tidak dibangun tempat tinggal. Mereka harus menunggu 30 tahun atau lebih lama lagi dan sekarang pun masih tinggal di apartemen bersama."

Apa yang disebut sebagai "Pawai Para Pembangkang" di St. Petersburg dan pada hari Sabtu (14/04) di Moskow, diorganisir oleh Front Rakyat Bersatu dari mantan juara catur dunia, Garri Kasparov dan Uni Demokrasi Rakyat dari mantan PM Mikhail Kasyanov serta kelompok Bolsyewik Nasional dengan pemimpinnya Eduard Limonov yang kontroversial.

Walaupun pimpinan Partai Yabloko yang liberal sosial menolak pawai dari aliansi oposisi yang menamakan diri "Rusia yang lain", tetapi Partai Yabloko di St. Petersburg ikut berpartisipasi. Pimpinan organisasi pemudanya, Alexander Shurshev , mengemukakan mengapa ia ikut berdemonstrasi: "Karena saya tidak setuju dengan apa yang terjadi di kota ini dan di negara kami. Saya juga tidak setuju dengan jalannya pemilu yang dikatakan bebas. Saya mengritik karena kami tidak didengarkan dan diabaikan begitu saja."

Demonstrasi selama sekitar 1,5 jam di St. Petersburg berjalan damai tetapi pada saat pembubaran, polisi melakukan kekerasan terhadap para peserta. Petugas memblokir jalan sedemikian rupa, sehingga orang hanya dapat lewat satu per satu. Timbullah bentrokan antara kedua pihak.

Polisi memukuli demonstran dan menahan sekitar 100 orang, termasuk pula Stephan Stuchlik, koresponden pemancar televisi Jerman ARD di Moskow dan seorang rekannya. Keduanya juga dipukuli.