Pertemuan Menlu Negara G8 di Potsdam Berakhir | Fokus | DW | 30.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Pertemuan Menlu Negara G8 di Potsdam Berakhir

Para menteri luar negeri G8 mengadakan perembukan di Potsdam hari Rabu kemarin (30/05) untuk mempersiapkan pertemuan puncak di Heiligendamm pekan depan. Agenda pembicaraan mencakupi situasi di Timur Tengah, status Kosovo dan program atom Iran.

Para Menlu G8 di Potsdam

Para Menlu G8 di Potsdam

Agenda pertemuan para menteri luar negeri G8 di Potsdam hari Rabu kemarin cukup padat. Topik yang termasuk dalam pembicaraan adalah tentang keamanan Afghanistan yang belum juga berkembang seperti yang diharapkan oleh para menteri luar negeri G8. Untuk kepentingan itu, Menteri Luar Negeri Jerman Frank Walter-Steinmeier mengundang rekan sejabatnya dari Afghanistan dan Pakistan ke Potsdam. Saat ini hubungan antara kedua negara tetangga itu sangat dingin. Keduanya saling tuduh, tidak cukup bertindak melawan Taliban. Seusai pertemuan itu, Menteri Luar Negeri Afghanistan Rangeen Dadfar Spanta mengatakan bahwa konsensus internasional mengenai masa depan negaranya tidak memadai:

“Sebenarnya yang kami perlukan adalah konsensus regional. Negara-negara tetangga Afghanistan harus meningkatkan kerjasama. Saya gembira karena di Potsdam kami telah meletakkan fundamen bagi kerjasama regional.“

Menteri Luar Negeri Pakistan Khurshid Kasuri juga menekankan, stabilitas Afghanistan dan pemulangan pengungsi sangat penting bagi pemerintahannya. Meskipun Kasuri dan Spanta memuji perembukan yang dilaksanakan, namun sikap dingin antara mereka terlihat jelas.

Dalam pertemuan di Potsdam itu, tidak tercapai kemajuan mengenai masalah Kosovo. Rusia menentang upaya kemerdekaan bertahap dari Kosovo yang merupakan provinsi Serbia itu. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergej Lavrov:

„Dalam masalah ini posisi kami pada dasarnya berlawanan. Saya tidak melihat adanya peluang untuk pendekatan. Mitra barat kami menilai bahwa kemerdekaan Kosovo dalam waktu deka tidak terhindarkan dan mereka tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Sedangkan kami yakin: krisis semacam itu hanya dapat diselesaikan melalui persetujuan negara yang bersangkutan.”

Negara yang dimaksudkan Lavrov adalah Serbia dan dia juga menegaskan, Rusia tidak akan menyetujui kemerdekaan Kosovo jika Serbia tidak menghendakinya. Sementara Amerika Serikat dan Uni Eropa dalam hal ini bersikap sebaliknya. Demikian diungkapkan Menteri Luar Negeri Jerman Steinmeier.

Mengenai soal sistem penangkis peluru kendali juga tidak terdapat pendekatan. Untuk kesekian kalinya, Menteri Luar negeri AS Condoleezza Rice menekankan bahwa penangkis rudal AS yang direncanakan dibangun di Eropa Timur tidak ditujukan kepada Rusia dan tidak akan mengurangi daya tahan penangkis rudal Rusia:

„Bukankah Presiden Putin baru saja mengatakan, rudal Rusia dapat mengalahkan dan menghancurkan sistem pertahanan rudal AS? Kami setuju."

Selanjutnya Lavrov dan Rice mengemukakan, Presiden Rusia Putin dan Presiden AS George W. Bush akan bertemu di Amerika Serikat awal Juli mendatang guna membicarakan semua tema yang tidak terselesaikan di Heiligendamm.