Pertemuan Menteri Pertahanan UE Hindari Bahas Sengketa Atom Iran | dunia | DW | 04.10.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pertemuan Menteri Pertahanan UE Hindari Bahas Sengketa Atom Iran

Sengketa atom Iran tak menjadi agenda pertemuan para menteri pertahanan Uni Eropa.

Bendera Uni Eropa di Markasnya di Brussel

Bendera Uni Eropa di Markasnya di Brussel

Padahal, di kancah internasional, program atom Iran tetap sengit diperdebatkan. Hanya Javier Solana, pejabat urusan luar negeri Uni Eropa yang menyentuh tema kontroversial itu.

Di sela-sela pertemuan menteri pertahanan Uni Eropa di Finlandia, Solana mengatakan, sengketa atom Iran hanya dapat diselesaikan di tingkat internasional. Ia menilai, usul Iran untuk melakukan pengayaan uranium di bawah pengawasan Prancis, menarik. Namun, Solana menambahkan:

Javier Solana: "Ini tidak akan muncul sebagai inisiatif Prancis Iran. Tapi, usul ini akan diangkat bila perundingan kembali dilanjutkan antara tim perunding dan Iran.“

Menurut Solana, usul Iran harus dianalisa secara mendalam. Itu sudah disampaikan Solana kepada juru runding Iran Ali Larijani dalam pembicaraan yang dinilainya cukup konstruktif. Solana mengaku, masih ada sejumlah hal yang harus dibahas.

Pembicaraan antara Solana dan Larijani akan dilanjutkan. Agenda terpenting dalam pertemuan para menteri pertahanan Uni Eropa adalah misi Kongo. Dalam pertemuan di Finlandia, para menteri merundingkan kemungkinan misi Eropa di Kongo diperpanjang. Di akhir pertemuan, Menteri Pertahanan Finlandia Seppo Kääriäinen merangkum hasil perundingan sebagai berikut:

Seppo Kääriäinen: „Misi EUFOR sukses dan terbukti sangat berguna dalam persiapan untuk menghadapi tantangan yang masih akan muncul bagi Republik Demokratik Kongo.“

Pertanyaannya sekarang apakah misi Eropa di Kongo akan diperpanjang atau tidak. Menteri Pertahanan Jerman Franz Josef Jung secara tegas menolak perpanjangan mandat misi Kongo yang akan berakhir 30 November mendatang.

Hal serupa terdengar dari kalangan delegasi Spanyol dan Belanda. Sementara pejabat urusan luar negeri Uni Eropa Javier Solana berpendapat, tidak ada alasan untuk mengundur tanggal penarikan pasukan Eropa dari Kongo. Ia yakin bahwa hasil pemilihan penentuan presiden tanggal 29 Oktober mendatang akan diterima semua pihak.

Javier Solana: „Saya tidak melihat adanya alasan, situasi saat ini akan berubah. Tapi, tentu saja, setiap organisasi harus memikirkan skenario terburuk.”

Selain itu, para menteri pertahanan berdiskusi soal mandat pasukan Uni Eropa di Libanon. Pasukan Uni Eropa bertugas untuk memperkuat aparat keamanan dan instansi hukum di Libanon sebagai bagian misi Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Para menteri Uni Eropa juga memutuskan untuk mengurangi jumlah pasukan perdamaian berkekuatan 6.000 orang di Bosnia-Herzegowina. Menteri pertahanan Jerman Franz Josef Jung mengusulkan bulan Dezember sebagai titik awal pengurangan pasukan Eropa.

Namun, jadwal penarikan ini tergantung pada perkembangan situasi di Kosovo yang masih kritis. Selain itu, menteri pertahanan Uni Eropa menyepakati dokumen strategi prioritas militer Eropa dalam dua dasawarsa mendatang. Isi dokumen tersebut adalah kesepakatan bahwa di masa depan angkatan bersenjata negara Eropa akan dirampingkan agar lebih mudah bergerak dan lebih fokus pada misi perdamaian.

Iklan