Pertemuan Menhan NATO di Spanyol | Fokus | DW | 09.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Pertemuan Menhan NATO di Spanyol

Para menteri pertahanan NATO mengadakan perundingan di Sevilla, Spanyol selatan guna merembukkan strategi masa depan Afghanistan.

Agenda pembicaraan dari pertemuan ke-26 negara anggota pakta pertahanan Atlantik Utara tersebut adalah serangan Taliban yang diduga dilancarkan awal tahun ini. Menjelang pertemuan itu, Amerika Serikat kembali mendesak negara sekutunya di NATO untuk meningkatkan keterlibatan mereka di Afghanistan. Berikut laporan selengkapnya, disampaikan oleh Asril Ridwan.

Milisi islam radikal Taliban di Afghanistan telah menyatakan akan melancarkan serangan pada musim semi mendatang di negara tersebut. Kini NATO hendak mengantisipasi rencana itu secara masif. Menteri Pertahan Amerika Serikat Robert Gates mengatakan, NATO harus melaksanakan operasi militer semaksimal mungkin untuk mengakhiri ancaman di Afghanistan, terutama di bagian selatan dan timur. Menteri Pertahan Jerman Franz Josef Jung sependapat dengan Gates. Jung mengatakan, Taliban menyatakan akan melancarkan ofensif dengan 2. 000 pelaku serangan bunuh diri. Jika kita bertanggung jawab atas keamanan, maka kita juga harus siap menghadapi serangan itu. Dalam hal ini NATO juga harus siap, agar pembangunan kembali dapat dilaksanakan dalam situasi keamanan yang stabil.

Namun, ke-26 menteri NATO masih belum menemui kesepakatan dalam masalah apakah pasukan ISAF dengan 33. 000 personelnya mampu untuk melancarkan ofensif di musim semi ini. Sekretaris Jenderal NATO Jaap de Hoop Scheffer sekali lagi menuntut dari para menteri untuk menepati janjinya menyediakan pasukan dan menghapuskan pembatasan operasi militernya.

Canada, Inggris, Denmark dan Belanda yang bertugas di daerah pertempuran di Afghanistan selatan, mengeritik tentara Jerman Bundeswehr yang hanya diijinkan bertugas di utara yang merupakan daerah yang lebih aman. Menteri Pertahanan Jerman, Jung mengatakan bahwa diperlukan suatu strategi kunci untuk mengorganisir pembangunan kembali di Afghanistan selatan. Dia menambahkan, saya pikir, tidak hanya sarana militer yang paling penting untuk dibicarakan, melainkan bagaimana kita mengaitkan segi keamanan dengan pembangunan kembali. Ketika Rusia di Afghanistan, mereka menempatkan 100. 000 tentara, tetapi mereka gagal. Kami bukan penjajah melainkan pembebas Afghanistan. Kami di sana untuk menolong rakyat dan kami harus berupaya agar rakyat berdiri di pihak kami.

Di Selvilla, Menteri Pertahanan Jerman Jung mengutarakan kepada mitra NATO-nya, Jerman kemungkinan akan menyediakan enam pesawat pengintai Tornado yang diminta, April mendatang. Jung juga mengemukakan, data Tornado mungkin hanya diberikan untuk tujuan tertentu saja. Ini merupakan sesuatu yang tidak dapat dimengerti oleh negara NATO lainnya.

Menteri Pertahanan Denmark Sören Gade menuntut pasukan Gerak Cepat NATO NRF yang terdiri dari 20. 000 personel. Namun usul ini ditentang oleh Jung, karena pasukan itu tidak dibentuk untuk misi di Afghanistan. Sedangkan Panglima NATO, Jenderal AS John Craddock menyatakan kekurangan 2. 000 tentara untuk Afghanistan, dan juga tidak cukup helikopter dan pesawat transpor. Wakil Sekretaris Jenderal NATO, John Colston mengatakan bahwa dia tidak akan mengemis-ngemis kepada negara anggota NATO tetapi mengharapkan agar usulan Jenderal Craddock dipertimbangkan secara serius dan negara anggota NATO menunjukkan rasa tanggung jawabnya.