Pertemuan Menlu G-8 di Moskow | Fokus | DW | 30.06.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Pertemuan Menlu G-8 di Moskow

Menteri luar negeri dari negara G-8 sangat cemas dengan perkembangan yang terjadi di Timur Tengah belakangan ini. Mereka menghimbau Israel untuk menahan diri, karena seharusnya warga sipil tidak dilibatkan dalam konflik.

Menlu G-8 Menghadiri Pertemuan di Moskau

Menlu G-8 Menghadiri Pertemuan di Moskau

Mewakili rekan-rekannya Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Condolezza Rice mengatakan, Palestina hendaknya membebaskan tentara Israel yang diculiknya dan mengakhiri segala aksi kekerasan. Selain itu, Rice menuntut kedua pihak yang bertikai untuk kembali pada proses perdamaian.

Tema lain yang dibahas dalam pertemuan menteri G-8 di Moskow adalah program atom Iran yang dipersengketakan. Sebelumnya Rusia memperingatkan, desakan kelima anggota Dewan Keamanan PBB ditambah Jerman, agar Iran segera menghentikan program atomnya, dapat berdampak negatif. Menanggapi hal ini Sehubungan dengan tema ini Condolezza Rice mengutarakan:

„Kami mengharapkan, Iran akan memberikan jawaban yang serius. Javier Solana dan Ali Laridschani akan bertemu tanggal 5 Juli mendatang. Setelah itu, kami baru dapat menentukan dimana posisi kami. Namun, Anda akan dapat melihat, bahwa pernyataan kami merupakan refleksi kekecewaan kami, dimana sampai saat ini kami belum mendapat jawaban atas tawaran, yang menurut kami cukup menguntungkan Iran.“

Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier juga menyampaikan ketidakpuasaannya atas sikap Iran yang terus mengulur waktu untuk memberikan jawaban. Hal ini tidak dapat diterima. Demikian dikatakan Steinmeier.

Menjelang pertemuan puncak G-8 bulan Juli mendatang, situasi politik dalam negeri antara lain situasi di Chechnya tampaknya tidak akan dibahas. Steinmeier menyatakan, dalam langkah menuju demokrasi, Rusia mencatat kemajuan besar. Akan tetapi, rekannya dari Amerika Serikat Condolezza Rice mengutarakan kebalikannya. Ia ragu dengan proses demokrasi yang dilancarkan Rusia terutama cara negara itu menghadapi lembaga-lembaga non-pemerintahan dan bagaimana Rusia menyikapi kebebasan pers.

Masalah minyak juga merupakan fokus pembahasan dalam pertemuan ini. Tuan rumah Rusia, yang diwakili menteri luar negerinya Serjei Lavrov mengutarakan:

„Komitmen pengamanan pasokan minyak bumi diprakarsai oleh Rusia, yang nantinya akan dibawa dalam pertemuan puncak negara G-8. Boleh dikatakan, dokumennya sudah selesai dibuat.“

Sebaliknya, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Condolezza Rice sebelumnya mengutarakan, sejumlah negara yang tergantung dari minyak dan gas Rusia, khawatir dengan cara penyuplaiannya karena selama ini tidak dapat diandalkan. Rice mengatakan:

„Harus ada jaminannya, dan itu tanpa adanya motif yang bersifat politik, melainkan lebih berpatokan pada pasar energi dunia.“