PM Baru Taiwan Zhang Junxiong | dunia | DW | 14.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

PM Baru Taiwan Zhang Junxiong

Perdana Menteri baru Taiwan dituntut selesaikan krisis politik.

Ibukota Taipeh masih diliputi ketidakpastian setelah PM Su Tseng-Chang mengundurkan diri

Ibukota Taipeh masih diliputi ketidakpastian setelah PM Su Tseng-Chang mengundurkan diri

Presiden Taiwan Chen Shui-bian menunjuk negosiator terbaiknya dengan Cina Zhang Junxiong, sebagai Perdana Menteri baru. Zhang Junxiong, menduduki jabatan tersebut setelah PM sebelumnya Su Tseng-Chang, meletakkan jabatannya, Sabtu kemarin.

Su Tseng-Chang, memutuskan mengundurkan diri, setelah kecewa karena tidak mendapatkan dukungan partainya untuk maju sebagai kandidat dalam pemilihan presiden tahun depan.

Presiden Taiwan Chen Shui-bian mengatakan perdana menteri anyarnya ini merupakan orang yang paling tahu tentang China. Dengan diangkatnya kembali Zhang, maka ia berharap Zhang mampu menggunakan pengaruhnya terhadap China untuk menaikan hubungan kedua negara.

“Kita harus mengambil posisi baru dan menjalin solidaritas. Mari kita bersama-sama berusaha memajukan demokrasi di Taiwan dan mencapai masa depan yang cerah bagi Taiwan.”

Zhang Junxiong, merupakan kepala lembaga Straits Exchange, sebuah badan yang menangani hubungan antara Taiwan dengan Cina. Namun, sebenarnya jabatan sebagai perdana menteri itu diduduki kedua kalinya oleh Zhang Junxiong, yang pernah berada di posisi sama tahun 2000-2002.

“Ketika pada tahun 2000 saya menjadi PM, saya lebih menerapkan politik kerjasama ketimbang konfrontasi. Sekarang saya juga akan mengusahakan politik yang sama.”

Meski demikian, banyak kalangan menduga Zhang hanya akan dipakai Chen untuk sementara sampai pemilu tahun depan, agar perseteruan antara pemerintahan dan parlemen mereda. Zhang Junxiong dianggap sebagai sosok yang dapat diterima oleh semua faksi di parlemen.

Bagi presiden Taiwan, kelebihan Zhang itu menjadi poin penting, karena parleman Taiwan saat ini didominasi oleh kelompok oposisi. Beberapa rancangan undang-undang, berkali-kali mentok di parlemen. Termasuk rancangan tentang anggaran tahunan. Presiden Chen, selama ini bertentangan dengan opisisi Kuomintang. Manuver politiknya mendorong pengukuhan Taiwan sebagai negara yang terpisah dari China dan menyusun konstitusi baru.

Bahkan Maret lalu mengganti semua nama lembaga dan fasilitas yang memakai nama China. Upaya ini sempat membuat partai oposisi Kuomintang yang menyerukan penyatuan kembali dengan China, naik pitam.

Manuver politik Chen cukup jitu, partainya - Partai Demokratik Progesif yang mengusung indepedensi Taiwan dari Cina, lebih dilirik olah masyarakat. Sementara Kuomintang yang gencar menyerukan penyatuan kembali dengan Tiongkok, pamornya mulai pudar.

Iklan