Pesta Demokrasi Bagi Diaspora Indonesia di Jerman | Fokus | DW | 11.04.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Diaspora Bersuara

Pesta Demokrasi Bagi Diaspora Indonesia di Jerman

Pemilu Legislatif dan Presiden 2019 begitu dinantikan oleh banyak Warga Negara Indonesia yang tinggal di Jerman. Hal ini pun mengundang banyak kisah menarik dari berbagai macam latar belakang individu.

KPU telah menetapkan jumlah Daftar Pemilih Tetap Hasil Perbaikan tahap II (DPTHP-II). Berdasarkan hasil rekapitulasi jumlah pemilih mencapai 192.828.520 orang. Antusiasme terhadap pesta demokrasi tersebut pun dirasakan oleh seluruh elemen bangsa Indonesia .

Selain dirasakan oleh pemilih dalam negeri, antusiasme juga begitu dirasakan oleh Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di luar negeri. Pemilu 2019 akan dilaksanakan di 130 titik di seluruh wilayah di luar Indonesia oleh Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN).

Di Jerman, sebagai negara yang memiliki peserta Pemilu 2019 terregistrasi terbesar di Eropa. Terhitung ada sebanyak 16.045 orang telah terdaftar di PPLN Berlin, PPLN Frankfurt dan PPLN Hamburg. Pemilih tersebut tersebar di 16 negara bagian. Pelaksanaannya akan diselenggarakan lebih awal, yaitu pada tanggal 13 April.

Nantinya pemilih tersebut dapat menggunakan hak suaranya dengan dua metode, yaitu melalui pos atau di Tempat Pemungutan Suara Luar Negeri (TPSLN). Metode pos digunakan untuk pemilih yang bertempat tinggal jauh dari panitia pemilihan. Setelah mencoblos pemilih akan mengirim kembali surat suara kepada PPLN.

Namun penyelenggaraan pemilu luar negeri bukan tanpa tantangan. Di antara tantangan tersebut adalah koordinasi dengan KPU, koordinasi dengan sesama PPLN, hingga ketidakpedulian calon pemilih akan berbagai informasi berkaitan dengan pemilu. "Calon pemilih kurang membaca informasi mengenai Pemilu dengan seksama. Ini tidak berubah dari semenjak saya mengikuti PPLN di tahun 2009,” kata Juanita, Ketua PPLN Frankfurt lewat surat elektronik yang didapat DW. Padahal sosialisasi pemilu terus disampaikan melalui situs web hingga media sosial.

Keikutsertaan pada Pemilu 2019 oleh seluruh WNI di Jerman sangat diharapkan karena "tidak melaksanakan hak memilih sama saja dengan tidak menghormati para pendiri bangsa. Mereka telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa yang tidak bisa memilih karena dijajah ratusan tahun,” kata Duta Besar Indonesia untuk Jerman, Arief Havas Oegroseno, lewat pesan singkat.

Hamzah Shafardan, salah satu mahasiswa Indonesia di kota Bonn mengungkapkan semangatnya menyambut Pemilu 2019. "Saya antusias sekali, ini pemilu pertama. Ditambah lagi kita di luar negeri atmosfernya beda, cara memilihnya beda. Ini jadi pengalaman sekali seumur hidup buat saya,” katanya.

Ada juga , seorang Romo Katolik asal Flores yang telah tinggal melanglang buana di Eropa sejak 1999. "Saya masih memilih, karena saya merasa sebagai orang Indonesia. Kita mau Indonesia tetap aman, maju dan dihargai di mata dunia," ujarnya.

Dengan latar belakang yang beragam, beberapa pemilih di Jerman berbicara kepada DW tentang pemilu. Alasan mereka ikut serta dalam pemilu, harapan, hingga nilai suatu kewarganegaraan menjadi cerita tersendiri bagi diaspora-diaspora Indonesia di Jerman. DW telah merangkumnya untuk Anda dalam sejumlah artikel, galeri gambar serta video berseri bertema "Diaspora Bersuara”. (ts) 

Wawancara dilakukan oleh Yusuf Gandang Pamuncak, Vidi Athena Dewi Legowo-Zipperer, Rizki Akbar Putra dan Rizki Nugraha.

Laporan Pilihan