Pertemuan Iran-AS DImulai | Fokus | DW | 28.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Pertemuan Iran-AS DImulai

Untuk pertama kalinya dalam 30 tahun, dilangsungkan pertemuan resmi antara Amerika Serikat dan Iran. Agenda tunggalnya, keamanan Irak.

default

Dua negara yang bagaikan kucing dan anjing di pentas politik dunia itu memulai pertemuan bilateral mereka di bagdad, hari Senin ini.

Delegasi Amerika Serikat dipimpin duta besar di Irak yang baru Ryan Crocker. Sementara delegasi Iran dipimpin Hassan Kazemi Qomi. Keduanya mengawali upaya pencairan kebekuan dengan jabat tangan, di hadapan perdana menteri Irak Nouri Al Maliki. Pertemuan memang berlangsung di kantor perdana menteri.

Nouri al Maliki membuka pertemuan kedua delegasi, dengan menegaskan sikap pemerintahnya. Antara lain bahwa Irak masih membutuhkan kehadiran pasukan Amerika hingga pasukan Irak sendiri yang mendapat pelatihan, siap mengamankan negara. Juga bahwa Irak harus menjadi negara independen yang terbebas dari pengaruh negara-negara tetangganya di kawasan teluk. Namun ia juga menandaskan, Irak tidak akan pernah mengizinkan wilayahnya menjadi pangkalan suatu negara untuk menyerang negara lain.

Pertemuan Iran-AS di Bagdad secara tidak kebetulan pula diselimuti beberapa peristiwa tak sedap. Sehari sebelumnya, Iran menyatakan telah membongkar suatu jaringan mata-mata asing yang melibatkan Amerika. Sementara Amerika baru saja menyelenggarakan suatu latihan perang besar-besaran di Teluk Persia. Karenanya, kedua belah pihak sebetulnya tidak berharap yang muluk-muluk dari pertemuan ini.

Sebagaimana digambarkan duta besar dan pemimpin delegasi Amerika, Ryan Crooker, bahwa susah membayangkan tercapainya terobosan dari pertemuan itu. Yang lebih penting, katanya, ia akan mendesak pemerintah Iran untuk menghentikan segala bentuk dukungannya terhadap kaum perlawanan Irak, dan mengambil langkah-langkah nyata untuk memutuskan rantai kekerasan di Irak yang melibatkan milisi Shiah dukungan Iran.

Sebagaimana dikatakan sebelumnya oleh bekas duta besar Amerika di Irak, yang kini menjadi duta besar di PBB, Zalmay Khalilzad:

"Kita akan harus tunggu dan lihat, perubahan apa yang akan terjadi di lapangan. Dalam arti senjata yang diselundupkan melewati perbatasan, dukungan terhadap kelompok-kelompok perlawanan di irak, juga orang-orang yang berlalu lalang lintas perbatasan, dukungan terhadap milisi dan kelompok-kelompok bersenjata ilegal lainnya. Inilah masalah-masalah yang harus dibahas dan mendapat pemecahan. Karena inilah masalah-masalah yang terus dan terus terjadi selama ini."

Namun Iran sejak dini membantah tuduhan Amerika. Menurut Iran, akar kekerasan di irak adalah kehadiran tentara Amerika. Karenanya, Iran akan mendesak ditetapkannya jadual penarikan pasukan Amerika.

Di teheran, pemimpin spiritual Iran, Ayatullah Khamenei menyatakan, Iran bersedia melakukan pertemuan ini untuk mengingatkan Amerika sebagai tentara pendudukan di Irak, bahwa mereka memiliki kewajiban untuk memulihkan keamanan.

Hubungan diplomatik Amerika Serikat dan Iran putus sejak rezim mullah mengambil alih kekuasaan, menggulingkan Shah Reza Pahlevi, tahun 1979. Memang terjadi beberapa kali pertemuan antar pejabat menengah kedua negara. Namun tidak resmi. Dan pemerintah presiden George Bush sempat melontarkan sikap tegas, bahwa Amerika tidak akan pernah berbicara dengan Iran serta Suriah, yang disebutnya sebagai bagain dari Poros Setan bersama Korea Utara. Namun keamanan di Irak yang makin kacau, membuat pemerintah Bush berubah pikiran. Karena bagaimanapun Iran adalah pemain penting di kawasan Teluk Persia.