Pertemuan Kuartet Timur Tengah | Fokus | DW | 03.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Pertemuan Kuartet Timur Tengah

Para menlu AS, Rusia, Sekjen PBB dan pejabat urusan luar negeri UE kemarin telah bertemu di Washington untuk menghidupkan kembali proses perdamaian di Timur Tengah.

Pertemuan itu dihadiri pula oleh menlu Jerman Frank-Walter Steinmeier yang saat ini memimpin Dewan Menteri UE.

Harapan yang ditumpu pada pertemuan itu cukup tinggi. Ini diakui pula oleh Frank Walter Steinmeier. Hanya saja para peserta pertemuan tentunya tidak dapat menekan tombol yang bisa mengubah situasi dalam sekejap. Itu disadari oleh semua yang hadir. Tetapi pertemuan kuartet Timur Tengah itu sangat penting, terutama sehubungan dengan kekerasan yang terus berlanjut di Timur Tengah. Menurut Steinmeier: "Perlu dipikirkan bagaimana bentuk proses yang kini dihadapi, dan sejauh mana itu akan berhasil. Situasinya memperlihatkan pula tanggung jawab yang dipikul oleh dunia internasional untuk membantu kawasan itu. Dan dengan keinginan kuat membantu pembicaraan yang telah dimulai antara PM Olmert dan Presiden Abbas."

Tetapi pertemuan Kuartet Timur Tengah tidak membawa hasil konkrit. Dalam pernyataan yang dikemukakan oleh Sekjen PBB Ban Ki-Moon hanya ditegaskan lagi semua yang sudah diketahui. Dan yang ditandaskan bukan lagi jalan yang hendak dilalui, melainkan tujuannya. Yaitu bahwa pada akhir proses perdamaian hendaknya terdapat dua negara berdaulat yang hidup saling berdampingan. Ini merupakan isyarat kepada Israel, bahwa itu tidak mungkin terwujud tanpa kompromi teritorial. Dan kepada Palestina dilancarkan pesan: "Kuartet Timur Tengah mengharapkan dukungan Palestina yang bersatu bagi pemerintahan yang anti kekerasan, mengakui eksistensi Israel dan menaati kesepakatan yang sudah dijalin. Termasuk peta perdamaian Roadmap."

Tujuan itulah yang harus dicapai. Dalam waktu singkat menlu AS Condoleezza Rice akan hadir dalam pembicaraan antara Olmert dan Abbas. Sesudahnya Kuartet Timur Tengah akan bertemu kembali. Dan tempat pertemuan ditetapkan di Berlin. Selain itu disepakati pula pertemuan-pertemuan selanjutnya. Menlu Steinmeier mengemukakan pula tentang kelompok kerja di tingkat menteri. Tetapi di Washington tidak ditetapkan jadwal yang konkrit.
Ketika disinggung peranan Suriah dalam proses perdamaian Timur Tengah, menlu Rusia, Sergej Lavrov mengemukakan bahwa Suriah dapat memainkan peranan penting. Tetapi menlu AS Condoleezza Rice menanggapinya dengan mengatakan bahwa konflik antara Israel dan Palestina adalah terutama konflik antara kedua pihak. Selanjutnya ia mengatakan: "Dan bila semua sepakat, bila semua memberikan kontribusinya untuk mengakhiri konflik antara Israel dan Palestina, maka yang diperlukan bukanlah perantara, melainkan sebanyak mungkin bantuan."