PM Israel Bertahan di Kursi Pemerintahannya | Fokus | DW | 03.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

PM Israel Bertahan di Kursi Pemerintahannya

Nasib politik Perdana Menteri Israel Ehud Olmert pasca laporan Perang Libanon sudah ditentukan. Banyak yang percaya, kekuasaan Olmert sudah berakhir ketika Menteri Luar Negeri Tzipi Livni Rabu lalu secara terbuka mendesak Olmert untuk mundur. Tapi Ehud Olmert masih menjabat sebagai perdana menteri dan Livni seperti habis-habisan mempermalukan dirinya sendiri. Untuk sementara ini Ehud Olmert bisa bernapas lega.

Tzipi Livni dan Ehud Olmert

Tzipi Livni dan Ehud Olmert

Perdana Menteri Israel Ehud Olmert ibarat pemenang dalam pertarungan kekuasaan dengan Menteri Luar Negeri Zipi Livni. Olmert tidak menangkis desakan mundur prematur dari Tzipi Livni dan secara politis semakin kuat sejak beberapa hari lalu. Kamis kemarin media Israel yakin Olmert telah memenangkan sengketa mengenai laporan komisi penyidik.

Sebaliknya, kritik tajam dari berbagai media harus dihadapi Menteri Luar Negeri Livni. Rabu lalu Livni mendesak Olmert untuk mundur tapi itu menjadi bumerang karena Ehud Olmert menolaknya. Hal itu tidak diperhitungkan Livni. Sekarang Menteri Luar Negeri Livni harus memperhitungkan jika dia dipecat perdana menteri. Seperti diberitakan media Israel, dengan mengutip keterangan penasihat Olmert.

Kamis kemarin pendahulu Livni, Silvan Shalom dari sayap kanan Partai Likud mengkritik Livni yang ingin tetap bertahan di pemerintahan:

„Saya pikir, jika Anda mendesak perdana menteri untuk mundur, sementara Anda sendiri bertahan, itu seperti Condoleeza Rice mendesak Presiden Bush mundur, tapi Rice tidak mundur. Sebuah skenario yang aneh dan bisa saja beberapa menit kemudian Olmert dengan mudah memecat Livni. Ini merupakan puncak kesinisan.“

Perdana Menteri Olmert tidak ingin secepatnya memecat menteri luar negeri. Kabar yang beredar dari lingkungan Olmert, jika posisinya yang rapuh saat ini dapat stabil dalam beberapa pekan mendatang, dia akan mengganti Livni dengan mantan menteri pertahanan Shaul Mofaz. Salah seorang kepercayaan Olmert, Menteri Keamanan Avi Dichter mengusulkan untuk mempertahankan menteri luar negeri Livni:

„Menteri Livni dengan berani menyatakan pendapatnya. Sengsaralah kami, jika hal ini menjadi seperti pedang bermata dua untuk apa yang dikatakan Livni. Saya senang perdana menteri tidak melakukan langkah yang diinginkan orang-orang tertentu. Menurut saya, Livni tidak boleh diberhentikan.“

Rabu malam lalu, Olmert mengumpulkan dukungan dari fraksi Partai Kadima di parlemen. Hanya tiga orang dari 29 anggotanya, termasuk menteri luar negeri Livni, yang menginginkan Olmert untuk mundur. Menurut sejumlah komentator, sebagian besar anggota parlemen kuatir dengan pemilihan baru dan itu mendukung hilangnya kepercayaan untuk Olmert. Jajak pendapat terbaru menyatakan jumlah kursi yang fraksi partai Kadima akan berkurang, dari 29 menjadi 12 kursi. Dan pemimpin oposisi Benjamin Netanyahu akan memenangkan pemilihan. Mitra koalisi Olmert dan anggota fraksi partai Kadima mengusulkan solusi lain daripada pemilihan baru.

Sementara Kamis malam lawan politik Olmert berunjuk rasa di Tel Aviv mengumpulkan lebih dari 150 ribu orang. Mereka mendesak Perdana Menteri Olmert agar mengundurkan diri. Mickei Leibowitch menyatakan pesan demonstrasi itu adalah politisi yang telah mengorbankan banyak nyawa harus menyerahkan jabatannya dan pergi. Bekas jenderal, tentara cadangan yang terlibat perang, dan keluarga serdadu yang tewas ikut serta dalam demonstrasi tersebut.