Kata Polisi soal Motif Penembakan di Masjid San Diego
19 Mei 2026
Pihak kepolisian San Diego menerima laporan penembakan di Masjid Islamic Center di San Diego, California, Amerika Serikat (AS) pada Senin (18/05) siang waktu setempat.
Anggota kepolisian San Diego Anthony Carrasco mengatakan ada laporan mengenai beberapa tembakan di lokasi kejadian. Tempat kejadian perkara berlokasi sekitar 14 kilometer di utara pusat Kota San Diego, yang merupakan wilayah terpadat kedua di California.
Sebuah rekaman dari media lokal di AS menunjukkan puluhan mobil patroli kepolisian berada di highway bridge atau jalan layang di samping Islamic Center. Para petugas kepolisian dan kendaraan mereka terlihat mengelilingi area tersebut, sementara pasukan bersenjata juga mulai menyisir setiap sudut kawasan tersebut.
Presiden AS Donald Trump mengungkap bahwa dia terus memantau informasi terbaru mengenai penembakan di Islamic Center atau Pusat Agama Islam di San Diego, California, AS.
"Ini situasi yang mengerikan," kata Donald Trump, dalam sebuah agenda layanan kesehatan di Gedung Putih. Dia menambahkan bahwa para pejabat sedang "menangani hal tersebut dengan sangat serius."
Polisi: Dugaan kejahatan kebencian, ada wasiat
Pihak kepolisian menduga insiden penembakan di Islamic Center ini sebagai tindak kejahatan berbasis kebencian. Hal itu disampaikan oleh Kepala Kepolisian San Diego Scott Wahl dalam sebuah konferensi pers.
"Mengingat kejadian di Islamic Center, kami menganggap ini sebagai tindak kejahatan berbasis kebencian, sampai terbukti sebaliknya," papar Scott Wahl.
Berdasarkan informasi dari Scott Wahl, sedikitnya tiga orang dilaporkan tewas dalam insiden penembakan ini, termasuk petugas keamanan yang mempunyai "peran penting" dalam mencegah jatuhnya lebih banyak korban.
Dua tersangka, yang masing-masing diduga berusia 17 dan 19 tahun dilaporkan tewas. Scott Wahl menyebut keduanya melakukan tindakan bunuh diri. Jenazah kedua tersangka ditemukan di dalam sebuah mobil di dekat lokasi kejadian.
Di sekitar lokasi kejadian terdapat sekolah Al-Rashid yang mengajarkan kursus bahasa Arab dan kelas mengaji untuk anak berusia lima tahun ke atas. Saat keributan terjadi, anak-anak terlihat meninggalkan tempat kejadian perkara dan semuanya dinyatakan selamat.
Scott Wahl mengungkap bahwa salah satu ibu tersangka penembakan menemukan sebuah catatan atau wasiat yang ditinggalkan oleh pelaku. "Terkait bentuk catatan itu, terkait isinya, saya tidak akan mengungkapkannya saat ini," ujar Scott Wahl.
Hal itu dikuatkan dengan laporan dari kantor berita CNN, yang menerima informasi dari seorang petugas penegak hukum. Petugas tersebut mengatakan pada salah satu senjata yang digunakan dalam penembakan terdapat tulisan ujaran kebencian.
Selain itu, dalam laporan yang sama, salah satu tersangka meninggalkan surat wasiat yang berisi referensi tentang kebanggaan rasial.
Kecaman dari Wali Kota hingga Kelompok Islam
Wali Kota San Diego Todd Gloria mengecam penembakan di masjid terbesar di San Diego tersebut dan menyebutnya sebagai "tindak kekerasan berdasarkan kebencian."
"Serangan terhadap salah satu komunitas kita, terhadap warga San Diego mana pun karena latar belakang, keyakinan, atau cara beribadah mereka, adalah serangan terhadap kita semua," tegas Todd Gloria lewat sebuah pernyataan.
Dia menambahkan bahwa pihak-pihak yang berusaha melakukan aksi kejahatan karena kebencian di San Diego akan dihadapi "kekuatan penuh" hukum, serta "kekuatan penuh dari sebuah kota yang menolak untuk diadu domba."
Dia menegaskan bahwa kota tersebut menentang Islamofobia dan "segala bentuk kekerasan yang menargetkan komunitas di San Diego".
Sementara itu Council on American-Islamic Relations (CAIR) atau Dewan Hubungan Islam-Amerika juga mengecam penembakan ini sebagai "aksi kekerasan yang mengerikan", yang seharusnya tidak pernah dialami oleh siapa pun di sekolah atau tempat ibadah.
"Kami sangat mengecam aksi kekerasan yang mengerikan di Islamic Center of San Diego tersebut. Kami bersama para pihak yang menjadi korban serangan ini," ujar CAIR dalam sebuah pernyataan. "Tidak seorang pun seharusnya merasa takut akan keselamatan mereka saat menghadiri salat atau belajar di sekolah dasar."
Untuk diketahui, masjid di Islamic Center ini biasanya menggelar salat lima waktu setiap hari, acara keislaman lainnya, dan juga menyambut tamu-tamu dari agama lain.
"Mereka selalu menerima tamu, bahkan untuk orang-orang non-muslim. Mereka mengundang masyarakat untuk makan malam saat Bulan Ramadan," kata Josie-Ana Edenshaw, seorang warga lokal yang telah menghadiri kegiatan di Islamic Center, kepada kantor berita AP.
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Muhammad Hanafi
Editor: Prihardani Purba