Perubahan Iklim. Ancaman bagi Perdamaian Dunia | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 17.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Perubahan Iklim. Ancaman bagi Perdamaian Dunia

Akhirnya perubahan iklim menjadi salah satu tema yang dibicarakan dalam Dewan Keamanan PBB. Inggris yang saat ini mengepalai badan tertinggi dunia itu akan memimpin diskusi.

Untuk pertama kalinya Dewan Keamanan PBB mendiskusikan masalah perubahan iklim. Biar bagaimanapun, menurut Piagam PBB, Dewan Keamanan bertanggungjawab untuk menjaga perdamaian dunia. Terutama Inggris, yang sekarang menjadi pemimpin Dewan Keamanan, menekankan pentingnya pembahasan masalah ini. Bagi negara itu, dampak perubahan iklim sangat besar, sehingga Menteri Luar Negeri Margret Beckett akan memimpin sendiri diskusi.

Cita-Cita Inggris

Inggris sendiri memiliki rencana besar menyangkut iklim. Maret lalu pemerintah Inggris sudah merumuskan rancangan undang-undang yang menetapkan, bahwa emisi gas rumah kaca hingga 2020 akan diturunkan sebanyak 26% hingga mencapai 32%. Sampai 2050 emisi gas rumah kaca bahkan hendak dikurangi 60%.

Perdana Menteri Tony Blair menilai ini langkah revolusioner dalam menghadapi ancaman perubahan iklim. Ini dapat menjadi contoh bagi negara-negara lain, dan menurutnya cita-cita itu juga sesuai dengan keinginan rakyat Inggris untuk memimpin dunia dalam masalah tersebut.

Dampak Perubahan Iklim

Di waktu lalu mantan Sekretaris Jenderal PBB, Kofi Annan sudah pernah menyatakan kekhawatirannya, bahwa perubahan iklim dapat mengancam perdamaian dunia. Hal sama juga sudah pernah dilontarkan penggantinya, Ban Ki Moon.

Jika suhu terus meningkat hingga es di kutub meleleh, maka permukaan air di dunia akan tambah tinggi. Jika itu terjadi kepulauan Maladewa bisa lenyap dari muka bumi. Selain itu, gelombang suhu panas, banjir, topan dan musim kering yang panjang dapat menjadi dampak pemanasan global. Demikian hasil penelitian PBB.

Masalah Besar di Abad 21

Akibat lanjutannya adalah pertikaian tentang perbatasan, perebutan air bersih dan tanah yang subur, krisis kemanusiaan, serta imigrasi jutaan orang. Perubahan iklim adalah tantangan besar abad ke 21. Sejumlah besar konflik mengancam. Stabilitas sejumlah negara bisa goyah, misalnya jika orang-orang dari wilayah yang dekat dengan permukaan laut terpaksa pindah ke dataran tinggi. Demikian dikatakan Duta Besar Inggris di PBB, Emyr Jones-Parry.

Inggris membawa tema ini ke depan dewan PBB yang tertinggi dan berharap agar ancaman besar dari perubahan iklim tersebut dapat menjadi fokus tindakan masyarakat internasional. Namun demikian, Cina dan Rusia yang menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB keberatan jika debat terbuka diadakan di Dewan Keamanan. Demikian keterangan dari kalangan diplomat. Sementara AS, yang tidak menandatangani Protokol Kyoto tentang pemanasan global tidak memprotes tema itu, yang menurut rencana kerja, akan dibicarakan Selasa ini (17/04).

Tujuan Diskusi dan Tindak Lanjutnya

Debat yang dipimpin Menteri Luar Negeri Inggris, Margret Beckett akan berkisar pada pertanyaan, apa risiko perubahan iklim bagi perdamaian dan keamanan. Selain itu akan dibicarakan, apa yang dapat dilakukan Dewan Keamanan untuk menghidari konflik serta bagaimana badan dunia itu dapat menolong negara yang paling menderita karena perubahan iklim.

Tetapi resolusi PBB kemungkinan besar tidak akan dikeluarkan. Juni mendatang hal itu juga akan didiskusikan Sekretaris Jenderal Ban Ki Moon dengan politisi dari negara-negara industri maju, dalam KTT G8 di Jerman. (ml)

  • Tanggal 17.04.2007
  • Penulis Martina Buttler
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CP75
  • Tanggal 17.04.2007
  • Penulis Martina Buttler
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CP75
Iklan