Picu Pro Kontra, Jerman Minta Ukraina Batasi Pengungsi Pria
19 November 2025
Kanselir Jerman Friedrich Merz mengikuti seruan dari partainya, Partai Kristen Demokrat (CDU) dan Partai Kristen Sosialis (CSU), untuk mengurangi jumlah pria muda Ukraina yang masuk ke Jerman.
Lewat panggilan telepon Kamis (13/11) lalu, Merz meminta Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk "memastikan bahwa khususnya para pemuda Ukraina” untuk tidak "datang ke Jerman dalam jumlah yang terus meningkat.” Ia mengatakan bahwa mereka seharusnya bertugas di negara mereka sendiri, di mana mereka dibutuhkan, tutur Merz di Berlin.
Tekanan pada Kyiv untuk mengendalikan arus pria muda
Markus Soeder, Perdana Menteri Bavaria sekaligus ketua CSU, adalah politikus tingkat tinggi pertama dari Jerman yang menyampaikan komentar serupa.
Dalam wawancara dengan tabloid Bild, Soeder meminta Uni Eropa (UE) dan pemerintah Jerman menekan Ukraina agar "mengendalikan dan secara signifikan mengurangi” jumlah pria muda yang melarikan diri dari perang ke Jerman. Sekretaris Jenderal CDU Carsten Linnemann juga berkomentar serupa.
Pada akhir Agustus, Kyiv mengizinkan pria berusia 18 hingga 22 tahun untuk meninggalkan Ukraina. Sebelumnya, hal itu tidak diperbolehkan, meskipun kelompok usia tersebut tidak masuk wajib militer.
Menurut Kementerian Dalam Negeri Jerman, jumlah kedatangan mingguan dari kelompok usia ini meningkat dari 19 orang di pertengahan Agustus menjadi 1.400–1.800 orang pada akhir Oktober. Secara total, lebih dari 1,2 juta pengungsi Ukraina tinggal di Jerman.
Partai Sosial Demokrat (SPD) belum mengambil posisi jelas dalam isu ini. Ralf Stegner, anggota parlemen SPD, mengatakan kepada DW bahwa ia merasa sulit meminta para pemuda Ukraina menjadi tentara untuk negaranya.
"Yang paling penting adalah kita semua melakukan bagian kita untuk memastikan perang ini berakhir secepat mungkin,” katanya. Ia menambahkan bahwa fokus pada migrasi seringkali hanya menjadi latar untuk inisiatif politik tertentu. "Kita harus memperlakukan mereka yang datang kepada kita, misalnya sebagai pengungsi perang, dengan adil.”
Apa sebenarnya agenda Merz?
Menurut Stefan Meister dari German Council on Foreign Relations (DGAP), salah satu alasan seruan Merz kepada Zelenskyy adalah upaya pemerintah Jerman untuk membatasi migrasi ke Jerman.
Kanselir khawatir bahwa pria muda yang dibutuhkan Ukraina justru meninggalkan negara mereka. Namun ia juga ingin memenuhi janji kampanyenya, kata Meister kepada DW.
Hal ini tidak hanya menyangkut warga Ukraina. Pembatasan imigrasi merupakan bagian dari perdebatan yang lebih luas tentang pengungsi dan migran di Jerman. Secara keseluruhan, Jerman telah menampung lebih dari satu juta warga Ukraina, sebuah angka yang menurut Meister memberi tekanan besar pada sistem negara tersebut.
Dalam konteks ini, Meister menuduh Merz melakukan "bentuk populisme,” dengan menunjukkan bahwa Alternative für Deutschland (AfD), partai sayap kanan Jerman, menekan CDU melalui isu ini.
Beberapa pengamat juga melihat reformasi terbaru tunjangan dasar Jerman sebagai pesan bagi pemilih potensial AfD. Reformasi tersebut mengurangi manfaat bagi pengungsi Ukraina yang datang setelah 1 April 2025, sehingga setara dengan tunjangan untuk pencari suaka. Nilainya setara dengan potongan sekitar €120 (sekitar 2,3 juta Rupiah) per bulan.
Sebelumnya, warga Ukraina lajang menerima sekitar €560 (sekitar 10,8 juta Rupiah) per bulan plus biaya sewa, pemanas, dan asuransi kesehatan. Ke depannya, dukungan itu diperkirakan turun menjadi sekitar €440 (sekitar 8,5 juta Rupiah), dan jaminan kesehatan juga akan dikurangi.
