Pertemuan Kerja Konvensi Perubahan Iklim PBB di Bonn | dunia | DW | 08.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pertemuan Kerja Konvensi Perubahan Iklim PBB di Bonn

Sekitar 200 ahli bertemu di Bonn untuk mempersiapkan Konfrensi Tingkat Tinggi Iklim PBB di Bali Desember mendatang.

Dalam konfrensi ini tidak akan muncul para politisi terkemuka dan tidak akan ada pengumuman dengan maksud tertentu. Konfrensi kerja konvensi perubahan iklim PBB selama dua minggu ini bertujuan untuk mengorganisir satu hal yang telah disepakati kebanyakan negara, yaitu untuk membendung perubahan iklim. Dalam pertemuan tingkat tinggi tentang perubahan iklim di Nairobi tahun 2006 telah diputuskan, bahwa harus disediakan dana untuk mengurangi pengaruh perubahan iklim yang semakin jelas terlihat. Sekertaris eksekutif konvensi perubahan iklim ini, Yvo de Boer, mengungkapkan satu tema yang menjadi semakin penting:

„Ini merupakan suatu area yang semakin mendapatkan perhatian lebih. Sebagian, karena orang-orang semakin sadar terhadap dampak dari perubahan iklim, dan sebagian juga karena negara-negara sadar, bahwa mereka akan menghadapi konsekuensi perubahan iklim, juga walaupun diambil tindakan darurat. Juga banyak yang sadar, bahwa justru negara-negara termiskin lah yang paling terkena dampak perubahan iklim.”

Dampak perubahan iklim akan terutama jelas dirasakan di Afrika. Disana padang pasir menjadi semakin luas, hujan antara berhenti sama sekali atau menyebabkan banjir besar, air tawar manjadi semakin langka. Dana sejumlah sekitar 400 juta US-Dollar disediakan untuk membiayai proyek-proyek selama lima tahun kedepan, yang diharapkan akan membantu negara-negara yang terkena dampak perubahan iklim. Dalam konfrensi kerja di Bonn ini akan dibicarakan tentang siapa yang berhak mendapatkan uang dari dana penyesuaian ini, bagaimana penyebaran proritasnya dan siapa yang akan mengorganisir pendistribusiannya.

Sebuah aspek lain, yang juga menjadi topik bahasan para ahli, adalah penggundulan hutan di negara-negara berkembang. Penggundulan hutan yang berkelanjutan ini sendiri bertanggung jawab atas seperempat efek rumah kaca yang disebabkan oleh manusia. Sudah jelas bahwa hal ini harus dihalangi, tetapi belum jelas bagaimana hal ini dapat dilakukan. Yvo de Boer:

„Apakah harus diciptakan mekanisme terpisah, yang memberikan insentif kepada negara-negara berkembang agar mereka bereaksi terhadap penggundulan hutan, tanpa memberikan sertifikat emisi kepada pihak yang membiayai mekanisme ini? atau haruskah kita menyerahkan masalah penggundulan ini kepada komisi hak emisi? Kalau begitu akan ada kemungkinan untuk menyisihkan uang dengan tujuan menghindari penggundulan hutan.“

Sebaliknya perusahaan yang membayar dapat mendapatkan sertifikat emisi, sehingga mereka dapat menghindari penggundulan hutan di negara-negara berkembang.

Tetapi bukan hanya membendung perubahan iklim saja yang dianggap penting bagi negara-negara berkembang, mereka terutama menaruh fokus pada transfer teknologi, agar dapat merancang industrialisasi yang ramah lingkungan dan berkesinambungan. Di Bonn para ahli berdiskusi tentang peran yang harus dimainkan PBB dimasa depan dan bagaimana transfer teknologi dapat dirangsang dan diarahkan.

Fokus lain yang dibicarakan di Bonn adalah laporan iklim dunia PBB ketiga, yang memeperingatkan akan bahaya bencana iklim, lepas dari semua usaha yang dilakukan. Dalam minggu kedua juga akan dibicarakan tentang Protokol Kyoto. Untuk ketiga kalinya kelompok kerja yang bertanggung jawab akan bertemu, untuk membicarakan tentang kelanjutan dari perjanjian perlindungan iklim ini setelah tahun 2012. (Tujuan jangka panjang adalah tetap mencoba menggerakkan Amerika Serikat, Cina dan India untuk menandatangani perjanjian tersebut.) Konfrensi Iklim tingkat Tinggi PBB akan dilangsungkan Desember mendatang di Bali.

Iklan