Perubahan Iklim dan Negara Berkembang | Sosial | DW | 17.11.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Perubahan Iklim dan Negara Berkembang

Konferensi iklim PBB di Nairobi adalah yang pertama kali diselenggarakan di selatan Sahara, dan ini memang disengaja.

Kekeringan yang melanda Taman Nasional Kenya tahun ini

Kekeringan yang melanda Taman Nasional Kenya tahun ini

Masalah-masalah yang dihadapi negara-negara berkembang memang hendak ditonjolkan, berhubung negara-negara termiskinlah yang paling merasakan dampak perubahan iklim. Padahal penyebab pemanasan bumi adalah negara-negara industri di belahan utara bumi. Tetapi kalau negara-negara berkembang tidak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan iklim, maka segala upaya untuk memberantas kemiskinan di dunia, pasti akan gagal.

Para petani di sekitar Nairobi menghadapi masalah baru, karena tidak terdapat lagi rumput dan air yang cukup bagi ternak sapi mereka. Hal yang sama juga dialami oleh para petani di utara Ethiopia. Mereka harus menggali alur sungai yang kering sedalam dua meter untuk memperoleh air. Masalahnya siklus hujan sudah berubah, sebagai salah satu dampak perubahan iklim global. Padahal itu bukan salah para petani di sana.

Di Nairobi, Sekjen PBB Kofi Annan merumuskannya dengan tepat: "Dampak perubahan iklim memukul negara-negara miskin dunia, terutama di Afrika. Mereka yang miskin berada di front terdepan menghadapi pencemaran lingkungan, bencana alam dan lenyapnya sumber daya alam dan tanah. Banjir di Mozambique, kekeringan di Zona-Sahel dan di Kenya masih segar dalam ingatan. Penyesuaian diri dengan perubahan yang terjadi merupakan prasyarat untuk dapat bertahan hidup. Semua masalah ini harus dianggap lebih penting dan risiko perubahan iklim harus diikutkan dalam strategi serta program yang dijalankan, bila kita hendak mencapai tujuan Millenium."

Tujuan Millenium itu adalah mengurangi angka kemiskinan sampai separuhnya di tahun 2015 nanti. Tetapi kemungkinan itu tidak akan tercapai bila negara-negara berkembang tidak berhasil mengatasi dampak perubahan iklim. Dalam hal ini negara-negara kaya sepatutnya memberikan bantuan. Dengan langkah yang jelas dan tentunya juga dengan uang.

Achim Steiner, direktur program lingkungan PBB mengemukakan: "Uang tentu memainkan peranan, terutama bila seluruh sistem perekonomian harus disesuaikan. Konferensi ini terutama hendak mengupayakan strategi, mengenai cara hidup di dunia, di mana perubahan iklim merupakan realita. Dalam puluhan tahun mendatang, Afrika harus mengeluarkan dana milyaran untuk menyesuaikan bendungan, sistem perairan dan sistem kesehatannya dengan lingkungan yang berubah. Padahal yang menyebabkan perubahan adalah negara-negara industri. Kita harus menyediakan dananya, karena ini merupakan tantangan moral sekaligus tantangan untuk mewujudkannya."

Contohnya, emisi CO2 di Kenya berkisar pada 60 kg per orang. Sedangkan di AS 20 ton. Namun Achim Steiner juga mengimbau dilakukannya langkah-langkah kecil, bukan hanya proyek-proyek yang bombastis. Misalnya proyek "Rainwater Harvesting", yang sebenarnya hanya mengumpulkan air hujan selama musim hujan. Hal mana bisa berfungsi di gubuk sekecil apa pun, bila ada yang membiayainya.

Sedangkan Menteri Lingkungan Jerman Sigmar Gabriel punya usul lain: "Jerman hendak mengambil inisiatif untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan di pedesaan Afrika, demi terjaminnya pelayanan energi yang berkesinambungan di masa depan. Transfer teknologi ini dapat membantu 1,6 milyar manusia di dunia yang tidak terjangkau jaringan listrik untuk memperolehnya. Jerman bertekad untuk bekerja sama, agar hal ini segera menjadi kenyataan."

Di Nairobi semakin jelaslah, bahwa perubahan iklim bukan hanya sekedar risiko, melainkan juga tantangan, sekaligus peluang besar, bila negara kaya dan negara miskin saling bertemu.