1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Ilustrasi Greenwashing
Industri makanan dan minuman adalah salah satu pencemar plastik terbesar di dunia

Perusahaan Makanan Eropa Langgar Komitmen Hijau

Kira Schacht
16 Agustus 2022

Bagaimana perusahaan makanan dan minuman Eropa melanggar komitmen mereka sendiri dan apa tindakan politik?

https://www.dw.com/id/perusahaan-makanan-eropa-langgar-komitmen-hijau/a-62763068

Raksasa produk makanan Prancis Danone membuat janji ambisius pada tahun 2009: Dalam dua tahun, 20-30% plastik yang digunakan dalam botol air dari perusahaan itu akan dibuat dari bahan daur ulang. Laporan tentang keberlanjutan Danone menyebut langkah itu "tuas untuk mengurangi berat kemasan dan mengurangi emisi CO2."

Langkah ini akan mendorong ke arah yang benar dalam memerangi polusi plastik global. Plastik bukan hanya salah satu produk utama yang terbuat dari bahan bakar fosil seperti minyak dan gas alam, tapi juga salah satu material yang paling lama terurai. Botol plastik, misalnya, bisa memakan waktu hingga 450 tahun untuk terurai. Potongan mikroplastik yang dihasilkan membahayakan hewan dan manusia, mencemari lautan, tanah, dan bahkan udara. Dan industri makanan dan minuman adalah salah satu pencemar plastik terbesar di dunia.

Organization for Economic Cooperation and Development melaporkan, 79 juta ton sampah plastik dilepaskan ke lingkungan pada tahun 2019, melaluikebocoran limbah ke perairan, pembakaran di lubang terbuka atau dari tempat pembuangan. Itu mewakili lebih dari seperlima dari total global.

Apakah perusahaan telah menepati janji mereka pada isu lingkungan? DW dan Jaringan Jurnalisme Data Eropa meneliti beberapa perusahaan makanan dan minuman terbesar di Eropa untuk mengetahuinya.

Danone, misalnya, tidak melakukan upaya itu. Pada tahun 2014, target perusahaan pada plastik daur ulang mengalami pergeseran: "Tujuannya adalah untuk mencapai tingkat 25% PET daur ulang pada tahun 2020", tulis situs web mereka. Perkembangan di sektor daur ulang yang lebih besar, beberapa di antaranya berada di luar kendali perusahaan, juga memengaruhi seberapa banyak PET daur ulang dapat diintegrasikan. Namun pada tahun 2020, Danone masih menggunakan hanya 20% PET daur ulang dalam botol airnya di seluruh dunia. Dan, pada tahun 2025, 14 tahun setelah tenggat waktu pertama yang ditetapkan sendiri, Danone telah menetapkan tujuan baru: 50% plastik daur ulang pada botol air.

Rekam jejak buruk

Danone tidak menanggapi permintaan tanggapan atas perbedaan target ini. DW dan mitra mengidentifikasi total 98 komitmen plastik dari 24 perusahaan makanan dan minuman yang berkantor pusat di Eropa. Komitmen ini dibuat selama 20 tahun terakhir. Lebih dari setengah dari janji ini hanya dibuat dalam beberapa tahun terakhir, dan sebagian besar menargetkan programnya akan tercapai pada 2025.

Setidaknya terdapat 37 kasus dari janji perusahaan ini memiliki rekam jejak yang tidak baik, 68% jelas gagal atau tidak pernah dilaporkan lagi. Ketika perusahaan gagal memenuhi janjinya terkait reduksi produk plastik, mereka biasanya tidak mengakui hal ini secara terbuka. Sebaliknya, perusahaan umumnya memilih diam-diam mengugurkan tujuannya atau menggeser cakupan target dan tenggat waktu dari yang ditetapkan sebelumnya.

Jika target tidak dapat diverifikasi, DW menghubungi perusahaan yang bertanggung jawab dan, jika klarifikasi diberikan, hal ini akan memperbarui data yang relevan. Jika perusahaan tidak berkomentar lebih lanjut tentang target, mereka tetap dicap tidak jelas dalam memenuhi komitmennya.

Angka-angka ini sejalan dengan studi untuk industri lain. Pada tahun 2021, Uni Eropa menyelidiki klaim hijau di situs web perusahaan dari sektor-sektor seperti garmen, kosmetik, dan peralatan rumah tangga dan menemukan bahwa 42% klaim kemungkinan dibesar-besarkan, salah, atau menyesatkan.