"Merz benar,” kata Winfried Schneider-Deters, ilmuwan politik dan jurnalis yang tinggal di Ukraina dan Jerman. "Sungguh ironis bahwa kanselir Jerman harus mengingatkan presiden Ukraina bahwa para pemuda dibutuhkan di sana, bahkan untuk ‘rekonstruksi', sebagai tentara,” ujarnya.
Bisakah Jerman membatasi masuknya warga Ukraina?
Menurut Meister, seruan kanselir Jerman muncul dari keterbatasan kemampuan Jerman untuk membatasi masuknya warga Ukraina.
Warga Ukraina berhak tinggal di UE hingga 90 hari per tahun tanpa visa. Selain itu, setelah invasi Rusia pada Februari 2022, Eropa memberikan perlindungan sementara bagi semua warga Ukraina, termasuk izin kerja. Aturan ini diperpanjang sampai Maret 2027. Namun Meister menduga peningkatan terbaru juga dipengaruhi musim: "Lebih banyak orang datang saat musim dingin, dan sebagian pergi kembali saat musim semi.”
Sementara itu, Presiden Zelenskyy belum memberikan komentar.
Namun Meister dan Schneider-Deters meragukan bahwa Kyiv akan memenuhi permintaan kanselir Jerman. "Itu akan menjadi keputusan yang sangat tidak populer di Ukraina,” kata Meister. Ia berpendapat bahwa Eropa dan Jerman sebaiknya mengirim lebih banyak senjata kepada Ukraina.
Apa pendapat warga Ukraina di Jerman?
Iryna Schulikina, direktur eksekutif organisasi non-pemerintah Ukraina "Vitsche” di Berlin, sependapat. "Ukraina butuh orang, tapi juga butuh senjata. Sangat penting agar negara-negara Eropa, termasuk Jerman, berhenti membiayai perang Rusia dengan membeli minyak dan gas,” katanya.
Ia menekankan bahwa pria muda yang dibahas ini adalah kelompok yang di Jerman baru lulus sekolah, masih ditanggung orang tua, dan masih menerima tunjangan anak. "Mengapa mereka tiba-tiba tidak dianggap remaja hanya karena berasal dari Ukraina? Hidup mereka sudah dibentuk oleh 11 tahun perang, dan empat tahun terakhir oleh invasi besar-besaran Rusia,” ujarnya.
Menurutnya, warga Ukraina tidak akan tinggal di luar negeri selamanya. "Itu manipulasi. Banyak yang kembali, banyak yang berencana kembali, banyak yang belajar agar dapat berguna bagi negara mereka di masa depan. Pernyataan yang mencoba menyelesaikan masalah dengan menekan anak-anak Ukraina bukan hanya salah tetapi juga munafik,” katanya.
Namun Schneider-Deters tetap skeptis. Ia tidak percaya sebagian besar pemuda Ukraina akan kembali ke tanah air setelah perang.
Banyak warga Ukraina berniat menetap
Satu dari dua pengungsi Ukraina bersedia kembali, tetapi hanya jika syarat tertentu terpenuhi, seperti pemulihan perbatasan 1991, jaminan keamanan melalui keanggotaan NATO, dan prospek masuk UE. Data tersebut berdasarkan studi dari lembaga penelitian ifo di München pada Oktober 2025, yang mewawancarai warga Ukraina di 30 negara Eropa.
Namun proporsi yang ingin tetap tinggal di Jerman lebih tinggi. Studi tersebut menyebut bahwa 59% pengungsi yang datang pada bulan-bulan pertama perang dan 69% dari mereka yang datang kemudian tidak berminat kembali ke Ukraina.
Temuan itu mirip dengan studi dari Kantor Federal Migrasi dan Pengungsi (BAMF) pada 2023/24. Meski tidak ada angka pasti mengenai berapa banyak warga Ukraina yang sudah kembali, berbagai perkiraan menunjukkan bahwa 300.000 hingga 400.000 orang yang datang sejak 2022 telah kembali atau pindah ke negara lain.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Alfi Milano Anadri dan Adelia Dinda Sani
Editor: Yuniman Farid