Pierre Gemayel Dimakamkan - Pembunuhnya Dilacak | Fokus | DW | 23.11.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Pierre Gemayel Dimakamkan - Pembunuhnya Dilacak

Pembunuhan terhadap Pierre Gemayel mencetuskan perasaan cemas di Libanon dan di seluruh dunia.

Peti Jenazah Gemayel dalam perjalanan ke Bikfaya

Peti Jenazah Gemayel dalam perjalanan ke Bikfaya

Dewan Keamanan PBB mengecam tindakan itu dan menuntut agar kasus itu dibawa ke mahkamah internasional, yang juga menangani pembunuhan terhadap mantan PM Rafiq Hariri.

Kubu anti Suriah di Libanon mengimbau partisipasi dalam upacara perkabungan bagi Pierre Gemayel. Sekaligus tanda dukungan bagi pemerintahan PM Fuad Siniora. Sampai Rabu (22/11) malam, keluarga menteri yang dibunuh itu menerima ucapan belasungkawa di kampung halaman keluarga Gemayel di Bikfaya.

Jenazah Pierre Gemayel juga dibawa ke kota itu dalam arak-arakan yang diiringi dengan tembakan salvo. Berulang kali terdengar puji-pujian bagi Gemayel, diselingi dengan cacian terhadap Suriah. Setelah dilepaskannya tembakan maut, pemerintah di Damaskus langsung dicurigai sebagai dalang dari tindakan itu, termasuk pula sekitar selusin serangan yang sejak bulan Februari tahun lalu telah menewaskan lima politisi dan cendekiawan penting Libanon, diantaranya adalah mantan PM Rafiq Hariri.

Pemimpin kelompok Drus, Walid Jumblatt, mengatakan: "Saya menggugat rejim di Suriah. Karena mereka tidak ingin melihat Libanon dan rakyatnya hidup bebas, merdeka, aman dan sejahtera."

Semua yang menjadi korban serangan adalah pengritik rejim Suriah. Dalam sebuah pernyataan Perhimpunan Kelompok Anti Suriah dikatakan, rejim dinas rahasia Libanon-Suriah harus digulingkan, termasuk Presiden Emile Lahoud di pucuknya. Walaupun lewat pidato televisi ia mengecam pembunuhan terhadap Gemayel sebagai bencana yang memukul seluruh rakyat Libanon, tetapi Lahoud dianggap sebagai kakitangan Suriah.

Bahkan diperkirakan ia juga terlibat dalam pembunuhan terhadap mantan PM Hariri. Setidaknya, petugas pengusutan yang ditugaskan oleh PBB melacak dalang pembunuhan terhadap Hariri di lingkungan Presiden Lahoud dan Presiden Suriah Bashar el Assad. Tetapi sebelum mahkamah yang bersangkutan dapat memulai tugasnya, parlemen di Beirut, presiden dan pemerintahan Libanon harus menyetujuinya.

Minggu lalu, enam menteri pro Suriah telah meninggalkan kabinet Siniora. Nampaknya karena mereka menentang mahkamah yang direncanakan itu. Dengan demikian pemerintah Libanon menjadi lemah, tetapi bukan berarti tidak dapat lagi bertindak. Namun setelah pembunuhan terhadap Gemayel, kabinet yang semula terdiri dari 24 orang menteri itu, kini telah menyusut sepertiganya, dapat diartikan sebagai peletakan jabatan. Ini sesuai dengan keinginan Hisbullah dan kelompok-kelompok pro Suriah. Oleh sebab itu Walid Jumblatt memperingatkan kemungkinan akan terjadinya serangan pembunuhan berikutnya. Dikatakannya: "Sekarang kita masih memiliki mayoritas yang diperlukan."

Yang dimaksudkan dengan mayoritas adalah mereka yang mendukung mahkamah PBB yang direncanakan. Tetapi kalau ada lagi seorang menteri atau anggota parlemen yang dibunuh, jumlah mereka berkurang dan hilang pula kemungkinan untuk melakukan pemeriksaan.

PM Fuad Siniora meminta bantuan PBB untuk menyingkap kasus pembunuhan terhadap Pierre Gemayel. Pemeriksaan kasus pembunuhan terhadap mantan PM Rafiq Hariri hendaknya diperluas dengan kasus pembunuhan terhadap Gemayel.

Pemerintah Suriah kini juga mengecam pembunuhan terhadap Gemayel, dan sekaligus menegaskan, tidak menginginkan negara tetangga yang kondisinya tidak stabil. Tetapi banyak orang kini mengkhawatirkan munculnya lagi sengketa atau bahkan perang saudara yang baru. Padalah baru saja pertengahan tahun ini Libanon diguncang oleh peperangan.