Visualisasi data janji daur ulang perusahaan Eropa

Dari tujuan yang seharusnya dicapai, beberapa komitmen yang diciptakan, lebih merupakan taktik pemasaran daripada perbaikan jangka panjang. Hal ini misalnya dilakukan oleh pabrik bir Belgia Anheuser-Busch InBev, perusahaan in ada di balik merk bir terkenal seperti American Budweiser, Corona dan Beck's. Pada tahun 2017, AB InBev mengumumkan bahwa mereka telah berjanji untuk "melindungi 100 pulau dari polusi plastik laut pada tahun 2020."

Dalam praktiknya, perusahaan ini tidak melakukan perlindungan jangka panjang. Sebagai gantinya, AB InBev mengorganisir 214 pembersihan pantai hanya satu kali di 13 negara, dan kemudian menyatakan, upaya tersebut berhasil satu tahun lebih cepat dari jadwal.

"Banyak perusahaan menggunakan aktivitas pembersihan pantai untuk mempromosikan diri mereka sendiri," kata Larissa Copello, juru kampanye kebijakan LSM lingkungan Zero Waste Europe, yang berbasis di Brussels. "Tapi merekalah yang pertama-tama membuang semua sampah ini ke pantai." Zero Waste Europe menyarankan untuk "mematikan keran" untuk mengurangi limbah kemasan di sumbernya.

Bom Waktu itu Bernama Mikroplastik

Hanya 19 dari 98 janji yang ditemukan DW, menargetkan untuk mengurangi jumlah plastik yang digunakan dalam kemasan atau jumlah plastik murni, dan sebagian besar dari janji itu tidak dilakukan.

DW menemukan komitmen dari 24 perusahaan, 16 di antaranya berjanji untuk memproduksi kemasan dengan plastik yang dapat didaur ulang. Tapi itu tidak menjamin bahwa plastik akan didaur ulang.

"Jika tidak ada infrastruktur untuk mengumpulkan produk-produk ini secara terpisah, maka mereka tidak dapat didaur ulang,” kata Copello. Hal yang sama berlaku untuk produk yang seharusnya dapat terdegradasi atau dapat dibuat kompos. "Setidaknya di Belgia, kami tidak memiliki koleksi terpisah untuk barang-barang yang dapat dikomposkan atau terurai secara hayati," kata Copello. "Mereka hanya berakhir di tempat sampah campuran."Terutama produsen plastik telah lama memiliki lobi menentang sistem daur ulang yang efektif.

Sepertiga dari janji yang terdokumentasi, perusahaan berkomitmen untuk memasukkan lebih banyak plastik daur ulang dalam kemasan mereka. Itu akan menjadi peningkatan, papar Copello.

Dan beberapa langkah kecil telah dilakukan. Ferrero Italia, misalnya, mulai meningkatkan jumlah PET daur ulang yang digunakan dalam kemasan sekunder pada tahun 2010. Perusahaan pembotolan Coca-Cola, Swiss Coca-Cola HBC meluncurkan botol yang terbuat dari 100% PET daur ulang untuk empat merek airnya pada tahun 2019, setelah target itu diumumkan setahun sebelumnya.

Komitmen sukarela tidak cukup untuk perubahan

Secara keseluruhan, permintaan plastik daur ulang tetap rendah dan harganya tinggi, yang berarti bahwa sebagian besar lebih menguntungkan bagi perusahaan untuk menggunakan plastik murni yang baru diproduksi.

"Inisiatif sukarela saja tidak cukup", kata Nusa Urbancic, direktur kampanye di Changing Markets Foundation yang berbasis di Brussels, yang bekerja untuk mengekspos praktik dan lobi perusahaan yang tidak bertanggung jawab untuk undang-undang yang lebih komprehensif tentang plastik.

"Alih-alih menggunakan kekuatan, uang, dan sumber daya mereka untuk mendorong solusi, seringkali perusahaan melakukan yang sebaliknya," kata Urbancic. "Mereka bersembunyi di balik komitmen sukarela, untuk tidak membuat perubahan yang sebetulnya perlu mereka lakukan."

Faktanya, menurut Urbancic, komitmen sukarela seringkali merupakan taktik sadar yang dirancang untuk menunda dan mengalihkan perhatian dari undang-undang progresif.

Dorongan undang-undang mendorong PET daur ulang

Meskipun ada tekanan dari produsen plastik, Uni Eropa baru-baru ini mengesahkan undang-undang plastik yang ambisius. Di bawah arahan "Plastik Sekali Pakai", misalnya, barang-barang sekali pakai seperti kantong plastik, peralatan makan dan sedotan tidak dapat didistribusikan lagi di pasar UE. Ini mengikuti jejak negara-negara Afrika seperti Eritrea, yang melarang kantong plastik pada 2005, Rwanda (2008) dan Maroko (2009).

