PM Israel Dituntut Mundur | Fokus | DW | 01.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

PM Israel Dituntut Mundur

Setelah laporan Komisi Penyidikan Perang Libanon-Israel dipublikasikan, saat ini di Israel berkembang kritik terhadap kegagalan pemerintahan Perdana Menteri Ehud Olmert. Seorang menteri dari Partai Buruh Selasa kemarin mengundurkan diri secara terbuka serta menuntut Olmert turun dari jabatannya. Komisi Penyidik telah menuding Perdana Menteri Olmert dan Menteri Pertahanannya bertanggung jawab atas kesalahan dalam kebijakan Perang Libanon. Beberapa anggota partai pemerintah Kadima memandang skeptis apakah Olmert akan tetap memegang jabatan perdana menteri. Selasa kemarin secara resmi menteri-menteri dari partai Kadima dan menteri dari partai koalisinya menyatakan tetap mendukung Olmert.

PM Israel Ehud Olmert

PM Israel Ehud Olmert

Akan lebih sulit bagi Ehud Olmert untuk tetap bertahan secara politis melawan amarah publik. Sebuah jajak pendapat yang diadakan stasiun penyiaran Israel menyatakan 70 persen responden menuntut perdana menteri Olmert untuk mundur. Harian „Ha’aretz“ memberitakan, rekan separtai Olmert, termasuk menteri kabinetnya, sangat terkejut dengan tekanan dan pilihan kata dalam kritik komisi Winograd terhadap keputusan perdana menteri Olmert mengenai perang Libanon. Kini Olmert hanya menunggu, kapan politisi partai Kadima memerintahkan dirinya untuk mundur dari jabatan perdana menteri.

Partai mitra Olmert yang terpenting, Partai Buruh, juga meningkatkan tekanan. Sekretaris Jenderal Partai Buruh dan menteri non portofolio, Eitan Cabel, menyatakan mundur dari jabatannya. Dalam sebuah konferensi pers, Cabel mengomentari penilaian negatif komisi Winograd:

„Saya telah mengatakan, Perdana Menteri harus bertanggung jawab dan tanggung jawab itu tidak dapat dibagi dengan orang lain. Saya tidak bisa lagi bertahan dalam pemerintahan yang dipimpin Olmert.”

Dikatakan Cabel, dia telah membaca laporan hasil penyidikan setebal 320 halaman itu, dan tidak dapat menemukan alasan bagi Olmert untuk tetap bertahan sebagai perdana menteri. Lebih lanjut Cabel:

“Saya berharap dan juga berusaha supaya pengunduran diri saya bukan urusan pribadi, melainkan dapat menyadarkan partai koalisi akan kewajibannya dan membuat Olmert mundur.”

Semua media Israel seperti sepakat memberitakan, setelah laporan yang menyatakan Olmert telah melakukan “kegagalan besar dalam hal pengambilan keputusan, tanggung jawab dan kejujuran”, hanya ada satu solusi bagi Olmert, yaitu mengundurkan diri. Dalam sejarah Israel, belum pernah sebuah komisi penyidikan menuding dengan jelas perdana menterinya telah “GAGAL”. Lingkungan sekitar Olmert kini tengah dicekam ketakutan. Laporan itu ibarat pistol dengan amunisi penuh yang sedang dipegang penjahat. Demikian ditulis seorang komentator.

Sementara itu, dalam sebuah pidato di televisi Olmert menyatakan untuk tetap menjabat sebagai perdana menteri. Beberapa pendukung Olmert seperti politisi dari Partai Kadima Ze’ev Boim, berulang kali berbicara pada media, mengenai keinginan Olmert untuk tetap menjadi perdana menteri menunggu sampai laporan penutup komisi penyidik bulan Agustus mendatang dipublikasikan. Dan kemudian baru ia akan mengambil keputusan.