PM Italia Romano Prodi Mengundurkan Diri | Fokus | DW | 22.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

PM Italia Romano Prodi Mengundurkan Diri

Pembicaraan Mengenai Pembentukan Pemerintah Baru dimulai hari Kamis ini

Romano Prodi

Romano Prodi

Menyusul kekalahan pemerintahannya dalam sebuah pengumpulan suara di Senat, Perdana Menteri Italia Romano Prodi dari partai kiri tengah menyampaikan permohonan pengunduran diri kepada Presiden Giorgio Napolitano di istana Quirinal di Roma kemarin malam. Langkah yang telah dituntut dengan sangat antusias oleh lawan berat politiknya Silvio Berlusconi. Dia mengatakan:

“Parlemen tidak memberikan persetujuannya. Italia harus segera keluar dari krisis berat melalui pembubaran pemerintah saat ini. Untuk menghormati aturan politik dan etik serta konstitusi, Prodi wajib mengajukan pengunduran dirinya kepada presiden Italia.“

Dan itu memang terjadi. Kekalahan pemerintah di Senat mengingatkan masalah masa lalu dengan kubu kiri Italia. Dalam waktu sepuluh tahun, Partai Komunis telah dua kali menjatuhkan kepala pemerintah Romano Prodi. Musim gugur 1998 dia dijatuhkan setelah memegang tampuk pemerintahan selama dua tahun. Kali ini hanya setelah hampir sembilan bulan. Padahal dalam voting itu yang dipertanyakan bukanlah mosi tidak percaya. Hari Rabu kemarin, voting dilaksanakan untuk menentukan perpanjangan misi Italia di Afghanistan. Dalam voting di Senat, sejumlah mitra koalisi Prodi menentang perpanjangan misi Italia di Afghanistan dan rencana perluasan pangkalan militer AS di Italia. Sementara Menteri Luar Negeri Massimo D’Alema mendesak perpanjangan masa tugas sekitar 1700 tentara Italia di Hindukush. D’Alema: „Pengamanan Afghanistan bukanlah misi NATO. Itu adalah misi PBB yang mencakup NATO dengan negara lainnya untuk memenuhi tugas yang sulit dan secara militer amat penting. Misi ini terutama merupakan misi politik dan sipil.”

Hal itu dikemukan D’Alema kepada senator dari kubunya sendiri yang memberikan suaranya dengan mengaitkan misi Afghanistan dengan masalah perluasan pangkalan militer AS di Venetien, di dekat Vicenza. Dalam dua isu itu, pemerintah Prodi terikat dengan persetujuan yang telah diberikan pemerintah Berlusconi sebelumnya. Tetapi ini tidak diperdulikan oleh dua senator partai komunis. Karena Prodi tetap ingin perluasan pangkalan militer AS, mereka abstein. Hal serupa juga dilakukan oleh dua senator lain. Karena suara abstein dari senator yang hadir dianggap sebagai suara menentang, maka pemerintah gagal dalam voting itu karena kekurangan suara. Dan ini membuat pemerintah jatuh.

Presiden Giorgio Napolitano hari Kamis ini mulai mengadakan pembicaraan pembentukan pemerintah baru. Jika Prodi berhasil untuk menarik pihak oposisi kristen demokrat ke pihaknya, maka dia dapat kembali membentuk pemerintahan. Namun ini sangat tidak mungkin. Saat ini tampaknya Silvio Berlusconi dari kubu tengah kanan yang mendominasi. Dalam hal ini, politik Italia tampaknya kembali sibuk dengan dirinya sendiri. Masih belum jelas bagaimana kelanjutan krisis pemerintahan ini.