Arahan UE juga mencakup target memasukkan setidaknya 25% plastik daur ulang ke dalam botol PET pada tahun 2025 dan 30% di semua botol pada tahun 2030.

Undang-undang baru kemungkinan merupakan bagian dari alasan peningkatan pesat dalam komitmen plastik. "Ini telah membuat perusahaan menyadari, bahwa mereka perlu meningkatkan upayanya untuk memenuhi target tersebut," kata Urbancic. Sekarang, perusahaan sendiri bahkan menyerukan sistem daur ulang yang lebih baik untuk membantu mereka memenuhi kewajiban hukum mereka.

Komitmen sukarela dapat memungkinkan Greenwashing

Lebih banyak inisiatif juga mengumpulkan janji sukarela perusahaan di database publik. Uni Eropa menyusun komitmen pada Platform Pemangku Kepentingan Ekonomi Sirkular Eropa, dan Ellen MacArthur Foundation yang berbasis di Inggris mengumpulkan penandatangan inisiatif plastik dalam program Komitmen Globalnya.

Janji yang dibuat yang dicatatyayasan sangat bervariasi dalam ambisi mereka. Unilever, misalnya, telah menyatakan tujuannya untuk mengurangi penggunaan plastik yang baru diproduksi hingga 50% dari 2020 hingga 2025, tetapi Ferrero hanya menjanjikan 10%. Sementara perusahaan anggur dan minuman beralkohol Prancis Pernod Ricard hanya menawarkan pengurangan 5%.

Visualisasi data janji daur ulang perusahaan Eropa

Copello dari Zero Waste dan  Urbancic dari Changing Markets Foundation, menganggap komitmen sukarela seperti yang diminta oleh Ellen MacArthur Foundation kurang efektif daripada undang-undang. Urbancic menyebut strategi semacam itu "all carrot, no stick." Istilah ini merujuk pada rumitnya sebuah aturan tanpa penegakan hukum yang jelas.

"Perusahaan bahkan tidak diwajibkan untuk mengungkapkan informasi dasar seperti jejak plastik mereka. Dan data yang dipublikasikan tidak diverifikasi secara independen," papar Urbancic. Seperti skema sukarela lainnya, menurut Urbancic, ini berisiko digunakan sebagai tabir asap untuk memfasilitasi greenwashing dan menunda perubahan yang sebenarnya.

Memperlambat kenaikan produksi plastik

Changing Markets merekomendasikan, setidaknya, inisiatif sukarela menetapkan target ambisius untuk partisipasi, memastikan anggota melaporkan kemajuan mereka dan meminta pertanggungjawaban publik atas kinerja mereka.

Dalam beberapa tahun ke depan, UE berencana untuk menerapkan undang-undang plastik yang lebih menyeluruh di bawah Rencana Aksi Ekonomi Sirkulasi, yang akan mencakup target untuk daur ulang plastik dan langkah-langkah untuk menghindari limbah kemasan. Dan perubahan sangat dibutuhkan. Produksi plastik global masih tumbuh dan diperkirakan akan terus demikian dalam beberapa dekade mendatang.

Bahkan untuk memperlambat peningkatan ini, negara-negara lain perlu mengikutinya. Data menunjukkan bahwa perusahaan hanya mengubah taktik mereka ketika ditekan melalui undang-undang, akuntabilitas publik, dan permintaan konsumen. Tes lakmus berikutnya akan datang pada tahun 2025, ketika perusahaan harus memenuhi janji plastik mereka saat ini. Beberapa di antaranya sekarang wajib dilakukan, setidaknya di dalam kawasan UE. (rs/as)

Catatan: Danone setelahnya melakukan revisi pada gol tahun 2020, agar hanya berlaku untuk negara-negara "di mana peraturan mengizinkan" rPET, tidak termasuk Cina, Turki dan Iran. Dengan tidak memasukkan negara-negara tersebut, perusahaan mencapai 25,5% rPET dalam botol air mereka pada tahun 2020. Artikel ini merefleksikan versi asli dari janji tersebut.
Koreksi 17 September: Artikel ini sebelumnya menyatakan bahwa, pada tahun 2008, Danone berjanji untuk menggunakan 50% rPET dalam botol air pada tahun 2009. Baru setelah dipublikasikan, Danone mengklarifikasi bahwa angka 50% mengacu pada batas atas teoritis rPET di botol, bukan bertujuan untuk  mencapai hal itu di semua botol pada tahun 2011. Kami telah memperbaiki ini dalam teks dan dalam basis data online terkait.