Picu Debat Nasional, Anak Perempuan Tuntut Paduan Suara di Jerman | JERMAN: Berita dan laporan dari Berlin dan sekitarnya | DW | 16.08.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

jerman

Picu Debat Nasional, Anak Perempuan Tuntut Paduan Suara di Jerman

Seorang gadis berusia sembilan tahun di Berlin yang ditolak masuk ke paduan suara anak laki-laki mengajukan gugatan. Kasus ini memicu perdebatan di media Jerman tentang kesetaraan gender versus kebebasan artistik.

Seorang gadis berusia sembilan tahun yang ditolak oleh salah satu paduan suara anak laki-laki paling terkenal di Jerman menuntut paduan suara itu karena diskriminasi gender.

Kasus ini memicu perdebatan nasional tentang kesetaraan hak versus kebebasan artistik.

Didirikan pada tahun 1465, Staats- und Domchor (Paduan Suara Negara dan Katedral) tidak pernah menerima satu pun anggota perempuan selama 554 tahun.

Anak perempuan itu awalnya mengikuti audisi dengan paduan suara tersebut pada bulan Maret tetapi ditolak.

Menurut pengadilan, paduan suara menyatakan penolakan itu "bukan karena jenis kelamin" dan bahwa anak perempuan itu akan berhasil jika suaranya "cocok dengan karakteristik suara yang diinginkan dari paduan suara anak laki-laki."

Diskriminasi yang 'tidak diizinkan'

Sang Ibu telah mengajukan komplain atas nama putrinya dan mengatakan bahwa penolakan itu bersifat diskriminatif dan melanggar hak anaknya untuk mendapatkan kesempatan yang sama dari sebuah lembaga yang menerima dana negara.

Pengacara gadis itu, Susann Braecklein, mengatakan bahwa klien mudanya melamar ke paduan suara pada 2016 dan 2018 dan ditolak dua kali tanpa ditawari audisi.

Staats- und Domchor Berlin

Sejak didirikan 554 tahun lalu, Staats und Domchor tidak pernah menerima satu pun penyanyi cilik perempuan

Dekan fakultas musik di Universitas Seni Berlin, yang berafiliasi dengan paduan suara, memberi tahu gadis itu secara tertulis bahwa "seorang gadis tidak akan pernah bernyanyi dalam paduan suara anak laki-laki."

Namun demikian, dia diundang untuk mengikuti audisi pada bulan Maret, namun ditolak lagi dan diberitahu bahwa dia tidak memiliki motivasi atau bakat yang diperlukan untuk bergabung dengan paduan suara.

Pro dan Kontra

Kasus ini telah menyebabkan perdebatan sengit di media Jerman tentang tradisi, budaya, bakat dan musikologi versus kesetaraan gender.

Mereka yang berpihak pada paduan suara berpendapat bahwa yang penting adalah nada, bukan bakat. Adanya suara perempuan akan mengakhiri suara tradisional paduan suara Staats- und Domchor, kata mereka.

Hannah Bethke, seorang kolumnis harian Frankfurter Allgemeine Zeitung, mengatakan bahwa "tidak ada yang mengatakan perempuan tidak bisa bernyanyi juga ... penilaian itu harus diserahkan kepada para musisi."

Dia menambahkan bahwa siapa pun yang memperumit "kesalahpahaman kesetaraan gender di sini mengorbankan aset budaya."

Yang lain tetap bersikukuh bahwa masalahnya adalah masalah diskriminasi gender dan keterbelakangan.

Abbie Conant, seorang trombonis dari Amerika Serikat yang menghadapi diskriminasi sebagai seorang wanita ketika pertama kali mulai bermain dengan Munich Philharmonic pada tahun 1980, mengatakan bahwa banyak penelitian mengungkapkan, "bahkan musisi profesional tidak dapat dengan andal mendengar perbedaan antara paduan suara anak laki-laki dan anak perempuan yang menyanyikan repertoar yang sama."

Conant juga menunjukkan bahwa paduan suara anak laki-laki di negara-negara lain termasuk Inggris telah terbuka untuk anggota perempuan tanpa sengketa hukum. "Mengapa masyarakat tercerahkan seperti kita di Jerman ingin melanjutkan tradisi diskriminatif semacam ini?" katanya.

na/ts (AP, dpa)