Perubahan Iklim Global Ancam Kehidupan Manusia | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 07.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Perubahan Iklim Global Ancam Kehidupan Manusia

Jumat (06/04) di Brussel, Dewan Iklim Dunia PBB, IPCC memaparkan laporan bagian kedua mengenai perubahan iklim dunia.

Penyampaian Laporan IPCC di Brussel

Penyampaian Laporan IPCC di Brussel

Menurut laporan itu, penduduk yang termiskin akan paling menderita akibat kelaparan, kurangnya air bersih, bencana topan dan banjir yang disebabkan oleh perubahan iklim global. Sekitar 250 juta warga Afrika diperkirakan akan menderita kekurangan air bersih hingga tahun 2020. Jumlah hasil panen di sejumlah negara akan turun separoh. Sekitar 30 persen jenis hewan dan tanaman terancam punah jika temperatur turun dua derajat Celsius.

Topan, banjir, udara panas dan kebakaran hutan semak semakin mengancam Amerika Utara. Asia juga terancam banjir besar melalui pencairan gletser. Kerugian ekonomi rata-rata sekitar lima persen dari pendapatan kotor nasional, jika temperatur naik empat derajat Celsius. Demikian menurut laporan IPCC.

Martin Parry, wakil pimpinan pertemuan di Brussel itu mengatakan, dampak perubahan iklim akan dirasakan oleh semua benua. Banjir, topan, musim kering dan panas akan semakin mengancam manusia. Wilayah di Afrika yang kini memang sudah menderita kekurangan air akan seratus persen kering. Bahaya kelaparan akan meningkat.

Penyampaian laporan PBB itu sempat tertunda karena perundingan alot. Pasalnya sejumlah negara ingin melunakkan laporan tersebut dengan menghapuskan bagian-bagian tertentu. Misalnya, AS dilaporkan berhasil mencoret satu bagian yang memprediksi Amerika Utara akan menderita kerugian besar dalam bidang ekonomi dan sistem budaya. Wakil Menteri Lingkungan Jerman, Michael Müller mengomentari laporan iklim PBB itu: „Di satu sisi masalah ini menyangkut akal sehat ekologis, sedangkan di sisi lain menyangkut kepentingan jangka pendek yang amat penting. Sayangnya, pada pertemuan di Brussel tersebut, kepentingan jangka pendek itu terutama didominasi oleh AS, Cina dan Rusia dan beberapa negara lainnya. Dan ini membuat kita mundur sekali.“

Butir kontroversial lainya adalah mengenai prediksi punahnya jenis hewan dan tanaman dan mengenai apakah perkiraan jumlah kerugian keuangan akibat perubahan iklim dimasukkan ke dalam laporan atau tidak. Juga diperdebatkan tentang ketepatan perkiraan.

Guru besar untuk iklim lingkungan dari Universitas Teknik München, Professor Annette Menzel mengemukakan kekecewaannya: „Sebagai ilmuwan saya telah ikut menganalisa ratusan ribu data, mencari dan membaca begitu banyak buku acuan, membuat sejumlah kesimpulan dan banyak sekali menyediakan waktu untuk laporan tersebut. Dan sekarang saya sangat heran kenapa laporan yang keluar begini.“

Namun, kepala sekretariat iklim PBB, Yvo de Boer mengatakan, laporan IPCC itu merupakan sinyal yang sangat jelas bagi semua pemerintahan. Bagian pertama laporan yang dikeluarkan Februari lalu memprediksi kenaikan suhu global sekitar 6, 4 derajat Celsius hingga akhir abad ini.

Iklan