Pertemuan Informal Menteri Luar Negeri UE di Finlandia | Fokus | DW | 02.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Pertemuan Informal Menteri Luar Negeri UE di Finlandia

Proses perdamaian Timur Tengah dan sengketa atom Iran adalah tema yang mendominasi pembicaraan pertemuan informal para menteri luar negeri Uni Eropa di Finlandia.

Menlu Finlandia Tuomioja (kiri) dan Menlu Jerman Steinmeier (kanan).

Menlu Finlandia Tuomioja (kiri) dan Menlu Jerman Steinmeier (kanan).

Selama enam jam para menteri mengadakan perembukan di kawasan sepi dekat perbatasan Finlandia-Rusia, jauh dari kehidupan sehari-hari di wilayah Timur Tengah yang sedang bergolak.

Yang diacu adalah sesuatu yang sudah dikenal, yakni rencana perdamaian internasional „Road Map“ yang membidik dua negara berdaulat, yakni Israel dan Palestina. Rencana lain tidak ada, kata tuan tumah pertemuan informal para menteri luar negeri Uni Eropa, Menteri Luar Negeri Finlandia, Erkki Tuomioja. Dia mengatakan:

Tuomioja: „Kita tidak harus menemukan sesuatu yang baru. Kita punya Road Map dan semua unsur yang diperlukan untuk perdamaian permanen. Masalahnya hanyalah, bagaimana kita mencapainya. Uni Eropa bersedia membantu.“

Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier mengatakan, pertemuan para menteri luar negeri tersebut sepakat terutama dalam satu target:

Steinmeier: „ Semua pembicara menyatakan, kami harus mencoba untuk kembali ke proses perdamaian Timur Tengah.“

Namun, bagaimana wujud dari tekad yang dicetuskan di Lappeenranta itu, masih belum jelas. Dikatakan bahwa Suriah harus dilibatkan. Juga dipertimbangkan kemungkinan untuk pembicaraan langsung dengan pemerintahan Hamas di wilayah Palestina. Namun, Hamas tercantum dalam daftar organisasi teroris. Selanjutnya dikatakan bahwa sebelum pembicaraan, Hamas harus mengakui Israel dan menghentikan kekerasan. Disebutkan bahwa jalan keluar mungkin dapat tercapai dengan melibatkan Hamas dalam pemerintahan koalisi besar yang harus dibentuk oleh Presiden Palestina Mahmud Abbas.

Menteri Luar Negeri Jerman, Frank Walter Steinmeier berharap bahwa dengan berakhirnya perang di Libanon, semua pihak akan tergerak untuk melakukan sesuatu. Steinmeier berbicara tentang krisis terbesar di Timur Tengah sejak sekian tahun yang membuat berbagai pihak terkejut, sehingga muncul keinginan untuk mengupayakan kembalinya proses perdamaian.

Kuartet fasilitator internasional untuk perdamaian Timur Tengah, yakni Amerika Serikat, PBB, Rusia dan Uni Eropa akan mengadakan pertemuan untuk menentukan langkah selanjutnya, di sela-sela Sidang Umum PBB di New York pada pertengahan September ini.

Sebelum Dewan Keamanan PBB kembali bersidang mengenai sengketa atom Iran, Uni Eropa akan melaksanakan langkah-langkah diplomatik. Pada hari-hari mendatang, komisaris luar negeri UE, Javier Solana akan mengadakan pembicaraan dengan juru runding Iran, Ali Laridjani. Solana mengatakan:

Solana: „Waktu yang tersisa, tidak tanpa batas. Karena itu saya harapkan, setelah pembicaraan mendatang kami akan cukup mengetahui untuk dapat memutuskan, apakah secara formal masih dapat diadakan perundingan atau tidak.”

Dewan Keamanan telah menawarkan Iran sebuah paket kompensasi agar Iran menghentikan kegiatan pengayaan uranium. Namun pemerintah di Teheran menyangkal hendak melaksanakan pembuatan senjata nuklir. Menurut laporan terakhir dari Badan Energi Atom Internasional IAEA, tidak didapatkan bukti pengayaan uranium untuk kepentingan perdamaian. Kamis yang lalu, batas waktu ultimatum DK telah berlalu. Hari Sabtu ini, Sekretaris Jenderal PBB, Kofi Annan akan mengadakan pembicaraan di Teheran.