Pertemuan Menteri Luar Negeri NATO di Brussel | dunia | DW | 26.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pertemuan Menteri Luar Negeri NATO di Brussel

Untuk menghadapi kondisi yang semakin rawan di Afghanistan, negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) akan menambah dana dan pasukan.

Pesawat tempur Jerman Tornado

Pesawat tempur Jerman Tornado

Dalam pertemuan para menteri luar negeri

Untuk dua tahun mendatang akan disediakan dana sebesar 10,6 milyar Dollar dan masa tugas untuk 3.200 tentara diperpanjang selama empat bulan, demikian dikemukakan Menlu Amerika Serikat Condoleezza Rice. Ia juga menuntut keterlibatan lebih besar dari negara-negara NATO lainnya bagi pembangunan kembali, pengembangan dan upaya penangulangan bisnis narkotika di Afghanistan. Selain itu diperlukan tentara tambahan yang siap tempur, demikian dikatakan Rice selanjutnya. Tetapi rincian mengenainya baru akan dibicarakan oleh para menteri pertahanan dalam waktu dua minggu lagi.

Tawaran yang datang dari Washington menjelang Konferensi NATO, merupakan saat yang dipilih dengan seksama. Kondisi keamanan di Afghanistan boleh dikatakan kritis. Dalam musim semi mendatang diperkirakan Taliban akan melancarkan serangan baru. Dan negara-negara NATO di Eropa sedang meresahkan, kalau-kalau AS akan melalaikan misi di Afghanistan demi kepentingan Irak.

Pada saat bersamaan, Presiden Bush meminta dana lebih dari 10 milyar Dollar pada Kongres untuk dua tahun ke depan. Sebagian kecilnya untuk proyek-proyek pembangunan sipil dan porsi yang lebih besar untuk pembinaan tentara dan polisi di Afghanistan. Selain itu sekitar 3.000 tentara yang semula akan ditarik, diperpanjang masa tugasnya beberapa bulan lagi di Afghanistan.

Dengan tawaran tersebut, Menlu Condoleezza Rice menekan para pengritik di Eropa. Pertemuan di Brussel memang ditandaskan bukan untuk memberikan janji konkrit bagi penambahan pasukan dan bantuan keuangan, tetapi dalam minggu-minggu mendatang pastilah akan datang permintaan balas jasa yang sepadan. Sekjen NATO Jaap de Hoop Scheffer membuat rangkuman: "Sudah banyak yang dicapai di Afghanistan. Lihat saja posisi negara itu tahun 2001 dan awal 2007 sekarang ini. Tetapi harus ditekankan, ini merupakan komitmen dunia internasional untuk jangka panjang. Dan untuk mewujudkannya diperlukan peranan menyeluruh."

Yang dimaksudkan adalah peranan terpadu antara pihak militer dan sipil, antara NATO dan organisasi-organisasi lainnya seperti Perserikatan Bangsa Bangsa dan Bank Dunia, termasuk juga Uni Eropa.

Khusus menyangkut Jerman, NATO tetap menginginkan penugasan pesawat pengintai "Tornado" di selatan Afghanistan. Suatu hal yang menjadi bahan pertikaian di Jerman. Jaap de Hoop Scheffer tidak hendak mendesak pemerintah di Berlin, tetapi pesan yang disampaikannya cukup jelas: "Keputusan, seratus persen ada di tangan Jerman. Penugasan pesawat Tornado tentu diinginkan. Tiap kontribusi di Afghanistan disambut baik, dan pesawat pengintai memang diperlukan."

Untuk misi kedua terbesar NATO setelah Afghanistan, yaitu Kosovo, ada dua pesan yang jelas. Menurut sekjen NATO, aliansi militer ini siap menghadapi kemungkinan terjadinya kerusuhan. Di sana pun NATO tetap hendak memainkan peranan jangka panjang, walaupun tanggungjawab utama secepatnya akan diserahkan ke tangan Uni Eropa.

Iklan