Tokyo 2020: Pesenam Jerman Lawan Seksualisasi dengan Baju Lebih Tertutup | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 27.07.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Protes

Tokyo 2020: Pesenam Jerman Lawan Seksualisasi dengan Baju Lebih Tertutup

Tim senam Jerman mengenakan setelan panjang yang lebih tertutup selama kualifikasi di Olimpiade Tokyo, sebagai bentuk protes terhadap seksualisasi perempuan dalam olahraga. Tindakan ini mendapat pujian dari sesama atlet.

Tim pesenam Jerman

Tim pesenam Jerman mengenakan seragam yang lebih tertutup sebagai bentuk protes melawan seksualisasi terhadap perempuan dalam olahraga

Tim pesenam Jerman mengambil sikap menentang seksualisasi terhadap perempuan dalam olahraga dengan mengenakan unitard atau baju yang lebih panjang dan tertutup, alih-alih mengenakan baju ketat berpotongan bikini.

Tim yang terdiri dari Sarah Voss, Pauline Schäfer, Elisabeth Seitz dan Kim Bui, telah mengenakan unitard selama pelatihan pada Kamis (22/07). Namun, keputusan untuk menggunakan setelan tersebut saat bertanding baru dibuat beberapa saat sebelum pertandingan di Olimpiade Tokyo 2020 dimulai.

"Kami duduk bersama hari itu dan berkata, oke, kami ingin memiliki kompetisi yang besar," kata Voss, berusia 21 tahun.

"Saat kamu tumbuh sebagai seorang perempuan, cukup sulit untuk membiasakan diri dengan tubuh barumu,‘‘ tambahnya.

"Kami ingin memastikan semua orang merasa nyaman dan kami menunjukkan kepada semua orang bahwa mereka dapat mengenakan apa pun yang mereka inginkan dan terlihat luar biasa, merasa luar biasa, apakah itu dalam triko panjang atau pendek," lanjutnya. 

Olimpiade Tokyo

Pesenam Jerman Kim Bui saat bertanding mengenakan unitard di Olimpiade Tokyo 2020

Ingin jadi panutan

Voss mengatakan mereka ingin menjadi "panutan", dan tindakan mereka mendapat pujian dari rekan sesama atlet.

"Saya pikir sangat keren bahwa mereka memiliki nyali untuk berdiri di arena yang begitu besar dan menunjukkan kepada gadis-gadis dari seluruh dunia bahwa kamu dapat mengenakan apa pun yang kamu inginkan," kata pesenam Norwegia Julie Erichsen. "Saya memuji mereka untuk itu," tambahnya.

Ketika tim mengenakan unitard mereka untuk pertama kalinya pada bulan April, Seitz mengatakan kepada DW bahwa dia berharap perempuan di cabang olahraga lain akan mengikuti jejak mereka.

"Saya ingin setiap perempuan di setiap olahraga memiliki kesempatan untuk memutuskan sendiri apa yang ingin dia kenakan," katanya.

Pakaian penutup kaki diizinkan dalam kompetisi internasional tetapi sampai sekarang pemakaiannya hampir secara eksklusif untuk alasan agama.

Saat berita ini diturunkan, tim senam Jerman tidak lolos ke final. 

pkp/ha (Reuters/AP)

 

Laporan Pilihan