Perundingan Masalah Program Atom Korea Utara Dimulai | Fokus | DW | 08.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Perundingan Masalah Program Atom Korea Utara Dimulai

Kamis (7/2) ini di Beijing perundingan program atom antara Amerika Serikat dan Korea Utara dimulai. Dalam perundingan tersebut hadir perwakilan Korea Selatan, Jepang dan Rusia serta Cina sebagai juru penengah. Apakah perundingan kali ini akan membuahkan hasil?

Protes anti nuklir Korea Utara di Seoul, Korea Selatan

Protes anti nuklir Korea Utara di Seoul, Korea Selatan

Perundingan segi enam lima hari di akhir Desember lalu kembali berakhir dengan kebuntuan. Karena tidak menghasilkan keputusan, perundingan dilanjutkan. Keadaan itu sudah berlangsung sejak 1994. Awalnya Amerika Serikat berunding dengan Korea Utara mengenai penghentian program atom Korea Utara. Delapan tahun kemudian, untuk pertama kalinya perundingan enam pihak diadakan.

Hari Kamis (08/02) ini perundingan bagian ketiga putaran kelima mengenai program atom Korea Utara dimulai. Hasil perundingan tersebut menurut Wakil Direktur Institut Pengontrolan Senjata di Beijing Teng Jianqun kini bergantung pada Amerika Serikat dan Korea Utara. Teng Jianqun mengatakan: "Saya pikir ketidakpercayaan antara Amerika Serikat dan Korea Utara merupakan inti masalahnya. Jika mereka tidak berdamai, sengketa atom tidak akan terselesaikan.“

Hingga kini politik tarik ulur terus dilakukan. Amerika Serikat menuntut daftar semua lokasi fasilitas atom Korea Utara, semua hasil konversi plutonium dan menginspeksinya, juga untuk memusnahkan uranium. Korea Utara bertahan dengan alasan atom tersebut digunakan untuk kepentingan damai.

Di tahun 2005, sebuah gebrakan tampaknya tercapai, Amerika Serikat dan Korea Selatan menjanjikan paket bantuan untuk Korea Utara. Pemerintahan Kim Jong-il mengumumkan siap untuk menghentikan program nuklirnya. Tak berapa lama, Amerika Serikat menuduh Korea Utara melakukan pencucian uang di Macao dan membekukan semua rekening bank Korea Utara. Pemerintah di Pyongyang tentu saja marah dan menarik kembali janji untuk menghentikan program atomnya.

Tahun lalu secara diam-diam Korea Utara melanjutkan uji coba nuklirnya. Konsekuensinya, kini Korea Utara terancam sanksi. Teng berpendapat: "Kelihatannya tujuan Amerika Serikat adalah menghentikan program senjata nuklir Korea Utara. Sepertinya itu memang tujuan Amerika Serikat. Tapi saya tidak percaya hal itu. Beberapa ilmuwan di Cina mengatakan nantinya akan ada tuntutan penghentian program rudal, lalu program senjata kimia terhadap Korea Utara. Saya ragu apakah kedua pihak setuju untuk menghentikan sengketa program nuklir dalam waktu dekat ini. Jawabannya mungkin tidak.”

Korea Utara yang kini sangat membutuhkan uang menuntut pencairan dana rekening bank yang selama ini dibekukan. Pemerintah di Pyongyang juga memohon PBB untuk mencabut ancaman sanksi. Tuntutan tersebut tidak dipenuhi Amerika Serikat.

Cina sejak awal berperan sebagai juru penengah. Bukan hanya karena Cina adalah negara tetangga Korea Utara yang juga negara komunis, namun juga maksud tersendiri. Pengamat senjata Teng Jianqun: “Stabilitas semenanjung Korea dan Asia Timur merupakan keinginan utama Cina. Sejak lebih dari 20 tahun keinginan utama kami adalah terus mengembangkan perekonomian Cina. Salah satu syarat pembangunan ekonomi adalah stabilitas hubungan dengan negara besar dan negara tetangga. Krisis akan menghambat pembangunan kami. Kawasan timur laut Asia merupakan wilayah yang sangat peka. Di wilayah ini pernah terjadi empat pertempuran yang terjadi di negara yang berbeda. Tindakan politis apapun yang dilakukan Amerika Serikat, mau tidak mau membuat Cina terlibat dalam perang.”